Oleh: Ustadz Akhmad Muwafik Saleh
Bulan Ramadhan bukanlah bulan yang biasa-biasa saja. Ini adalah bulan momen distingtif, good vibes, penuh energi positif, bulan yang sangat penting dan luar biasa. Bisa dilihat saat bulan Ramadhan tiba, semua energi tertuju ke satu titik, yaitu spiritualitas. Seakan ada suatu komando transenden, sebuah sentuhan spiritual tak kasat mata yang merasuk pada setiap jiwa orang-orang beriman berupa osilasi ilahi, sebuah getaran spiritual ilahiah berfrekuensi tinggi yang singgah dalam batin manusia beriman dan kemudian melahirkan euforia spiritual. Bahkan tidak hanya dirasakan oleh kaum mukminin, melainkan juga beresonansi pada mereka yang berbeda keyakinan sekalipun, hanya sekadar dalam fenomena āwar takjilā.
Euforia perasaan spiritual ini tentu terlalu mahal jika dilewatkan begitu saja, karena hadirnya hanya dalam setahun sekali. Rasulullah saw. menggunakan istilah ānafahatā untuk menunjukkan mind blowing-nya Ramadhan. Sebagaimana dalam sabdanya:
ŁŲµŁŲØŁ Ł ŁŁŲ§ ŁŁŲŲ© ŁŲ§ ŁŲ“ŁŁ ŲØŲ¹ŲÆŁŲ§ Ų£ŲØŲÆŲ§
Sesungguhnya Allah memiliki nafahat yang akan dicurahkan sepanjang masa. Karena itu, berusahalah untuk mendapatkannya. Bisa jadi di antara kalian ada yang mendapatkan satu nafahat sehingga dia tidak akan celaka selamanya. (HR. Thabrani).
Apa itu nafahat? Secara bahasa, ini adalah sebuah hembusan rahmat Allah yang sangat besar dalam satu waktu. Sebuah intervensi estetik, sebuah momen di mana Tuhan ācampur tanganā memberikan keindahan rasa ke dalam hati manusia secara tiba-tiba dan agung dengan berbagai peluang besar yang dapat diraih, diskon besar, ibarat durian runtuh, sak blengan.
Apa saja nafahat yang Allah SWT. berikan pada bulan Ramadhan itu? Hal ini diketahui sebagaimana terungkap saat menjelang masuk bulan Ramadhan (akhir Syaāban). Rasulullah saw. menyampaikan pidato di hadapan para sahabatnya dengan menjelaskan golden window bagi kaum muslimin, berbagai peluang besar yang dapat diraih selama bulan Ramadhan:
- Wahai umat manusia! Benar-benar telah memberi keteduhan pada kalian bulan agung yang penuh berkah.
- Bulan yang di dalamnya terdapat suatu malam yang lebih baik daripada seribu bulan.
- Allah menjadikan puasa di bulan ini sebagai ibadah fardhu.
- Ibadah pada malam harinya sebagai ibadah sunnah.
- Siapa saja yang dalam bulan itu berbuat kebajikan (sunnah) satu kali, maka ia bagaikan berbuat ibadah fardhu satu kali pada bulan yang lain.
- Siapa saja yang berbuat ibadah fardhu sekali dalam bulan itu, maka ia bagaikan melakukan ibadah fardhu tujuh puluh kali dalam bulan yang lain.
- Bulan itu bulan kesabaran dan pahala sabar adalah surga.
- Bulan kepedulian.
- Bulan ditambahkan rezeki bagi orang mukmin.
- Siapa saja yang dalam bulan itu memberi makanan berbuka kepada orang yang berpuasa, maka ia akan terampuni dosa-dosanya, terbebas dari ancaman api neraka, dan mendapatkan pahala yang sama dengan pahala orang yang berpuasa tanpa terkurangi sedikit pun pahalanya.
- Bulan itu adalah bulan yang permulaannya merupakan rahmat (kasih sayang), pertengahannya merupakan ampunan, dan penghujungnya merupakan keterbebasan dari api neraka.
- Siapa saja yang memberikan peringanan kepada budaknya dalam bulan itu, niscaya Allah mengampuni dosanya dan membebaskannya dari api neraka.
- Maka berbanyaklah dalam bulan itu empat hal: dua hal yang menyebabkan kalian memperoleh ridha Tuhan, dan dua hal lain yang kalian tidak dapat menghindarinya. Adapun dua hal yang menyebabkan kalian memperoleh ridha Tuhan yaitu bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan senantiasa memohon ampun kepada-Nya. Adapun dua hal yang tidak bisa dihindari yaitu memohon kepada Allah agar mendapatkan surga dan memohon perlindungan dari neraka. (Diriwayatkan dari Saāid bin Musayyab dari Salman al-Farisi, ditulis oleh Abu Bakar Utsman bin Muhammad Syatha Dimyathi, Iāaanah Ath-thaalibiin, juz 2, halaman 255).
