Kanal24, Malang – Ketegangan geopolitik yang terus meningkat di berbagai kawasan dunia kini mulai mengguncang stabilitas perdagangan global. Jalur energi strategis, rivalitas kekuatan besar, hingga perubahan sistem keuangan internasional menjadi faktor yang memperbesar ketidakpastian ekonomi dunia.
Isu tersebut menjadi sorotan dalam forum internasional bertajuk “Cabaran Pasaran Global di Era Geopolitik Semasa” yang digelar secara daring pada Selasa (08/04/2026). Forum yang diselenggarakan jaringan Politeknik Malaysia ini menghadirkan akademisi lintas negara untuk membedah dampak geopolitik terhadap perdagangan global.
Baca juga:
Perang AS–Iran: Konflik Cepat atau Berkepanjangan

Dalam forum tersebut, Dr. Syed Abdullah Yahya Ibrahim dari Universitas Brawijaya, Indonesia, menegaskan bahwa posisi Iran di sekitar Selat Hormuz memberikan nilai strategis besar dalam percaturan global. Ia menjelaskan bahwa kedekatan dengan jalur vital perdagangan energi dunia membuat Iran mampu menciptakan leverage melalui pengelolaan tekanan geopolitik, termasuk dengan memanfaatkan ketidakpastian kawasan untuk memengaruhi stabilitas harga dan kebijakan global.
“Gangguan di jalur energi seperti Selat Hormuz tidak harus terjadi secara penuh untuk menimbulkan dampak besar. Ketidakpastian saja sudah cukup memicu reaksi pasar global,” ujarnya dalam diskusi.
Pembicara lain, Dr. Muath Amayreh dan Dr. M. Shahir Sheikh, turut menekankan pentingnya kolaborasi internasional dan kebijakan ekonomi yang adaptif dalam menghadapi ketidakpastian global.
Forum yang dimoderatori Aini Hazrin Binti Ahmad Anuar ini berlangsung interaktif dengan partisipasi akademisi, mahasiswa, dan praktisi. Diskusi diharapkan mampu memperkaya perspektif serta mendorong solusi strategis dalam menghadapi dinamika geopolitik yang kian kompleks.
Penyelenggara menilai forum ini menjadi ruang penting untuk memahami bahwa geopolitik tidak hanya soal konflik, tetapi juga berkaitan erat dengan energi, perdagangan, dan masa depan tatanan ekonomi global. (nid)














