Kanal24, Malang – Langkah pertama sebagai mahasiswa magister dimulai dengan banyak hal yang harus dipahami. Bukan hanya mengenal lingkungan kampus, mahasiswa juga perlu mengetahui pola pembelajaran, etika akademik, hingga tuntutan penelitian yang akan menemani perjalanan studi mereka.
Persiapan tersebut diberikan kepada 24 mahasiswa baru Magister Ilmu Linguistik Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya (FIB UB) melalui Orientasi Pendidikan Mahasiswa Baru Tahun 2026. Selama tiga hari, 26–28 Agustus 2026, mahasiswa dibekali pemahaman tentang sistem akademik, publikasi ilmiah, academic writing, hingga strategi menjalani studi di jenjang magister.
Baca Juga:
Riset Jangan Berhenti di Jurnal, Ubah Jadi Buku
24 Mahasiswa Ikuti Orientasi Pendidikan
Ketua Pelaksana Orientasi Pendidikan S2 Ilmu Linguistik, Dr. Dany Ardhian, S.Pd., M.Hum., mengatakan 24 mahasiswa baru tahun ini berasal dari beberapa jalur penerimaan.

Sebanyak 10 mahasiswa merupakan peserta fast track yang melanjutkan pendidikan dari jenjang S1 ke S2. Kemudian terdapat empat mahasiswa melalui jalur Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL), dua mahasiswa asing dari Rusia dan Pakistan, serta delapan mahasiswa dari jalur reguler.
Komposisi tersebut membuat orientasi disusun dengan materi yang menyesuaikan kebutuhan mahasiswa. Dany mengatakan pembekalan diberikan agar mahasiswa memiliki gambaran mengenai proses pendidikan yang akan mereka jalani selama tiga hingga empat semester.
“Kami mengundang tujuh pemateri berasal dari dosen kami. Kemudian materi-materi itu kita setting memang untuk kebutuhan mereka selama di kampus,” ujar Dany.
Sejumlah materi yang diberikan meliputi kode etik akademik, publikasi, academic writing, hingga strategi belajar di Program Studi S2 Ilmu Linguistik. Pembekalan tersebut menjadi pijakan awal bagi mahasiswa untuk memahami pola akademik yang berbeda dari jenjang sebelumnya.
Kurikulum dan Riset Jadi Perhatian
Pembekalan mahasiswa tidak berhenti pada pengenalan sistem akademik. Program Studi S2 Ilmu Linguistik juga melakukan penyesuaian kurikulum agar proses pendidikan yang dijalankan mahasiswa sesuai dengan kebutuhan akademik dan perkembangan bidang linguistik.
Dany mengatakan proses review kurikulum telah dilakukan dengan melibatkan Prof. Dr. Oktavianus dari Universitas Andalas sebagai pakar kurikulum S2 Ilmu Linguistik. Setelah melalui proses review, kurikulum tersebut kemudian direvisi dan dirancang untuk diterapkan pada tahun akademik ini.
Mahasiswa juga mendapatkan wawasan melalui kuliah tamu bersama Aone van Engelenhoven dari Leiden University. Materi yang diberikan membahas dokumentasi bahasa linguistik dengan mengambil contoh bahasa Leti, bahasa yang termasuk dalam rumpun Austronesia.
“Jadi, kami juga memberikan hal yang terbaik buat mahasiswa sebagai bekal pengantar untuk mereka mengikuti proses-proses ke depannya,” kata Dany.
Selama tiga hari pelaksanaan, Dany menilai rangkaian orientasi berjalan sesuai dengan rencana. Beberapa mahasiswa asing yang masih menyelesaikan proses administrasi belum dapat bergabung dan nantinya akan mengikuti proses studi setelah tahapan tersebut selesai.
Pada hari terakhir, mahasiswa juga diarahkan melakukan koordinasi penyusunan Kartu Rencana Studi (KRS). Tahapan ini menjadi bagian dari persiapan sebelum mahasiswa mulai menjalani perkuliahan dan menentukan mata kuliah yang akan ditempuh.
Mahasiswa Rusia Mulai Beradaptasi
Bagi Elizaveta Lebedeva, mahasiswa asal Rusia, masa awal menjadi mahasiswa UB juga menjadi waktu untuk beradaptasi dengan lingkungan baru. Ia mengaku baru sekitar satu minggu berada di Malang sehingga belum banyak mengikuti kegiatan kampus.

Meski begitu, Elizaveta menilai orientasi selama tiga hari membantunya memahami sistem pendidikan yang akan dijalani sebagai mahasiswa S2 Ilmu Linguistik.
Penjelasan mengenai proses studi dan persyaratan kelulusan menjadi hal yang menurutnya paling membantu. Informasi tersebut membuatnya memiliki gambaran lebih jelas mengenai apa yang harus dipersiapkan selama menempuh pendidikan di UB.
“Saya sangat suka karena dosen-dosen menjelaskan bagaimana cara saya lulus, apa syaratnya untuk lulus. Jadi ini baik sekali karena semuanya jelas,” ujarnya.
Selain kegiatan akademik, Elizaveta juga menikmati suasana Universitas Brawijaya. Ia menyebut fasilitas yang tersedia serta lingkungan kampus yang indah dan nyaman menjadi pengalaman positif selama minggu pertamanya di Malang.
Selama menempuh studi, Elizaveta ingin segera menentukan topik penelitian dan mulai menyusun tesis. Ia juga ingin menikmati pengalaman akademik sekaligus kehidupan kampus selama menjadi bagian dari UB.
Melalui orientasi tersebut, FIB UB tidak hanya mengenalkan sistem perkuliahan kepada mahasiswa baru, tetapi juga memberikan gambaran mengenai perjalanan akademik yang akan mereka tempuh. Pembekalan tentang etika, strategi studi, penelitian, publikasi, hingga persiapan tesis diharapkan menjadi pijakan bagi mahasiswa untuk menjalani studi dengan lebih terarah. (gal)














