Kanal24, Malang – Menjadi ahli di bidang keilmuan belum tentu berarti siap berdiri di depan kelas. Di tengah perubahan karakter mahasiswa dan semakin kuatnya pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran, dosen dituntut memiliki kemampuan mengajar yang adaptif, komunikatif, sekaligus mampu menciptakan ruang belajar yang nyaman.
Kesadaran tersebut mendorong Universitas Brawijaya menyelenggarakan Pelatihan Peningkatan Keterampilan Dasar Teknik Instruksional (PEKERTI) bagi dosen baru pada Senin (20/07/2026). Kegiatan ini membekali peserta dengan kompetensi pedagogik, komunikasi efektif, penyusunan pembelajaran berbasis LMS BRONE, hingga praktik microteaching sebagai bekal menghadapi proses belajar mengajar di perguruan tinggi.
Baca juga:
Generasi Muda Enggan Bertani, UB Dorong Ketahanan Pangan Desa Ngebruk
Pelatihan Dasar untuk Membangun Kompetensi Mengajar
Penyelenggara menjelaskan bahwa PEKERTI merupakan program yang secara rutin dilaksanakan sebagai bekal bagi dosen baru, terutama mereka yang baru bergabung di Universitas Brawijaya. Menurutnya, tidak semua dosen memiliki latar belakang pendidikan yang membekali kemampuan mengajar secara profesional.

“Setiap tahun kita menyelenggarakan PEKERTI karena dosen-dosen yang masih muda atau baru masuk Universitas Brawijaya perlu dibekali kemampuan pedagogi, kemampuan mengajar, dan menyelenggarakan pendidikan secara efektif. Tidak semua dosen memiliki keterampilan mengajar dan melakukan pembelajaran dengan baik,” ujarnya.
Ia menambahkan, setelah mengikuti pelatihan dasar ini, peserta nantinya juga akan memperoleh pelatihan lanjutan sekitar dua tahun kemudian sebagai bagian dari pengembangan kompetensi dosen secara berkelanjutan.
Secara nasional, materi PEKERTI telah disusun oleh kementerian sehingga setiap perguruan tinggi memiliki acuan kurikulum yang sama. Namun, UB tetap melakukan penyesuaian agar materi lebih sesuai dengan kebutuhan institusi.
Salah satu pembaruan yang diterapkan tahun ini adalah integrasi pelatihan dengan Learning Management System (LMS) BRONE milik Universitas Brawijaya. Melalui pendekatan tersebut, peserta tidak hanya belajar menyusun desain pembelajaran, tetapi juga mengelola perkuliahan secara digital.
“Peserta mampu melakukan proses dan desain pembelajaran, sekaligus mengunggah serta mengelola pembelajaran berbasis Learning Management System BRONE yang dimiliki Universitas Brawijaya,” jelasnya.
Tidak Hanya Teori, Dosen Juga Wajib Praktik Mengajar
Pelatihan PEKERTI tidak berhenti pada penyampaian materi di ruang kelas. Penyelenggara menegaskan bahwa setiap peserta harus melalui beberapa tahapan evaluasi untuk memastikan kompetensi yang diperoleh benar-benar dapat diterapkan.
Penilaian dimulai dari tingkat kehadiran peserta selama pelatihan berlangsung. Setelah itu, peserta mengikuti pre-test dan post-test untuk melihat perkembangan pemahaman terhadap materi yang diberikan.
Tahap akhir yang menjadi penilaian utama adalah praktik microteaching. Pada sesi ini, para dosen baru diminta melakukan simulasi mengajar layaknya berada di dalam kelas yang sesungguhnya.
Melalui praktik tersebut, tim penilai dapat mengamati bagaimana peserta menyampaikan materi, mengelola kelas, hingga membangun interaksi dengan mahasiswa. Hasil praktik kemudian menjadi dasar pemberian masukan mengenai aspek yang telah dikuasai maupun yang masih perlu ditingkatkan.
Selain mengevaluasi peserta, penyelenggara juga membuka ruang evaluasi terhadap pelaksanaan pelatihan. Seluruh peserta diminta memberikan umpan balik melalui Google Form mengenai kualitas materi, pemateri, maupun teknis penyelenggaraan.
Masukan tersebut akan menjadi bahan evaluasi untuk meningkatkan kualitas pelatihan PEKERTI pada penyelenggaraan berikutnya.
Komunikasi Efektif Jadi Bekal Mengajar Generasi Baru
Salah satu materi yang diberikan dalam pelatihan tahun ini berfokus pada kemampuan komunikasi dosen dengan mahasiswa. Pemateri menjelaskan bahwa tantangan mengajar saat ini berbeda dibandingkan beberapa tahun lalu karena karakter mahasiswa terus mengalami perubahan.
Menurutnya, dosen baru perlu memahami bahwa pendekatan komunikasi yang berhasil diterapkan pada generasi sebelumnya belum tentu efektif digunakan kepada mahasiswa saat ini.
“Cara kita mengajar dan berkomunikasi dengan mahasiswa di era sekarang sangat berbeda dengan era sebelumnya,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa strategi mengajar perlu disesuaikan dengan situasi kelas. Mengajar pada pagi, siang, maupun sore hari membutuhkan pendekatan komunikasi yang berbeda agar mahasiswa tetap termotivasi mengikuti pembelajaran.
Selain itu, pemilihan kata dan cara penyampaian materi menjadi aspek penting dalam membangun hubungan yang positif antara dosen dan mahasiswa. Komunikasi yang kurang tepat berpotensi menimbulkan kesalahpahaman hingga membuat mahasiswa merasa tidak nyaman.
Melalui pelatihan ini, para dosen diharapkan semakin memahami karakter setiap generasi mahasiswa serta mampu menciptakan suasana kelas yang lebih inklusif, interaktif, dan mendukung proses belajar.
“Harapannya mahasiswa bisa belajar dengan lebih nyaman dan melihat dosen sebagai partner sekaligus fasilitator untuk membantu mereka belajar dengan lebih baik,” pungkasnya.(ffn)














