Kanal24, Malang – Upaya membangun budaya keselamatan dan kesiapsiagaan bencana di lingkungan pendidikan diperkuat melalui Pelatihan & Edukasi K3L Kebencanaan di Brawijaya Smart School yang digelar Divisi K3L Universitas Brawijaya, Senin (27/4/2026). Kegiatan ini menitikberatkan pada penguatan kapasitas guru dan tenaga kependidikan sebagai garda awal mitigasi bencana di sekolah.
Ketua Pelaksana, Dinia Rizqi Dwijayant, S.Si., M.Si., D.Sc., menjelaskan kegiatan ini merupakan bagian dari implementasi program prioritas kampus tangguh yang digagas Universitas Brawijaya. Brawijaya Smart School dipilih sebagai lingkungan terdekat yang menjadi langkah awal perluasan dampak program ke masyarakat sekitar.
Baca juga:
UB Dorong Sekolah Tangguh Lewat Simulasi Gempa

“Ini adalah langkah pertama kami agar berdampak ke lingkungan Brawijaya Smart School,” ujarnya. Menurut Dinia, pelatihan ini penting diberikan sejak dini karena sekolah melibatkan banyak anak-anak yang membutuhkan perlindungan berbasis mitigasi dan budaya sadar keselamatan.
Ia menjelaskan materi yang diberikan tidak hanya mencakup K3 umum, keselamatan personal, dan keselamatan di tempat kerja, tetapi juga edukasi kebencanaan bersama BPBD terkait ancaman gempa, banjir, hingga fenomena iklim ekstrem seperti El Nino yang belakangan menjadi perhatian.
“Harapannya guru-guru ini bisa menginisiasi pendidikan tanggap bencana sejak dini ke anak-anak,” katanya. Ia menambahkan, kegiatan ini bukan hanya inisiasi seremonial, melainkan diharapkan berlanjut hingga terbentuk tim K3 internal di Brawijaya Smart School.

Direktur Brawijaya Smart School, Dr. Binti Maqsudah, M.Pd., menyebut kegiatan ini sejalan dengan visi sekolah yang ramah anak dan menjamin keselamatan peserta didik. Menurutnya, program ini menjadi penguatan penting dalam membangun ekosistem belajar yang aman, nyaman, dan bertanggung jawab terhadap lingkungan.
“Yang kami inginkan kegiatan ini tidak hanya sampai di sini. Guru-guru tidak hanya memahami teori, tetapi bisa mengimplementasikan materi ini dalam kehidupan sehari-hari dan pembelajaran yang kondusif,” ujarnya.
Binti menilai penerapan budaya kerja aman di lingkungan sekolah harus menjadi praktik nyata, mulai dari kesiapan tenaga pendidik hingga desain pembelajaran yang memperhatikan aspek keselamatan. Ia juga berharap pelatihan serupa nantinya menjangkau siswa secara langsung agar budaya sadar K3L tumbuh sejak dini.
Melalui kegiatan ini, Divisi K3L UB dan BSS mendorong budaya keselamatan tidak berhenti pada pemahaman konseptual, tetapi menjadi bagian dari sistem pendidikan yang hidup dan berkelanjutan. (cay)













