Kanal24, Malang – Dalam momentum peringatan Hari Santri Nasional 2025, Universitas Brawijaya (UB) kembali menegaskan komitmennya sebagai perguruan tinggi yang tidak hanya mencetak insan akademik, tetapi juga pribadi berkarakter dan berakhlak. Melalui seminar bertema “Mengawal Indonesia Merdeka Menuju Peradaban Dunia” di Gedung Samantha Krida, Rektor UB, Prof. Widodo, S.Si., M.Si., Ph.D.Med.Sc., menegaskan bahwa semangat santri adalah fondasi penting untuk membangun bangsa yang beradab dan berpengetahuan.
“Untuk membangun peradaban, kita perlu pengetahuan, teknologi, dan moralitas,” ujar Prof. Widodo di hadapan ratusan peserta. “Kombinasi dari semua itu sebenarnya ada pada diri santri.”
Menurutnya, santri bukan sekadar mereka yang menimba ilmu di pesantren, tetapi setiap insan yang terus belajar, menjaga iman, dan berbuat untuk kebaikan sosial. “Santri adalah siapa pun yang belajar dengan hati dan menjadikan pengetahuan sebagai jalan ibadah,” tambahnya.

Prof. Widodo menekankan pentingnya membuka cara pandang baru bahwa konsep “santri” kini melampaui batas institusional pesantren. Dalam era teknologi dan globalisasi, santri juga harus memahami dunia digital, sains, dan ekonomi, agar dapat turut membangun peradaban dunia. “Potensi itu sudah ada pada mahasiswa kita. Tapi potensi tanpa aksi akan hilang. Mahasiswa UB harus mengolah ilmunya menjadi karya yang bermanfaat bagi masyarakat,” ujarnya tegas.
Baca juga : Hari Santri, UB Dorong Generasi Muda Menjadi Penjaga Peradaban
Nilai Santri sebagai Etika Akademik
Pemikiran senada disampaikan oleh Ilhamuddin, S.Psi., M.A., Kepala Subdirektorat Kewirausahaan Mahasiswa UB. Ia mengingatkan pentingnya memahami realitas pesantren secara terbuka. Banyak orang, katanya, hanya mengenal pesantren dari luar, tanpa memahami kedalaman nilai dan tradisi yang hidup di dalamnya.
“Di pesantren, kita tidak hanya belajar ilmu agama, tapi juga tentang kehidupan: menghargai guru, mengendalikan diri, dan berusaha menjadi manusia yang lebih baik setiap hari,” jelasnya.

Ilhamuddin menilai, kehidupan pesantren yang penuh disiplin, etika, dan kemandirian bisa menjadi inspirasi bagi dunia akademik. Ia mengajak seluruh civitas akademika UB untuk meneladani nilai-nilai santri—seperti kejujuran, kesederhanaan, dan semangat belajar tanpa henti—dalam menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi.
“Kalau di pesantren santri belajar untuk menjadi manusia yang bermanfaat, maka di kampus, mahasiswa juga santri dalam konteks keilmuan. UB adalah pesantrennya mahasiswa, dan dosen-dosen adalah para kiainya,” ujar Ilhamuddin.
Moderasi Beragama dan Kolaborasi Akademik
Sementara itu, Prof. Dr. Hamidah Nayati Utami, S.Sos., M.Si., Ketua Pelaksana Dies Natalis ke-63 UB, menegaskan bahwa kegiatan peringatan Hari Santri Nasional telah menjadi bagian dari rangkaian tahunan Dies UB. Ia menyebut, perayaan ini bukan hanya penghormatan terhadap sejarah, tetapi juga refleksi akademik untuk memperkuat karakter religius di kalangan mahasiswa.
“Santri dan pesantren punya peran besar dalam mencerdaskan bangsa. Nilai-nilai religius yang tumbuh di dalamnya perlu diintegrasikan ke dalam kehidupan kampus,” jelasnya.
Menurut Prof. Hamidah, kegiatan seperti seminar nasional, kompetisi mahasiswa, hingga konferensi internasional menjadi ruang penting untuk memperkuat kolaborasi antara perguruan tinggi dan pesantren. Tujuannya bukan sekadar mempererat hubungan kelembagaan, tetapi juga menumbuhkan moderasi beragama di tengah derasnya arus informasi digital.

“Mahasiswa sekarang hidup di era banjir informasi. Religiusitas menjadi saringan moral agar mereka tidak mudah terseret arus negatif,” ujarnya.
Ia menekankan, santri dan mahasiswa memiliki kesamaan semangat: menuntut ilmu untuk memperbaiki diri dan masyarakat. Dengan menanamkan nilai religius dan etika santri, perguruan tinggi seperti UB diharapkan mampu mencetak generasi intelektual yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga kuat secara spiritual.
Peringatan Hari Santri di UB bukan sekadar perayaan, melainkan manifestasi dari semangat membangun bangsa berbasis moralitas dan ilmu pengetahuan. Kolaborasi antara pesantren dan perguruan tinggi mencerminkan visi besar menuju Indonesia Emas 2045—negara maju yang berakar pada nilai-nilai keagamaan dan kebudayaan.
“Yang menjaga ilmu bukan hanya kecerdasan, tapi juga kesalehan. Dan santri, dalam makna terluasnya, adalah penjaga keduanya,” tutup Prof. Widodo. (Din/Dpa)














