Kanal24, Malang – Kecerdasan buatan (AI) semakin dekat dengan aktivitas mahasiswa, mulai dari mencari informasi, memahami materi, hingga mengembangkan ide. Di tengah kemudahan tersebut, kemampuan menggunakan AI secara bijak menjadi hal yang tidak kalah penting agar teknologi tetap menjadi alat bantu, bukan pengganti kemampuan berpikir manusia.
Pesan tersebut mengemuka dalam Google Gemini Campus Tour yang digelar di Lapangan Rektorat Universitas Brawijaya (UB), Kamis (3/9/2026). Kegiatan ini merupakan kolaborasi Universitas Brawijaya dengan Google Gemini untuk mengenalkan pemanfaatan AI sekaligus mendorong literasi AI di lingkungan kampus.
Baca juga:
KKN-T Unira Malang Abadikan Potensi Desa Lewat Film Dokumenter
Sekretaris Universitas Brawijaya, Dr. Tri Wahyu Nugroho, S.P., M.Si., mengatakan kegiatan tersebut menjadi kesempatan bagi sivitas akademika untuk mengetahui dan mengoptimalkan teknologi yang tersedia. Menurutnya, UB telah lama bermitra dengan Google sehingga pemanfaatan teknologi dapat terus dikembangkan untuk mendukung kebutuhan pendidikan.
Ia juga menyebut UB telah memiliki regulasi mengenai pemanfaatan AI dalam pendidikan.
AI Dipandang sebagai Tools untuk Mendukung Pembelajaran
Tri Wahyu menegaskan AI perlu dipahami sebagai alat bantu atau tools. Penggunaan teknologi tersebut, menurutnya, tidak seharusnya membuat mahasiswa meninggalkan kemampuan untuk memahami dan mengolah informasi secara mandiri.

“AI itu adalah tools. Itu perlu dipahami bersama. Itu dulu itu enggak beda sama kalkulator,” ujar Tri Wahyu.
Ia menjelaskan, perkembangan teknologi pada akhirnya akan membuat sejumlah alat yang sebelumnya dianggap baru menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Hal serupa dinilainya dapat terjadi pada AI.
Namun, penggunaan AI tetap perlu diimbangi dengan pemahaman terhadap substansi informasi yang dihasilkan. Sivitas akademika, khususnya dosen dan mahasiswa, tidak cukup hanya menerima hasil dari sebuah teknologi, tetapi juga harus memahami isi dan proses di balik penggunaannya.
Tri Wahyu berharap mahasiswa dapat memanfaatkan perkembangan AI untuk mempercepat pengembangan ilmu pengetahuan. Ia juga melihat AI memiliki peluang pemanfaatan di berbagai sektor kehidupan, tidak hanya dalam bidang teknologi informasi.
Menurutnya, anggapan bahwa AI akan membuat mahasiswa menjadi malas perlu diluruskan. Justru, teknologi tersebut dapat dimanfaatkan untuk membantu pekerjaan manusia dan mendukung pengembangan pengetahuan.
“Intinya teknologi akan membuat hidup lebih baik,” katanya.
Google Dorong Mahasiswa Lebih Bijak Menggunakan AI
Google Education Specialist, Arija Rose Wanodya, mengatakan Google Gemini Campus Tour ditujukan kepada mahasiswa, dosen, maupun sivitas akademika yang berada dalam ekosistem Universitas Brawijaya.

Salah satu tujuan kegiatan tersebut adalah mengenalkan literasi AI kepada pengguna. Arija mengatakan mahasiswa juga diperkenalkan pada perbedaan pemanfaatan Gemini menggunakan akun kampus dan akun Gmail.
“Di event Gemini Kampus ini kita mau ngenalin ke teman-teman mahasiswa maupun dosen siapapun lah yang ada di ekosistem dalam satu wilayah di Universitas Brawijaya Malang,” jelas Arija.
Selain mengenalkan fitur, Google juga ingin mendorong pengguna agar lebih bijak ketika memanfaatkan AI. Arija menekankan bahwa AI merupakan teknologi dan bukan manusia.
Karena itu, AI menurutnya tidak ditempatkan sebagai pengganti manusia. Teknologi tersebut lebih diarahkan sebagai alat yang dapat membantu proses belajar, mencari informasi, melakukan riset, hingga mengembangkan gagasan.
Arija menjelaskan, akun UB memiliki sejumlah fitur AI yang dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan generatif, riset, maupun alur kerja. Salah satu fitur yang dikenalkan adalah Deep Research yang dapat membantu mahasiswa ketika membutuhkan pencarian informasi secara lebih mendalam.
Untuk kebutuhan riset, Arija juga menjelaskan adanya Gemini LM yang memiliki mekanisme penyaringan sumber. Menurutnya, sumber tertentu yang tidak memenuhi kriteria untuk digunakan dapat ditolak oleh sistem.
Hal tersebut diharapkan dapat membantu pengguna mengurangi bias maupun halusinasi yang dapat muncul dalam penggunaan AI.
“Intinya diharapkan teman-teman mahasiswa ini bisa punya teman belajar sebenarnya, punya teman brainstorming untuk create something,” ujar Arija.
Mahasiswa Mulai Manfaatkan AI untuk Aktivitas Kuliah
Kehadiran Gemini Campus Tour juga menarik perhatian mahasiswa UB. Salah satunya Anas Tasya Br Singarimbun, mahasiswa Fakultas Vokasi UB.

Anas mengatakan ketertarikannya datang ke kegiatan tersebut berawal dari informasi mengenai akses Google Gemini yang dapat digunakan mahasiswa. Ia kemudian ingin mencoba langsung berbagai fitur yang tersedia.
“Di situ kan ada Google Gemini yang gratis untuk mahasiswa. Jadi, kayak aku penasaran untuk datang ke boothnya,” ungkap Anas.
Setelah mencoba langsung, salah satu fitur yang menarik perhatiannya adalah kemampuan Gemini untuk mengubah materi menjadi foto.
Pengalaman tersebut membuat Anas melihat adanya peluang penggunaan AI untuk membantu aktivitas perkuliahan. Salah satu materi yang menurutnya dapat dibantu menggunakan AI adalah manajemen risiko.
Pengalaman mahasiswa tersebut menunjukkan bahwa pengenalan AI di lingkungan kampus tidak berhenti pada pengetahuan mengenai teknologi. Mahasiswa juga mulai melihat kemungkinan penggunaan AI untuk mendukung kebutuhan belajar mereka.
Meski demikian, pesan yang disampaikan dalam kegiatan tersebut tetap menempatkan manusia sebagai pihak yang memegang kendali atas penggunaan teknologi.
Bagi UB, perkembangan AI perlu diikuti agar sivitas akademika tidak tertinggal. Namun, pemanfaatannya harus tetap disertai kemampuan memahami informasi dan substansi yang dihasilkan.
Melalui Google Gemini Campus Tour, mahasiswa mendapatkan kesempatan untuk mengenal teknologi AI secara langsung sekaligus memahami bahwa AI dapat digunakan sebagai tools dalam proses belajar, riset, dan pengembangan ide.
Pada akhirnya, tantangan mahasiswa bukan lagi sekadar mengenal AI, tetapi bagaimana menggunakan teknologi tersebut secara tepat tanpa kehilangan kemampuan berpikir kritis dan mandiri. (ern)












