Kanal24, Malang – Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya (FAPET UB) melahirkan inovasi riset di bidang peternakan dan pangan fungsional melalui ujian disertasi yang menyoroti potensi susu kuda Sumbawa sebagai sumber biopreservatif alami. Promotor disertasi, Prof. Dr. Ir. Lilik Eka Radiati, MS., IPU., menyampaikan bahwa penelitian tersebut sangat relevan karena mampu menjawab persoalan di wilayah Nusa Tenggara yang dikenal sebagai sentra susu kuda, namun selama ini belum memiliki justifikasi ilmiah yang kuat. Hal itu disampaikan dalam Ujian Disertasi Terbuka Program Doktor Ilmu Ternak Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya (FAPET UB) dengan judul āKarakteristik Bakteri Asam Laktat dan Senyawa Bioaktif Hasil Isolat dari Susu Kuda Sumbawa sebagai Biopreservatif Alam Panganā yang dilaksanakan pada Jumat (20/02/2026) di Lantai 5 Gedung Pascasarjana.
Menurut Prof. Lilik, susu kuda memiliki kandungan laktoferin yang tinggi serta komponen bioaktif yang disebut sebagai āsmart moleculeā dengan potensi fungsional luar biasa. Ia menilai, jika dikembangkan dan dikemas menjadi produk pangan fungsional, maka hilirisasi riset ini dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat di daerah penghasil susu kuda seperti NTT dan NTB. Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya pengembangan bibit unggul dan keberlanjutan publikasi internasional agar produk tersebut tidak hanya dikenal secara lokal, tetapi juga mampu bersaing di pasar regional seperti Malaysia.
Baca juga:
FTAB UB Pertahankan WBBM, Integritas dan Sistem Jadi Fondasi

Sementara itu, promovenda Riska Faradila menjelaskan bahwa penelitiannya berfokus pada isolasi bakteriosin dari susu kuda Sumbawa sebagai alternatif pengawet alami. Ia menerangkan bahwa bakteriosin tersebut diharapkan dapat menggantikan bahan pengawet sintetis dan mendukung program ketahanan pangan nasional melalui pengembangan biopreservasi berbasis bahan alami.
Potensi Besar Susu Kuda Sumbawa
Dalam pemaparannya, Prof. Lilik menguraikan bahwa selama ini susu kuda seolah tenggelam karena minimnya dukungan riset komprehensif. Padahal, kandungan laktoferin dan komponen bioaktif lainnya memiliki nilai tambah yang signifikan bagi kesehatan. Produk berbasis susu kuda tidak hanya berfungsi sebagai minuman, tetapi juga dapat dikembangkan menjadi pangan fungsional yang mendukung sistem imun dan kesehatan tubuh.
Ia juga menyoroti bahwa publikasi internasional terkait susu kuda telah membuka peluang pasar lebih luas. Dengan penguatan riset dan inovasi, daerah penghasil susu kuda didorong untuk meningkatkan kualitas ternak melalui pembibitan unggul. Hal ini dinilai penting agar rantai produksi, mulai dari hulu hingga hilir, dapat berjalan optimal dan memberikan dampak ekonomi nyata bagi masyarakat.
Bakteriosin sebagai Pengawet Alami
Riska Faradila dalam disertasinya meneliti bakteriosin yang dihasilkan oleh bakteri asam laktat dari susu kuda Sumbawa. Bakteriosin tersebut berpotensi menjadi pengawet alami yang aman dan efektif dalam memperpanjang umur simpan produk pangan. Ia menjelaskan bahwa konsep biopreservasi pangan menjadi langkah strategis dalam mengurangi ketergantungan terhadap bahan kimia sintetis.
Penelitian ini selaras dengan agenda pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan dan mendorong konsumsi pangan alami serta fungsional. Bakteriosin tidak hanya berperan sebagai antimikroba, tetapi juga memiliki potensi tambahan sebagai agen penyehat tubuh. Dengan demikian, produk yang dihasilkan tidak sekadar aman dikonsumsi, tetapi juga memberi manfaat kesehatan.

Tantangan Uji Keamanan dan Hilirisasi
Meski menunjukkan hasil menjanjikan, Prof. Lilik menekankan bahwa riset tidak boleh berhenti pada tahap ini. Ia menyarankan agar penelitian dilanjutkan dengan eksplorasi bakteri asam laktat lainnya, pengujian cemaran mikroba, serta pengujian lanjutan seperti uji toksisitas, WST, dan MTT guna memastikan keamanan produk secara menyeluruh.
Riska juga mengakui masih terdapat sejumlah pekerjaan rumah, terutama terkait uji keamanan pangan dan toksisitas. Ke depan, ia berharap dapat mematenkan produk bakteriosin hasil penelitiannya dan menjalin kerja sama dengan industri untuk proses komersialisasi. Langkah ini diharapkan mampu mendorong hilirisasi inovasi dari laboratorium ke pasar.
Pelaksanaan Ujian Disertasi Terbuka Program Doktor Ilmu Ternak FAPET UB ini menjadi bukti komitmen Fakultas Peternakan UB dalam mendorong riset aplikatif yang berdampak luas, baik bagi pengembangan ilmu peternakan maupun kesejahteraan masyarakat. (nid/cay)













