Kanal24, Malang – Tak mampu bukan lagi alasan untuk berhenti kuliah. Universitas Brawijaya (UB) memastikan akses pendidikan tetap terbuka lebar, sembari mengubah strategi pembelajaran lewat sistem hybrid demi efisiensi energi tanpa mengorbankan kualitas akademik.
Universitas Brawijaya menegaskan komitmennya dalam membuka akses pendidikan bagi seluruh lapisan masyarakat, terutama bagi calon mahasiswa dari keluarga kurang mampu. Wakil Rektor Bidang Akademik UB, Prof. Dr. Ir. Imam Santoso, MP, menegaskan bahwa mahasiswa tidak perlu khawatir terkait pembiayaan kuliah.
Menurutnya, UB telah menyiapkan berbagai skema bantuan, mulai dari program Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP-K) hingga beasiswa internal kampus. Bahkan, jika mahasiswa tidak lolos jalur KIP-K, kampus tetap menyediakan alternatif melalui dana beasiswa dan dana abadi yang dimiliki.
Baca juga:
UB Percepat Target Net Zero Lewat Pelatihan Karbon

“UB juga menjalin kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk stakeholder seperti BMU dan program lain, untuk memastikan mahasiswa tetap bisa mengakses pendidikan meski memiliki keterbatasan ekonomi,” ujarnya dalam wawancara eksklusif.
Skema ini menjadi bukti bahwa UB tidak hanya berfokus pada kualitas akademik, tetapi juga aspek inklusivitas. Dengan dukungan tersebut, mahasiswa dari berbagai latar belakang diharapkan tetap memiliki kesempatan yang sama untuk menempuh pendidikan tinggi.
Kuliah Hybrid Jadi Strategi Efisiensi Energi
Di sisi lain, UB juga merespons kebijakan terbaru dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi terkait penerapan pembelajaran daring. Kampus ini mengambil langkah proaktif dengan menerapkan sistem kuliah hybrid, khususnya bagi mahasiswa semester lima ke atas.
Dalam skema ini, perkuliahan teori, seminar proposal, hingga bimbingan akademik dapat dilakukan secara daring. Langkah ini dinilai efektif tidak hanya dari sisi fleksibilitas, tetapi juga efisiensi energi dan operasional kampus.
Namun demikian, UB tetap mempertahankan pembelajaran tatap muka untuk kegiatan yang membutuhkan praktik langsung. Mahasiswa semester awal, praktikum laboratorium, serta kegiatan berbasis studio tetap diwajibkan berlangsung secara luring.
“Kami menyesuaikan metode pembelajaran berdasarkan kebutuhan akademik. Tidak semua bisa digantikan daring, terutama yang bersifat praktik,” jelas Imam.
Pendekatan ini menjadi bentuk adaptasi kampus terhadap dinamika kebijakan nasional sekaligus tantangan efisiensi di era modern.
Evaluasi Berkelanjutan Jaga Mutu Akademik
Meski menerapkan sistem hybrid, UB memastikan kualitas pembelajaran tidak akan menurun. Evaluasi menjadi kunci utama dalam menjaga capaian akademik mahasiswa tetap optimal.
Pihak kampus akan secara berkala meninjau efektivitas pembelajaran daring, khususnya untuk mata kuliah di semester lanjut. Jika ditemukan penurunan kualitas atau ketidakefektifan, UB siap melakukan penyesuaian.
“Kami akan terus mengevaluasi apakah metode daring ini benar-benar mampu menjaga capaian pembelajaran. Ini proses yang berjalan terus-menerus,” tegas Imam.
Langkah ini menunjukkan bahwa UB tidak sekadar mengikuti tren digitalisasi, tetapi juga memastikan implementasinya tepat sasaran. Fokus utama tetap pada kualitas lulusan dan keberhasilan proses belajar mengajar.
Dengan kombinasi kebijakan beasiswa yang inklusif dan sistem pembelajaran yang adaptif, UB berupaya menjawab dua tantangan sekaligus: akses pendidikan dan efisiensi operasional. Strategi ini diharapkan mampu menjadi model bagi perguruan tinggi lain dalam menghadapi perubahan zaman. (nid)













