Kanal24
No Result
View All Result
  • Berita Terkini
  • Perspektif
  • Pendidikan
  • Hukum
  • Politik
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Hiburan
  • Login
  • Berita Terkini
  • Perspektif
  • Pendidikan
  • Hukum
  • Politik
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Hiburan
No Result
View All Result
Kanal24
No Result
View All Result

Tatkala Gawai Dijadikan Kambing Hitam Kecerdasan

Sidik by Sidik
December 21, 2025
in Perspektif
1
Tatkala Gawai Dijadikan Kambing Hitam Kecerdasan
11
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

oleh : Greg Teguh Santoso*

Di tengah galau bangsa atas berbagai bencana dewasa ini, media social kembali diributkan oleh content yang mewartakan tingkat kecerdasan khalayak Indonesia kian menurun mendekati level kecerdasan gorilla, wow, benarkah demikian? Tulisan ini mencoba mengkritisi pandangan tersebut sebagai kancah edukasi public agar tidak mudah percaya akan berbagai content tanpa menimbang dengan seksama.

Ada kecenderungan lama dalam sejarah manusia: ketika dunia berubah terlalu cepat, kita mencari satu penyebab tunggal untuk kegelisahan kolektif. Di abad ke-19, buku dituding merusak ingatan. Di abad ke-20, televisi dianggap menghancurkan nalar. Kini, gawai dan media sosial dituduh menurunkan kecerdasan. Narasi ini terdengar akrab bagi kita, terutama yang begitu gemar mengikuti aneka media social, karena itu kita perlu perlu sungguh mencermati.

Klaim bahwa kecerdasan masyarakat menurun akibat penggunaan gawai sering mengutip istilah IQ seolah ia ukuran final kemampuan manusia. IQ bukan ukuran absolut kecerdasan. Ia dipengaruhi oleh kualitas pendidikan, bahasa, nutrisi, dan konteks budaya. Padahal sejak lama para ilmuwan menegaskan bahwa IQ adalah alat ukur terbatas, sangat sensitif terhadap konteks sosial, pendidikan, dan metode pengujian (Neisser et al., 1996), menggunakannya sebagai vonis kebudayaan tak terlalu berlebihan bila dikategorikan sebagai kekeliruan epistemik.

Benar bahwa beberapa negara mengalami stagnasi atau penurunan skor IQ sejak awal 2000-an. Namun penelitian besar di Norwegia menunjukkan bahwa penurunan ini berkaitan dengan perubahan sistem pendidikan dan lingkungan belajar, bukan teknologi semata (Bratsberg & Rogeberg, 2018). Studi di negara-negara Skandinavia memang menunjukkan pembalikan Flynn Effect. Namun penelitian yang sama menegaskan pula bahwa faktor pendidikan dan lingkungan belajar jauh lebih dominan dibanding teknologi digital. Korelasi tidak sama dengan kausalitas, suatu pelajaran dasar yang kerap dilupakan dalam debat publik.

Teknologi digital sering disalahkan karena ia terlihat. Ia ada di tangan anak-anak, di meja makan, di ruang kelas. Tapi faktor yang tak terlihat justru lebih menentukan: kualitas pendidikan, ketimpangan sosial, kemiskinan kognitif di rumah tangga, dan minimnya budaya membaca. OECD secara konsisten menunjukkan bahwa latar belakang sosioekonomi jauh lebih berpengaruh terhadap capaian kognitif dibanding kepemilikan gawai (OECD, 2023).

Mengaitkan gawai dengan “penurunan kecerdasan” juga mengabaikan fakta bahwa teknologi digital telah memperluas akses pengetahuan secara historis. Anak-anak hari ini menguasai literasi visual, spasial, dan navigasi informasi jauh lebih kompleks dibanding generasi sebelumnya. Ini bukan kecerdasan yang hilang, melainkan amat patut ditengarai sebagai wujud kecerdasan yang berubah bentuk. Riset neuroscience yang kini kian gencar dilaksanakanpun tidak sesederhana yang sering dikutip. Banyak studi menunjukkan bahwa otak bersifat plastis: ia beradaptasi dengan lingkungan.

Paparan digital tertentu memang berkorelasi dengan gangguan perhatian, tetapi korelasi itu bersifat kontekstual dan reversibel (Rosen et al., 2013). Tidak belum ada bukti kuat bahwa penggunaan gawai menyebabkan kerusakan kognitif permanen. Kebijakan Australia yang membatasi media sosial bagi anak sering dijadikan bukti bahwa bahaya gawai sudah nyata. Namun membaca kebijakan itu sebagai pengakuan kegagalan teknologi adalah penyederhanaan. Kebijakan tersebut lebih tepat dibaca sebagai kompromi politik atas kekhawatiran orang tua, bukan konsensus ilmiah global.
Indonesia perlu berhati-hati agar tidak terjebak dalam moral panic dan kegemparan yang belum valid benar. Membingkai masalah pendidikan dan kecerdasan sebagai akibat gawai berisiko mengalihkan tanggung jawab dari reformasi struktural yang lebih mendasar: kualitas guru, kurikulum yang dangkal, dan ketimpangan akses pendidikan bermutu. Masalah kita bukan anak terlalu pintar menggunakan gawai. Masalah kita adalah negara yang terlalu lambat membenahi pendidikan.

