Kanal24 – Libur bagi sebagian orang adalah jeda. Bagi ibu, kata itu sering hanya istilah. Tak tercantum di kalender, tak hadir dalam rutinitas. Bahkan ketika rumah sunyi dan hari tampak tenang, pekerjaan ibu tetap berjalan—di kepala, di hati, dan dalam daftar panjang hal-hal yang harus dipastikan baik-baik saja.
Kerja ibu bukan hanya soal aktivitas fisik. Ia juga kerja emosional. Pekerjaan yang tak terlihat, tak tercatat, dan nyaris tak pernah dihitung sebagai kerja sungguhan. Mulai dari mengingat jadwal anak, memastikan ekonomi keluarga tetap bertahan, meredam konflik, hingga menjadi tempat aman bagi semua anggota keluarga untuk pulang dengan emosi masing-masing.
Ibu rumah tangga mengelola rumah seperti manajer tanpa jam kerja. Dari bangun pagi hingga malam, ia memastikan kebutuhan semua orang terpenuhi. Saat yang lain istirahat, pikirannya tetap aktif: stok dapur, uang sekolah, kesehatan anak, hingga urusan keluarga besar. Tak ada seragam, tak ada laporan bulanan, apalagi cuti.
Bagi ibu bekerja, beban itu berlapis. Ia membawa pekerjaan kantor ke rumah, dan membawa urusan rumah ke tempat kerja. Di sela rapat dan target, ada pesan dari sekolah, anak yang demam, atau kecemasan soal siapa yang menjemput. Pulang kerja bukan berarti beban berkurang—hanya berpindah bentuk.
Sementara ibu tunggal memikul semuanya sendirian. Peran ganda bukan pilihan, melainkan keharusan. Ia menjadi pencari nafkah sekaligus pengasuh utama, pengambil keputusan sekaligus penenang. Dalam diam, ia belajar kuat tanpa banyak ruang untuk lelah.
Yang jarang dibicarakan adalah beban mental ibu. Beban untuk selalu ingat, selalu siap, selalu sabar. Ia mengantisipasi sebelum diminta, memikirkan sebelum diucapkan. Ketika keluarga baik-baik saja, kerja itu dianggap selesai. Padahal justru di sanalah ia bekerja paling keras.
Kerja emosional ibu sering dianggap kodrat, bukan kontribusi. Seolah kemampuan mengelola emosi, menahan lelah, dan merawat semua orang adalah bawaan lahir perempuan. Padahal, itu adalah keterampilan yang diasah, energi yang dikorbankan, dan waktu yang dipertaruhkan.
Di media sosial, Hari Ibu dirayakan dengan ucapan manis dan unggahan hangat. Semua itu penting. Namun di balik perayaan, ada realitas yang jarang disentuh: banyak ibu yang tak pernah benar-benar libur, bahkan dari pikirannya sendiri.
Mengakui kerja emosional ibu bukan soal membandingkan peran, melainkan soal keadilan melihat realitas. Bahwa pekerjaan yang tak terlihat tetaplah kerja. Bahwa lelah yang tak diucapkan tetaplah lelah.
Mungkin yang dibutuhkan ibu bukan hadiah besar atau perayaan setahun sekali. Bisa jadi yang paling berarti adalah pengakuan sederhana: bahwa apa yang ia lakukan setiap hari—dalam diam —itu nyata, berat, dan layak dihargai.
Karena pada akhirnya, ibu memang jarang meminta libur. Tapi bukan berarti ia tidak membutuhkannya.














