Kanal24, Malang – Keselamatan kerja dan kesiapsiagaan menghadapi situasi darurat mulai menjadi kebutuhan penting di lingkungan perguruan tinggi. Kampus tidak lagi hanya menjadi ruang belajar akademik, tetapi juga ruang pembentukan karakter, kedisiplinan, dan kemampuan menghadapi risiko di kehidupan nyata. Di tengah meningkatnya potensi kebakaran, bencana, hingga kecelakaan kerja, mahasiswa dituntut memiliki pengetahuan dasar tentang mitigasi dan penanganan darurat sejak dini.
Kesadaran itu terlihat dalam Pelatihan K3L dan Tanggap Darurat Mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) yang digelar di Auditorium Algoritma Lantai 2 Gedung C FILKOM UB, Sabtu (23/5/2026). Antusiasme mahasiswa bahkan melampaui target panitia. Dari kuota awal 200 peserta, kegiatan tersebut dibanjiri hingga 312 pendaftar. Tingginya minat peserta menunjukkan isu keselamatan kerja dan kesiapsiagaan darurat mulai mendapat perhatian serius di kalangan mahasiswa.
Kegiatan yang diselenggarakan Divisi K3L Universitas Brawijaya itu menghadirkan pelatihan langsung terkait keselamatan kerja, penanganan kebakaran, pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K), hingga simulasi kebencanaan. Pelatihan ini digelar sebagai upaya membangun budaya aman dan sadar risiko di lingkungan kampus, terutama bagi mahasiswa yang nantinya akan terjun langsung ke dunia kerja maupun masyarakat.
Baca juga:
BSS Perkuat Budaya Aman Lewat Edukasi K3L
Kepala Divisi K3L Universitas Brawijaya, Prof. Dr. Ir. Qomariyahus Sholihah, S.T., M.Kes., mengatakan tingginya minat mahasiswa menunjukkan kesadaran generasi muda terhadap pentingnya budaya keselamatan mulai tumbuh. Menurutnya, pelatihan tersebut tidak hanya berisi teori, tetapi juga praktik langsung bersama sejumlah instansi terkait.

“Topik pada pagi hari ini yaitu pelatihan K3 dan kegawatdaruratan. Bagaimana kita menciptakan budaya yang aman, selamat, dan bahagia di dalam sivitas akademika Universitas Brawijaya,” ujar Prof. Qomariyahus Sholihah.
Ia menjelaskan, mahasiswa diberikan materi dasar K3 di perguruan tinggi, pelatihan penggunaan APAR dan hidran bersama DAMKAR, hingga simulasi penanganan bencana bekerja sama dengan BPBD. Selain itu, peserta juga mendapat pembekalan terkait prosedur pertolongan pertama saat terjadi kecelakaan atau kondisi darurat di lingkungan kampus.
“Semua yang kita lakukan di kampus pasti punya risiko dan bahaya, baik indoor maupun outdoor. Karena itu mahasiswa harus dibekali edukasi dan simulasi langsung agar siap menghadapi kondisi darurat,” jelasnya.
Menurutnya, pelatihan tersebut juga menjadi bekal penting bagi mahasiswa semester akhir sebelum memasuki dunia kerja. Ia berharap peserta mampu menjadi role model budaya K3 di lingkungan masing-masing dan lebih disiplin dalam menjaga keselamatan diri maupun orang lain.
“Jangan sampai human error menyebabkan kecelakaan. Satu detik kita lalai berarti satu nyawa,” tegasnya.

Sementara itu, Sekretaris Universitas Brawijaya, Dr. Tri Wahyu Nugroho, S.P., M.Si., menyebut pelatihan K3L harus dilakukan secara berkelanjutan agar menjadi budaya yang melekat di lingkungan kampus. Menurutnya, kemampuan menghadapi situasi darurat tidak cukup dipahami secara teori, tetapi harus dilatih secara rutin.
“Kalau terjadi sesuatu supaya kita tidak salah treatment. Karena ini bagian dari culture yang harus dijaga, maka perlu dilakukan pelatihan secara continue,” kata Dr. Tri Wahyu Nugroho.
Ia menambahkan, K3 kini menjadi salah satu program prioritas rektor melalui konsep “Kampus Tangguh K3”. Seluruh fakultas dan unit kerja diwajibkan menyediakan anggaran untuk memenuhi standar minimal keselamatan kerja, mulai dari fasilitas hidran, alat P3K, hingga edukasi mitigasi bencana bagi sivitas akademika. (cay)













