Kanal24, Malang — Di tengah meningkatnya perhatian terhadap isu lingkungan dan krisis pengelolaan limbah, edukasi tentang teknologi ramah lingkungan menjadi semakin penting. Hal inilah yang disampaikan oleh Prof. Sri Suhartini, dosen Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya (FTP UB) sekaligus anggota Akademi Ilmuwan Muda Indonesia (ALMI), dalam acara School Phoria Goes to SMAN 4 Malang, Selasa (28/10/2025).
Dalam sesi berbagi, Prof. Sri Suhartini mengangkat topik tentang inovasi riset pengelolaan limbah organik menjadi sumber energi dan bio-product bernilai ekonomi. Salah satu teknologi yang menjadi fokus penelitiannya adalah pemanfaatan maggot atau larva Black Soldier Fly (BSF) untuk mengolah limbah rumah tangga dan pertanian.
“Teknologi berbasis budidaya maggot ini memungkinkan kita mengubah limbah organik menjadi berbagai produk bermanfaat seperti pupuk organik, bahan pakan ternak, hingga bioenergi,” ujar Prof. Sri Suhartini.
Ia menjelaskan bahwa dari proses budidaya maggot, dihasilkan kasgot (hasil olahan sisa maggot) yang dapat dijadikan pupuk, sementara larva maggotnya diolah menjadi tepung protein untuk pakan ikan, burung, ayam, hingga sapi. Tidak hanya itu, protein maggot juga dapat diekstraksi sebagai media kultur mikroorganisme dan bahan bio-decomposer.
Lebih jauh, tim riset FTP UB juga meneliti potensi maggot sebagai sumber minyak nabati untuk produksi biofuel atau bahan bakar hayati. “Kami mengekstrak minyak maggot yang bisa dimanfaatkan untuk bio-diesel, sedangkan kasgotnya menjadi pupuk organik. Dengan begitu, kita menciptakan sistem pertanian berkelanjutan,” jelasnya.
Selain teknologi maggot, Prof. Sri Suhartini juga menyinggung sejumlah inovasi lain yang dikembangkan di FTP UB, seperti pengolahan limbah pertanian menjadi mulsa organik cocopit, arang aktif, dan sistem micro bioskop untuk pemantauan mikroorganisme. Semua penelitian itu diarahkan untuk mewujudkan pertanian berkelanjutan dan pengelolaan limbah yang efisien di Indonesia.
Menurutnya, penerapan teknologi budidaya maggot bersifat fleksibel dan dapat disesuaikan dengan skala rumah tangga maupun industri. “Kami sudah mendampingi masyarakat di pedesaan dan perkotaan untuk memanfaatkan limbah rumah tangga melalui budidaya maggot, bahkan bekerja sama dengan industri untuk skala yang lebih besar,” ungkapnya.
Di akhir sesi, Prof. Sri Suhartini menekankan pentingnya kesadaran generasi muda terhadap pelestarian lingkungan. “Krisis dunia saat ini adalah krisis lingkungan. Jika kita tidak menjaga alam, dampaknya akan kembali ke manusia. Limbah itu bukan sampah — ia bisa menjadi ladang emas jika kita mampu mengelolanya dengan bijak,” pesannya.
Melalui paparan tersebut, siswa SMAN 4 Malang diajak memahami bahwa inovasi lingkungan tidak harus dimulai dari laboratorium besar, tetapi bisa dari langkah sederhana: mengelola limbah di rumah menjadi sesuatu yang bermanfaat. (Din/Yor)














