Kanal24 – Fase puncak ibadah haji 2026 resmi dimulai hari ini, Senin (25/5/2026). Jutaan jemaah dari berbagai negara, termasuk Indonesia, mulai bergerak dari Makkah menuju Arafah untuk menjalani wukuf yang menjadi rukun utama ibadah haji. Di tengah pergerakan besar tersebut, cuaca panas ekstrem menjadi tantangan paling serius yang dihadapi jemaah tahun ini.
Pemerintah Arab Saudi memprediksi suhu di Makkah dan kawasan Armuzna (Arafah, Muzdalifah, Mina) dapat mencapai 47 derajat Celsius selama fase puncak haji berlangsung. Kondisi tersebut membuat otoritas Saudi meningkatkan kesiapan layanan kesehatan, mitigasi heatstroke, hingga sistem tanggap darurat untuk melindungi jutaan jemaah.
Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Indonesia juga mulai memfokuskan perhatian pada keselamatan dan kesehatan jemaah, terutama kelompok lansia dan risiko tinggi. Pergerakan jemaah Indonesia menuju Arafah dilakukan bertahap mulai pukul 07.00 waktu Arab Saudi guna menghindari kepadatan ekstrem selama fase Armuzna.
Selain suhu tinggi, angin panas disertai debu dan pasir diperkirakan turut melanda kawasan suci selama beberapa hari ke depan. Pusat Meteorologi Nasional Arab Saudi menyebut kondisi cuaca diperkirakan tetap panas hingga hari tasyrik dengan suhu siang berkisar 42–47 derajat Celsius.
Jemaah Diminta Kurangi Aktivitas Berat
Di tengah cuaca ekstrem, otoritas kesehatan Arab Saudi dan petugas haji Indonesia meminta jemaah membatasi aktivitas fisik yang tidak terlalu penting, memperbanyak minum air, serta menggunakan alat pelindung seperti payung dan masker.
Pemerintah Saudi bahkan menyebut penggunaan payung dapat membantu menurunkan suhu tubuh hingga sekitar 10 derajat Celsius saat berada di area terbuka. Klinik medis 24 jam dan pos kesehatan tambahan juga mulai disiagakan di sejumlah titik Armuzna.
Kepadatan jemaah di kawasan Masjidil Haram juga mulai meningkat tajam menjelang puncak ibadah. Banyak jemaah memilih berangkat lebih awal menuju masjid atau bertahan di area yang lebih sejuk untuk menghindari sengatan panas langsung.
Kementerian Agama RI sebelumnya mengingatkan bahwa dehidrasi, heatstroke, gangguan pernapasan, hingga kelelahan menjadi risiko kesehatan paling sering dialami jemaah selama musim panas di Arab Saudi. Lansia dan jemaah dengan penyakit penyerta menjadi kelompok paling rentan terdampak cuaca ekstrem.
Fokus Besar pada Keselamatan Jemaah
Selain faktor cuaca, pengaturan mobilitas jutaan jemaah juga menjadi fokus utama penyelenggaraan haji tahun ini. Otoritas Saudi bersama petugas haji Indonesia memperketat pengawasan di jalur pergerakan Arafah, Muzdalifah, dan Mina untuk mencegah kepadatan berlebih.
Lebih dari 3.000 tenda dilaporkan telah disiapkan di Mina dan Muzdalifah lengkap dengan pendingin ruangan dan fasilitas sanitasi. Pemerintah Saudi juga mulai memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI), radar cuaca, hingga sistem pemantauan digital untuk memonitor kondisi cuaca dan pergerakan jemaah secara real time.
Puncak ibadah haji sendiri akan berlangsung pada Selasa (26/5/2026) melalui prosesi wukuf di Arafah sebelum jemaah bergerak menuju Muzdalifah dan Mina untuk menjalani rangkaian ibadah berikutnya.
Di tengah suhu ekstrem dan kepadatan jutaan manusia, musim haji tahun ini kembali menjadi ujian besar ketahanan fisik, manajemen pelayanan, sekaligus solidaritas antarjemaah di Tanah Suci.













