Kanal24, Malang – Kreativitas sering dianggap lahir dari bakat atau kemampuan khusus. Namun bagi Founder Kattoen, Rizky Setyo Budi, kreativitas justru tumbuh ketika seseorang bersedia membuka diri terhadap masukan dan belajar dari banyak orang. Pesan tersebut menjadi salah satu sorotan dalam kegiatan J&T Connect Preneur Goes to Campus yang digelar di Gedung Widyaloka Universitas Brawijaya, Kamis (4/6/2026).
Dalam sesi berbagi pengalaman, Rizky menilai lingkungan kampus merupakan tempat ideal untuk membangun kreativitas. Mahasiswa dari berbagai daerah dan latar belakang berkumpul dalam satu ruang yang sama, menciptakan peluang besar untuk bertukar ide dan memperluas perspektif.
Baca juga:
Dosen UB Soroti Paradigma Karbala dalam Forum Internasional Iran
Menurutnya, keberagaman yang ada di Kota Malang menjadi modal penting bagi lahirnya inovasi. Interaksi antarindividu dengan pengalaman berbeda mampu melahirkan gagasan baru yang tidak akan muncul jika seseorang hanya berada dalam lingkungan yang homogen.
“Yang paling penting adalah bagaimana kita bisa menerima input. Kalau kita mampu mengelola ego dan mau mendengar, inovasi akan terbentuk dan kreativitas akan terwujud,” ujarnya.

Rizky mengaku pelajaran paling berharga selama membangun Kattoen bukan hanya soal produk atau pemasaran, melainkan kemampuan mendengar dan mempercayai tim. Ia menekankan bahwa seorang entrepreneur tidak bisa bekerja sendirian. Kemampuan mendelegasikan pekerjaan kepada orang yang tepat menjadi faktor penting agar bisnis dapat berkembang secara sehat.
Selain itu, ia menyebut inovasi sebagai kunci utama untuk bertahan di tengah perubahan tren dan perilaku konsumen yang berlangsung sangat cepat. Dunia bisnis terus bergerak dinamis sehingga pelaku usaha harus memiliki kemampuan beradaptasi yang kuat.
“Kunci untuk bertahan adalah inovasi. Perubahan sekarang makin cepat, jadi kita harus konsisten berinovasi agar tetap relevan,” katanya.
Bagi mahasiswa yang ingin memulai usaha sejak bangku kuliah, Rizky berpesan agar tidak terlalu lama menunggu kondisi sempurna. Menurutnya, keberanian mencoba jauh lebih penting dibandingkan rasa takut gagal. Setiap proses belajar pasti memiliki risiko, tetapi pengalaman tersebut akan menjadi bekal berharga untuk berkembang.
“Beranilah untuk mencoba dan jangan takut kehilangan. Dalam proses belajar pasti ada risiko, tetapi yang paling penting adalah berani memulai,” tegasnya.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa memperoleh perspektif langsung dari pelaku industri mengenai pentingnya kolaborasi, kemampuan mendengar, dan inovasi berkelanjutan. Pesan tersebut menjadi relevan bagi generasi muda yang ingin membangun usaha sekaligus menciptakan solusi bagi berbagai tantangan di masyarakat. (cay)