Bahkan di dalam sebuah riwayat lain Rasulullah SAW memberikan kabar gembira bahwa:
āTelah diberikan kepada umatku di bulan Ramadhan lima pemberian yang belum pernah diberikan kepada nabi sebelumku, yaitu:
- Pertama, pada awal bulan Ramadhan Allah subhanahu wataāala melihat umatku. Siapa yang dilihat oleh Allah, maka dia tidak akan disiksa untuk selama-lamanya.
- Kedua, bau mulut orang yang berpuasa di sisi Allah lebih baik dari bau minyak misik (kasturi).
- Ketiga, para malaikat memohon ampunan untuk umatku siang dan malam.
- Keempat, Allah subhanahu wataāala memerintahkan penjaga surga-Nya dan berkata kepadanya, āBersiap-siaplah dan berhiaslah kamu untuk hamba-hamba-Ku. Mereka akan beristirahat dari kesulitan hidup di dunia menuju tempat-Ku dan kemuliaan-Kuā.
- Kelima, pada akhir malam bulan Ramadhan Allah mengampuni dosa-dosa mereka semuanya.ā (HR. Baihaqi).
Dengan sederet keistimewaan bulan Ramadhan tersebut di atas, tentu harus diperlakukan dan dijadikan sesuatu yang berbeda, menjadikannya sebagai momentum yang luar biasa dengan melakukan tindakan yang luar biasa pula. Karena Ramadhan adalah mind blowing dari Semesta, Allah SWT., karena betapa banyaknya kemurahan (nafahat) yang diberikan pada bulan tersebut.
Rugi besar manakala seseorang berada di bulan Ramadhan namun sikap dan tindakannya masih sama dengan bulan-bulan sebelumnya. Dia tidak menyadari betapa Ramadhan benar-benar bulan yang berbeda, bulan yang āmind blowing banget dechā.
So, jika sudah sedemikian mind blowing-nya, masihkah kita melewatinya begitu saja tanpa tindakan berarti? Bahkan kita melewatinya dengan kesia-siaan seperti sibuk war takjil di sore hari, padahal itu adalah saat-saat krusial dan detik-detik menentukan, the moment of truth (istijabah) dikabulkannya doa, karena termasuk waktu yang āmasyhudaā, under the spotlight, disaksikan oleh banyak malaikat sebab bersamaan dengan sesi pergantian shift tugas malaikat, the switch moment antara malaikat job pagi dengan malaikat job sore.
Perhatian khusus juga diberikan oleh Allah pada waktu malam-malam hari di bulan Ramadhan. Jika kita masih saja memperlakukan malam-malam di bulan Ramadhan sama dengan malam-malam selain bulan Ramadhan, yaitu dengan masih memperbanyak tidur, begadang, ngafe, maka kita hanya akan menjadi orang yang merugi. Padahal malam-malam Ramadhan seharusnya diisi dengan qiyamul lail, tarawih, membaca Al-Qurāan, tadarus, berzikir, dan berdoa untuk menjemput Lailatul Qadar yang kualitasnya melebihi kebaikan beribadah selama seribu bulan atau 82 tahun.
Begitu pula jika kita masih saja berhitung saat mau bersedekah seakan tidak ada beda antara bulan biasa dengan bulan Ramadhan, maka kita sejatinya termasuk orang yang defisit rasa dengan kesadaran yang tertunda. Padahal kedermawanan di bulan Ramadhan itu dibayar lunas seketika, auto reply, no delay, dan sat set dari Allah SWT.
Sebagaimana testimoni dari sahabat Ibnu Abbas RA. Beliau menyaksikan langsung perubahan drastis pada kemurahan hati Nabi saat memasuki bulan suci:
āRasulullah SAW adalah orang yang paling dermawan, dan beliau jauh lebih dermawan lagi di bulan Ramadhan…ā (HR. Bukhari & Muslim).
Bahkan beliau (Ibnu Abbas) memberikan metafora atas kedermawanan Nabi itu dengan sangat indah:
ā…Sungguh, Rasulullah SAW jauh lebih dermawan dalam memberikan kebaikan daripada angin yang berembus (al-riih al-mursalah).ā
Bahkan bagi mereka yang bersedia memberi makan orang yang berpuasa mendapatkan janji ampunan dari dosa, dibebaskan dari api neraka, dan mendapatkan pahala orang yang berpuasa tersebut.
Lalu, dari serangkaian keistimewaan dan motivasi yang diberikan oleh Allah dan Rasul-Nya itu, masihkah tidak tergerak bagi kita untuk mengoptimalkan seluruh waktu yang ada di bulan Ramadhan ini untuk melakukan kebaikan dan masihkah memperlakukannya sama dengan bulan lainnya? Alih-alih memanfaatkan waktu untuk ibadah Ramadhan, malah justru menghibernasinya, ngabubur-sleep, dan menjadi āpemuja dalil tidur adalah ibadahā. Jangan sampai kita termasuk orang yang kebal terhadap informasi.
*) Dr. Akhmad Muwafik Saleh, S.Sos., M.Si
Penulis adalah Ketua Pusat Pengembangan Kepribadian Universitas Brawijaya, Pengasuh Asrama Karakter Pesantren Mahasiswa Tanwir al Afkar Malang














