Kanal24, Malang – Pembiasaan memilah sampah menjadi salah satu materi utama yang dikenalkan kepada mahasiswa baru Universitas Brawijaya (UB) demi memperkuat kultur keberlanjutan di lingkungan kampus. Lewat sesi Green Campus, para mahasiswa baru tidak hanya diajak membuang sampah pada tempatnya, tetapi juga diedukasi untuk mengenali jenis sampah sebelum membuangnya.
Pesan penting tersebut mengemuka dalam rangkaian Open House Raja Brawijaya 2026 Day 2 yang dihelat pada Minggu (30/8). Pada kesempatan ini, UPT UB Green Campus memaparkan edukasi pemilahan sampah yang dibagi ke dalam lima kategori utama, lengkap dengan panduan penggunaan trashbag sesuai jenisnya. Edukasi ini dikemas interaktif agar lebih menarik bagi ribuan mahasiswa baru, di antaranya melalui permainan pilah sampah serta pengenalan fasilitas modern berupa reverse vending machine (mesin penukar botol otomatis). Kehadiran fasilitas teknologi ini menunjukkan komitmen kampus dalam menyediakan infrastruktur ramah lingkungan yang praktis bagi sivitas akademika.
Tidak hanya berhenti pada teori, mahasiswa yang hadir di lokasi juga berkesempatan melihat langsung pameran inovasi dari Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) IAAS LCUB (International Association of Students in Agricultural and Related Sciences Local Committee Universitas Brawijaya). UKM tersebut menampilkan berbagai program pemberdayaan masyarakat yang konsisten mengangkat isu-isu keberlanjutan.
Baca Juga:
Pendanaan InsaIntek: CoE CBSA FTAB UB Wujudkan Ekosistem Ekonomi Sirkular Maggot BSF di Malang Raya
Mengenalkan Pemilahan Sampah Sejak Awal
Kepala UPT UB Green Campus, Prof. Sri Suhartini, STP, M.Env.Mgt, Ph.D., mengatakan sesi Green Campus menjadi kesempatan untuk mengenalkan sistem pemilahan sampah yang telah diterapkan di lingkungan Universitas Brawijaya kepada mahasiswa baru.
Menurutnya, terdapat lima kategori sampah yang dipilah di dalam kampus, yakni organik, anorganik, kertas, limbah B3, dan residu. Kelima kategori tersebut menjadi dasar bagi mahasiswa untuk menentukan sampah yang mereka hasilkan harus dibuang ke tempat yang sesuai.

“Jadi kami sudah memberikan informasi bahwasanya ada lima jenis sampah yang kita pilah di dalam kampus,” ujar Sri.
Pengenalan tersebut turut diperkuat melalui penggunaan trashbag berdasarkan kategori sampah. Dengan demikian, pemilahan tidak hanya disampaikan sebagai pengetahuan, tetapi juga diperlihatkan sebagai bagian dari praktik pengelolaan sampah di lingkungan kampus.
Menurut Sri, booth Green Campus juga menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengenal berbagai program dan inovasi yang dikembangkan UPT UB Green Campus. Salah satunya adalah reverse vending machine yang digunakan untuk mengumpulkan sampah botol plastik sekaligus memisahkan botol dan tutupnya.
Vending Machine dan Games Uji Pemahaman Mahasiswa
Selain edukasi mengenai kategori sampah, pengenalan pengelolaan sampah bagi mahasiswa baru ini dikemas melalui pendekatan yang jauh lebih interaktif dan menyenangkan, sehingga mereka dapat melihat secara langsung bahwa aksi memilah sampah tidak hanya mudah dilakukan, tetapi juga memberikan keuntungan serta manfaat nyata secara instan dalam keseharian mereka di kampus.
Duta Kampus Lestari, Randy Novian Ramadhani, mengatakan mahasiswa baru menunjukkan antusiasme ketika mengunjungi booth Green Campus. Reverse vending machine menjadi salah satu inovasi yang menarik perhatian karena memungkinkan botol plastik yang biasanya berakhir sebagai sampah dikumpulkan kembali.
Mahasiswa yang memasukkan sampah plastik melalui mesin tersebut juga memperoleh poin yang dapat dikumpulkan dan ditukarkan dengan sejumlah manfaat, termasuk makanan di UB Kantin maupun di UBSC.

“Yang paling menariknya lagi bagi mahasiswa, ternyata mahasiswa dapat poin yang mana nantinya bisa ditukarkan,” kata Randy.
Edukasi juga dilakukan melalui melalui games pilah sampah yang interaktif. Di sini, para mahasiswa ditantang untuk menguji ketepatan dalam mencocokkan beragam jenis limbah dengan kategori tempat pembuangan yang tepat secara cepat dan menyenangkan.
Randy menilai kegiatan tersebut penting karena kebiasaan membuang sampah sering kali berhenti pada tindakan membuang tanpa mempertimbangkan jenisnya. Padahal, tempat sampah berdasarkan kategori telah tersedia di sejumlah fakultas UB.
Ia berharap pengenalan sejak Open House dapat membantu mahasiswa membangun kebiasaan memilah sampah ketika menjalani aktivitas perkuliahan.
IAAS Perluas Pesan Keberlanjutan
Pesan mengenai lingkungan dalam Open House Raja Brawijaya 2026 juga datang dari ruang aktivitas mahasiswa. IAAS LCUB menghadirkan pameran yang memperkenalkan berbagai program pemberdayaan masyarakat dengan prinsip keberlanjutan.
Elsa Marsabilla, delegasi IAAS LCUB, menjelaskan bahwa organisasinya memiliki sejumlah program yang memberikan ruang bagi mahasiswa untuk terlibat dalam kegiatan sosial dan lingkungan. Program tersebut antara lain pengabdian masyarakat di desa binaan, aksi bersih-bersih sungai, penanaman pohon, serta workshop bersama kelompok PKK, KWT, dan sekolah.
IAAS juga memiliki program exchange dan internship yang memberikan kesempatan mahasiswa memperoleh pengalaman di bidang pertanian dan agrokompleks dalam lingkup nasional maupun internasional.
Sementara itu, Allsha Al Faridah mengajak mahasiswa baru untuk bergabung dan mengenal lebih jauh kegiatan IAAS melalui booth yang tersedia selama Open House.

“Kalau kalian join IAAS, kalian tuh memiliki opportunities untuk mengikuti program-program kerja kita yang memang berdampak dan berkelanjutan bagi masyarakat,” ujar Allsha.
Rangkaian kegiatan Green Campus dan pameran inovasi mahasiswa ini membuktikan bahwa isu keberlanjutan dapat diintegrasikan secara mulus ke dalam aktivitas sehari-hari di kampus. Mulai dari membiasakan diri memilah sampah dengan trashbag yang sesuai hingga terlibat aktif dalam berbagai program lingkungan, para mahasiswa baru diajak memahami bahwa merawat kelestarian kampus melampaui sekadar urusan fasilitas fisik, melainkan tentang membangun budaya dan kebiasaan sadar lingkungan yang dikerjakan bersama-sama. (adr)













