Kanal24, Malang – Bisakah budaya keselamatan menjadi kunci transformasi Universitas Brawijaya (UB) menuju kampus kelas dunia? Komitmen UB melalui Divisi K3L menjawab tantangan ini dalam menciptakan lingkungan kampus yang aman dan nyaman dengan menggelar Sosialisasi Pedoman dan Program Kerja Kesehatan, Keselamatan Kerja, dan Lingkungan (K3L) tahun 2025. Acara ini berlangsung di Ruang Oryza, Lantai 3 UB Guest House, pada Jumat (21/02/2025) dengan tema “Membangun Budaya Keselamatan di Lingkungan Universitas Brawijaya.”
Sekretaris Universitas Brawijaya, Dr. Tri Wahyu Nugroho, S.P., M.Si., menyampaikan pentingnya keberadaan Divisi K3L yang telah beroperasi lebih dari satu tahun. “K3L telah menjadi divisi khusus yang dirancang untuk memastikan keselamatan di lingkungan kampus. Kami telah melatih 59 tenaga pendidik dan dosen sebagai ahli K3 bersertifikasi nasional. Mereka bertanggung jawab di setiap unit kerja fakultas dan direktorat,” ungkapnya.
Dr. Tri Wahyu Nugroho juga menekankan upaya sosialisasi dan penyediaan fasilitas K3 di seluruh gedung kampus. “Setiap gedung wajib memiliki jalur evakuasi, alat pemadam api ringan (APAR), serta kotak P3K. Semua ini adalah bagian penting untuk mencapai standar internasional dalam keselamatan kampus,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala Divisi K3L UB, Prof. Dr. Ir. Qomariyatus Sholihah, S.T., M.Kes., memaparkan tiga fokus utama program kerja tahun ini. Pertama adalah pengembangan sumber daya manusia (SDM) melalui pelatihan keselamatan kerja, penanganan gawat darurat, dan pertolongan pertama. “Kami tidak hanya melatih staf, tetapi juga mahasiswa, agar mereka tahu apa yang harus dilakukan dalam situasi darurat,” jelas Prof. Qomariyah.
Fokus kedua adalah pengelolaan lingkungan sesuai dengan visi Green Campus UB, termasuk pengelolaan limbah dan penciptaan lingkungan yang mendukung kesehatan mental.
“Lingkungan yang harmonis dan bebas stres sangat penting untuk menciptakan kampus yang sehat,” tambahnya.
Fokus terakhir adalah penguatan sistem manajemen K3 melalui inovasi teknologi. “Kami telah mengembangkan Sistem Informasi Manajemen K3, termasuk pemetaan APAR dan jadwal perawatannya. Ini memastikan setiap fasilitas selalu dalam kondisi optimal,” ujar Prof. Qomariyah.

Dengan mahasiswa yang mencapai lebih dari 70.000 orang, sosialisasi budaya K3 menjadi tantangan tersendiri bagi UB. Namun, komitmen ini dinilai sangat penting untuk mencapai standar internasional.
“Keselamatan adalah kunci bagi kampus yang ingin bersaing di level global. UB harus mampu memberikan rasa aman bagi seluruh civitas akademika,” tutup Dr. Tri Wahyu Nugroho.
Melalui program K3L yang berkesinambungan, UB berkomitmen untuk terus meningkatkan keselamatan, kenyamanan, dan kualitas lingkungan kampus demi mendukung terciptanya pendidikan yang berdaya saing internasional. (din)