Kanal24, Malang – Pemerintah Kabupaten Malang terus mendorong upaya penanganan sampah secara berkelanjutan melalui rencana pembangunan fasilitas Waste to Energy berbasis incinerator di Kecamatan Pakis. Bupati Malang, Drs. H. M. Sanusi, M.M., menegaskan bahwa proyek ini menjadi langkah strategis dalam menyelesaikan persoalan sampah sekaligus menghasilkan energi listrik yang bermanfaat bagi masyarakat.
Menurut Sanusi, pemerintah daerah telah menjalin kerja sama sejak tahap awal dengan Universitas Brawijaya dalam proses penelitian serta pengembangan teknologi yang akan digunakan pada proyek tersebut. Pernyataan itu disampaikan saat acara Paparan Bupati Malang Terkait Incinerator Waste To Energy di Kecamatan Pakis, yang digelar pada Jumat (06/03/2026) di ruang rapat lantai 7 Gedung Rektorat Universitas Brawijaya.
“Sejak perencanaan awal kita bekerja sama dalam penelitian dan pengembangan teknologi bersama Universitas Brawijaya. Ketika proyek ini akan memasuki tahap ground breaking, maka kami melanjutkannya agar pelaksanaannya bisa berjalan cepat dan baik,” ujar Sanusi dalam paparannya.

Kolaborasi Pemkab dan Akademisi
Sanusi menjelaskan bahwa kolaborasi dengan Universitas Brawijaya menjadi salah satu fondasi penting dalam pengembangan proyek incinerator tersebut. Keterlibatan akademisi diharapkan mampu memberikan dukungan kajian ilmiah sekaligus memastikan teknologi yang digunakan sesuai dengan kebutuhan pengelolaan sampah modern.
Ia menilai perguruan tinggi memiliki kapasitas penelitian yang dapat membantu pemerintah daerah dalam merumuskan solusi inovatif. Dengan dukungan kajian akademik, pembangunan fasilitas Waste to Energy diharapkan efektif dalam mengolah sampah dan juga ramah lingkungan serta berkelanjutan.
Melalui kerja sama ini, pemerintah daerah juga berharap proses implementasi teknologi dapat berjalan lebih terarah dan terukur. Hasil riset yang dilakukan bersama para peneliti menjadi dasar dalam menentukan konsep pengolahan sampah yang paling sesuai dengan kondisi Kabupaten Malang.
Skema Proyek dan Dukungan Pemerintah
Dalam pemaparannya, Sanusi juga menjelaskan skema pembagian peran antara pemerintah daerah dan pemerintah pusat dalam proyek tersebut. Pemerintah Kabupaten Malang, kata dia, bertugas menyediakan lahan serta memastikan ketersediaan pasokan sampah sebagai bahan baku utama pengolahan.
“Dari hasil rapat pemerintah daerah, Pemkab Malang menyediakan lahan seluas enam hektar untuk proyek ini. Selain itu, kami juga menyiapkan pasokan sampah sekitar 1.000 ton per hari,” jelasnya.
Sementara itu, pengelolaan teknologi dan pengembangan fasilitas akan dilakukan oleh pemerintah pusat melalui kementerian terkait, khususnya Kementerian Lingkungan Hidup. Kerja sama lintas institusi ini diharapkan mampu mempercepat realisasi proyek sekaligus memastikan pengelolaan sampah berjalan secara terintegrasi.
Menurut Sanusi, model kolaborasi tersebut menjadi langkah strategis untuk mempercepat pembangunan fasilitas pengolahan sampah modern yang selama ini menjadi kebutuhan mendesak bagi Kabupaten Malang.
Solusi Penanganan Sampah Kabupaten Malang
Kabupaten Malang merupakan salah satu wilayah dengan jumlah penduduk besar di Jawa Timur, sehingga volume sampah yang dihasilkan setiap hari juga cukup tinggi. Kondisi ini membuat pemerintah daerah terus mencari solusi jangka panjang dalam pengelolaan sampah.
Sanusi menegaskan bahwa pembangunan fasilitas incinerator Waste to Energy menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah untuk menyelesaikan persoalan sampah secara tuntas.
“Peran Kabupaten Malang adalah mengelola penyelesaian sampah secara menyeluruh. Dengan adanya fasilitas ini, diharapkan masalah sampah dapat ditangani dengan lebih efektif,” katanya.
Fasilitas tersebut nantinya akan mengolah sampah menjadi energi melalui proses pembakaran terkontrol menggunakan teknologi modern. Selain mengurangi volume sampah yang masuk ke tempat pembuangan akhir, sistem ini juga dapat menghasilkan energi listrik yang dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan masyarakat.
Dorong Investasi dan Lapangan Kerja
Lebih jauh, Sanusi menyebut proyek Waste to Energy juga memiliki potensi besar dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Keberadaan fasilitas pengolahan sampah modern diyakini mampu menarik investasi sekaligus membuka peluang kerja baru bagi masyarakat.
Ia menuturkan bahwa pembangunan pabrik pengolahan sampah menjadi energi akan memicu aktivitas ekonomi baru di wilayah sekitar. Selain menghadirkan investasi, proyek tersebut juga akan menyerap tenaga kerja dari masyarakat setempat.
“Program Waste to Energy ini akan menghasilkan energi listrik. Dari situ pemerintah daerah juga mendapatkan manfaat berupa peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui investasi yang bergulir, pertumbuhan ekonomi, serta penambahan tenaga kerja yang bekerja di pabrik tersebut,” ungkap Sanusi.
Dengan berbagai manfaat yang ditawarkan, Pemerintah Kabupaten Malang berharap proyek incinerator Waste to Energy di Kecamatan Pakis dapat segera direalisasikan. Kehadiran fasilitas ini diharapkan menjadi solusi inovatif dalam pengelolaan sampah sekaligus mendorong pembangunan ekonomi yang lebih berkelanjutan di wilayah Kabupaten Malang. (nid/qrn)