Jika kecerdasan terasa menurun, mungkin bukan karena teknologi terlalu canggih—melainkan karena kebijakan terlalu sederhana. Alih-alih membangun narasi penurunan kecerdasan, diskursus publik Indonesia seharusnya difokuskan pada peningkatan kualitas pembelajaran. Teknologi perlu diposisikan sebagai alat pedagogis, bukan ancaman moral. Negara-negara dengan hasil PISA tinggi justru berhasil mengintegrasikan teknologi secara terstruktur dalam pendidikan formal.

Kecerdasan anak tidak ditentukan oleh lamanya waktu layar, melainkan oleh kualitas interaksi—dengan guru, orang tua, dan materi belajar. Jika interaksi itu miskin, gawai menjadi kambing hitam yang mudah. Maka pertanyaan yang lebih produktif bukanlah apakah gawai membuat anak bodoh, tetapi apakah kita sudah cukup cerdas mengelola teknologi dalam pendidikan.

*)Greg Teguh Santoso, doktor di bidang Knowledge Management, saat ini adalah pendamping Sistem Manajemen Organisasi Pendidikan di SMA Santo Paulus Jember.

Post Views: 169
Tags: gadgetGawaigreg teguh santosojember
Previous Post

Sambangi Lapas Perempuan, Grand Mercure Malang Mirama Berbagi Sukacita Natal

Next Post

Kenduri dan Pagelaran Wayang Warnai Dies UB ke-63

Sidik

Sidik

Next Post
Kenduri dan Pagelaran Wayang Warnai Dies UB ke-63

Kenduri dan Pagelaran Wayang Warnai Dies UB ke-63

Comments 1

  1. Pingback: Kesetaraan Gender di Tempat Kerja Masih Jadi Pekerjaan Rumah - Kanal24

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Trending
  • Comments
  • Latest
ISLAM DAN PELESTARIAN LINGKUNGAN

ISLAM DAN PELESTARIAN LINGKUNGAN

August 4, 2023
oval layer

5 Gaya Rambut yang Tepat untuk Pipi Chubby agar Tampil Lebih Menarik

August 25, 2024
Yuk Kenali Istilah Dalam Karate

Yuk Kenali Istilah Dalam Karate

August 3, 2023
AYAT-AYAT KREATIVITAS DAN INOVASI PELAYANAN

AYAT-AYAT KREATIVITAS DAN INOVASI PELAYANAN

August 4, 2023
Permainan Interaktif Menjadi Media KKN FP UB Pupuk Minat Baca Anak Desa Kromengan

Permainan Interaktif Menjadi Media KKN FP UB Pupuk Minat Baca Anak Desa Kromengan

39
Pemkot Malang Tingkatkan Sinergi dan Soliditas Demi Keamanan Wilayah

Pemkot Malang Tingkatkan Sinergi dan Soliditas Demi Keamanan Wilayah

8
Budayakan Gaya Hidup Sehat, Fapet UB Gelar Latihan Jalan Nordik

Budayakan Gaya Hidup Sehat, Fapet UB Gelar Latihan Jalan Nordik

7
Manfaat Naik Turun Tangga Setiap Hari Bagi Kesehatan

Manfaat Naik Turun Tangga Setiap Hari Bagi Kesehatan

7
Dana Desa untuk Kopdes, Pemerintah Tegaskan Bukan Pemotongan Anggaran

Dana Desa untuk Kopdes, Pemerintah Tegaskan Bukan Pemotongan Anggaran

February 25, 2026
Takjil Sehat Tanpa Gorengan Saat Ramadhan

Takjil Sehat Tanpa Gorengan Saat Ramadhan

February 25, 2026
Makin Diminati Ngabuburun Trend Sehat Tunggu Berbuka 

Makin Diminati Ngabuburun Trend Sehat Tunggu Berbuka 

February 25, 2026
Komitmen Integritas, FKH UB Canangkan ZI 2026

Komitmen Integritas, FKH UB Canangkan ZI 2026

February 25, 2026

Popular Stories

  • ISLAM DAN PELESTARIAN LINGKUNGAN

    ISLAM DAN PELESTARIAN LINGKUNGAN

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 5 Gaya Rambut yang Tepat untuk Pipi Chubby agar Tampil Lebih Menarik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Yuk Kenali Istilah Dalam Karate

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AYAT-AYAT KREATIVITAS DAN INOVASI PELAYANAN

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tren Rambut Pria 2025: Gaya Modern dan Maskulin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
UB Radio 107.5 FM
107.5 FM
Tap to Play
  • Berita
  • Tentang Kanal24
  • Layanan
  • Pedoman Media Siber
Copyright Kanal24.com 2025

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Berita Terkini‎
  • Perspektif
  • Pendidikan
  • Hukum
  • Politik
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Hiburan

Copyright Kanal24.com 2025