Setyo Widagdo*
Sejak tergulingnya Syah Iran Pahlevi 1979 melalui revolusi, Iran berganti rezim dan berganti nama menjadi negara Republik Islam Iran. Sejak itu pula Iran putus hubungan diplomatik dengan AS, karena AS dituduh mendukung rezim sebelumnya, selain karena krisis sandera kedutaan AS di Teheran 1979.
Sejak saat itulah Iran selalu “berseberangan” bahkan boleh dikatakan “bermusuhan” dengan AS sampai sekarang.
Upaya untuk menyingkirkan Republik Islam Iran dan menekan rezim Iran yang dipimpin oleh kaum Mullah sudah dilakukan dengan berbagai cara, bahkan AS mengajak juga sekutu-sekutunya agar memusuhi Iran.
Upaya menghancurkan Iran mungkin merupakan upaya paling brutal dalam sejarah modern. Bayangkan sebuah negara yang dikepung dari segala arah selama puluhan tahun, negara ini dibatasi oleh embargo dan sanksi ekonomi. Jendralnya tewas oleh serangan drone, ilmuwan nuklirnya di tembak di jalanan, diblokade dari sistem keuangan dunia, di kepung oleh pangkalan militer AS, bahkan di cap sebagai poros kejahatan oleh AS. Tapi anehnya Iran tidak pernah tunduk pada AS ataupun Barat. Iran juga merupakan satu satunya negara di Timur Tengah yang berani secara terbuka menantang hegemoni AS.
Ketika Sadam Husein di Irak dihancurkan, Muamar Kadhafi dari Libya di bantai, Hafez Assad di Syria nyaris tumbang, tapi anehnya Iran tetap kokoh, walaupun digempur secara militer, ekonomi, maupun diplomasi dan intelejen barat selama lebih dari 40 tahun.
Kini isu penyerangan terhadap Iran oleh AS berhembus kembali menyusul peristiwa demo yang rusuh dan menyebabkan tewasnya ribuan demonstran.
Sejak akhir Desember 2025, Iran dilanda gelombang protes besar akibat krisis ekonomi. Presiden Donald Trump secara terbuka memperingatkan bahwa AS akan melakukan intervensi militer jika pemerintah Iran menggunakan kekerasan ekstrem untuk membunuh demonstran.
Jatuhnya nilai tukar Rial hingga titik terendah menyebabkan daya beli masyarakat hancur. Inflasi yang mencapai angka di atas 40-50% membuat barang kebutuhan pokok tidak terjangkau.
Sayangnya Pemerintah Iran mengelola demo masyarakatnya dengan kekerasan, hingga menimbulkan korban lebih dari 2000 orang. Hal inilah yang menyebabkan AS mengancam kan menyerang Iran, demi menegakkan demokrasi, dan mencegah pelanggaran HAM. Suatu alasan klasik yang biasa digunakan sebagai alasan oleh AS untuk menyerang suatu negara. Padahal faktanya kehadiran pasukan AS justru sering memperkeruh keadaan menjadi tambah runyam.
Pemerintah Iran secara konsisten menuduh bahwa demonstrasi ini bukanlah gerakan organik, melainkan kerusuhan yang dirancang (engineered riots) oleh musuh-musuh luar negeri. Pihak yang sering dituding adalah AS dan Israel. Dituduh memberikan dukungan logistik, dana, dan agitasi melalui kampanye media digital. Untuk itu Iran siap melawannya.
Pihak lain yang ikut terlibat sebagai provokator kerusuhan adalah kelompok oposisi di pengasingan seperti Mujahedeen-e-Khalq (MEK) atau kelompok loyalis keluarga Shah Iran (Reza Pahlavi) yang bermukim di Barat.
Demonstrasi ini adalah hasil dari akumulasi keluhan dan kekecewaan yang sudah berlangsung puluhan tahun. Meskipun ada pengaruh kepentingan geopolitik dari luar, penggerak utamanya tetaplah krisis internal yang gagal diatasi oleh pemerintah Iran.
Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran yang terjadi di bulan Januari awal tahun 2026, berada pada level yang sangat kritis. Memang AS belum melancarkan serangan besar-besaran, namun ancaman militer telah mencapai puncaknya. Ada beberapa pemicu utama yang membuat risiko konflik fisik menjadi sangat nyata, antara lain kekerasan terhadap demonstran yang masih berlangsung.
Trump memperingatkan pemerintah Iran melalui media sosial bahwa jika aparat menggunakan kekuatan mematikan terhadap pengunjuk rasa, AS siap melakukan intervensi militer untuk “menyelamatkan” mereka.
Mungkin AS akan mengulangi keberhasiilannya memprovokasi oposan di Irak ketika menggulingkan Sadam Husein. Kali ini bukan hanya memprovokasi para demonstran dan oposan di Iran, tetapi juga membantu logistik, bahkam militer, hingga mengharap rezim Iran tumbang dan kemudian menciptakan Pemerintahan boneka baru.
Indidikasi bahwa AS akan menyerang Iran adalah bahwa Kementerian pertahanan AS telah memaparkan berbagai opsi serangan kepada Presiden, mulai dari target fasilitas nuklir hingga situs militer, jika eskalasi kekerasan meningkat.
Pertanyaannya adalah : apakah kali ini Iran masih konsisten melawan AS ? Masih tangguhkah Iran melawan hegemoni AS ? Masih mampukah Rezim Republik Islam Iran ini bertahan jika benar benar diserang oleh AS dan Israel ?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut bisa dilihat dari sikap dan reaksi Iran menghadapi ancaman AS. Misalnya Presiden Iran mengatakan bahwa Iran akan melakukan perang total jika AS menyerang Iran, Iran juga sudah melakukan pembicaraan penting dengan Rusia, China, yang nota bene dua negara ini adalah “musuh” AS.
PENUTUP
Sanksi kepada Iran memang tidak secara langsung meruntuhkan rezim, tetapi ia menciptakan kondisi “tekanan tinggi” di mana kesalahan kebijakan kecil atau insiden sosial (seperti kasus Mahsa Amini) dapat dengan cepat berubah menjadi ancaman eksistensial bagi stabilitas politik negara tersebut.
Setidaknya sampai saat ini, belum nampak sedikitpun ketakutan Iran atas ancaman dan tekanan AS, justru AS lah yang hanya main gertak, dan mikir-mikir untuk mewujudkan serangan.Dengan demikian boleh dikatakan Iran masih konsisten melawan AS.
* Penulis adalah Guru Besar Hukum Internasional dan pemerhati geopolitik FH UB














