Kanal24, Malang – Gangguan kesehatan pada bayi baru lahir sering kali tidak menunjukkan gejala di tahap awal, tetapi dapat membawa dampak jangka panjang terhadap tumbuh kembang anak. Salah satunya adalah hipotiroid kongenital, kondisi yang jika terlambat terdeteksi berisiko menyebabkan gangguan perkembangan fisik dan kognitif secara permanen.
Di titik inilah deteksi dini menjadi krusial—bukan sekadar diagnosis, tetapi penentu kualitas hidup di masa depan.
Menjawab kebutuhan tersebut, tim peneliti Universitas Brawijaya (UB) yang dipimpin oleh Prof. Dr. Aulanni’am mengembangkan alat deteksi dini hipotiroid pada bayi baru lahir menggunakan metode Enzyme Linked Immunosorbent Assay (ELISA). Inovasi ini dirancang sebagai sistem diagnostik yang mampu meningkatkan akurasi, sensitivitas, serta efisiensi dalam mendeteksi gangguan hormon tiroid sejak dini.
Secara teknis, alat ini bekerja dengan memanfaatkan antibodi poliklonal yang dihasilkan melalui induksi protein rekombinan human Thyroid Stimulating Hormone (hTSH). Protein rekombinan tersebut berperan sebagai antigen yang dirancang secara spesifik untuk merangsang sistem imun menghasilkan antibodi dengan afinitas tinggi terhadap biomarker hormon tiroid.

Pendekatan ini menjadi inti inovasi. Antibodi poliklonal yang dihasilkan memiliki kemampuan mengenali berbagai epitop dari satu antigen, sehingga meningkatkan peluang interaksi dengan target biomarker dalam sampel biologis.
Dalam pengoperasiannya, alat ini terintegrasi dengan metode ELISA—teknik analisis berbasis reaksi antigen-antibodi yang dilengkapi sistem enzimatik sebagai indikator. Ketika sampel darah bayi dimasukkan ke dalam sistem, antibodi akan berikatan dengan hormon atau biomarker spesifik yang berkaitan dengan fungsi tiroid. Reaksi ini kemudian memicu perubahan warna akibat aktivitas enzim, yang selanjutnya diukur menggunakan pembacaan optik.
Intensitas warna yang terbentuk berbanding lurus dengan konsentrasi biomarker, sehingga memungkinkan analisis kuantitatif yang objektif dan terstandar.
“Hipotiroid kongenital merupakan gangguan endokrin yang harus dideteksi sedini mungkin karena berdampak besar pada tumbuh kembang anak. Melalui inovasi ini, kami berupaya menghadirkan metode deteksi yang lebih presisi guna mendukung program skrining kesehatan bayi di Indonesia,” ujar Prof. Dr. Aulanni’am.
Keunggulan alat ini terletak pada tingkat sensitivitas yang tinggi, sehingga mampu mendeteksi kadar hormon dalam konsentrasi yang sangat rendah, bahkan sebelum munculnya gejala klinis. Selain itu, tingkat spesifisitasnya meningkat karena penggunaan antibodi yang dirancang secara khusus terhadap target biomarker tertentu.
Dari sisi desain, alat ini dikembangkan dalam bentuk prototipe kit diagnostik yang praktis dan berpotensi untuk diproduksi secara massal. Penggunaan bahan berbasis riset dalam negeri, khususnya pada pengembangan protein rekombinan dan antibodi, juga memberikan efisiensi biaya produksi.
Hal ini membuka peluang agar alat deteksi ini menjadi alternatif yang lebih terjangkau dibandingkan produk impor, sekaligus memperluas akses layanan skrining bayi baru lahir di berbagai fasilitas kesehatan, termasuk di daerah dengan keterbatasan sumber daya.
Lebih jauh, teknologi yang digunakan juga memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai platform diagnostik yang lebih luas. Metode berbasis antibodi dan ELISA memungkinkan adaptasi untuk mendeteksi berbagai jenis penyakit lain dengan mengganti target antigen yang digunakan.
Dengan demikian, inovasi ini tidak hanya relevan untuk hipotiroid kongenital, tetapi juga menjadi fondasi bagi pengembangan teknologi diagnostik biomedis di Indonesia.
Saat ini, alat tersebut belum dipasarkan. Namun pengembangannya telah menarik perhatian industri, termasuk PT Bio Farma (Persero), untuk dikembangkan dalam skala industri agar dapat dikomersialisasikan dan dimanfaatkan masyarakat secara luas.
Dengan hadirnya inovasi ini, proses skrining bayi baru lahir diharapkan dapat dilakukan secara lebih cepat, akurat, dan efisien—sekaligus memperkuat peran riset nasional dalam menghadirkan solusi kesehatan yang berdampak nyata.(Din)














