Oleh: Syed Abdullah Yahya Ibrahim*
Di tengah keyakinan bahwa tatanan global masih dikendalikan oleh kekuatan besar, realitas justru menunjukkan sesuatu yang lebih rapuh. Stabilitas yang selama ini dianggap mapan ternyata bertumpu pada titik-titik sempit yang sangat rentan. Salah satunya adalah Selat Hormuz.
Selat ini mungkin hanya garis kecil di peta, tetapi perannya jauh melampaui ukurannya. Sekitar seperempat perdagangan minyak dunia melintas di sana. Artinya, setiap ketegangan di kawasan ini tidak pernah benar-benar bersifat lokal. Ia selalu beresonansi secara globalāmenggerakkan harga energi, memicu kepanikan pasar, hingga memaksa negara-negara jauh dari Timur Tengah menyesuaikan kebijakan mereka.
Dalam konteks inilah Iran menjadi sulit diabaikan.
Sejumlah analisis geopolitik menunjukkan bahwa nilai strategis Iran tidak semata ditentukan oleh kekuatan ekonominya, melainkan oleh kemampuannya mengolah posisi geografis menjadi daya tawar. Kedekatannya dengan Selat Hormuz menempatkan Iran di salah satu titik paling krusial dalam sistem energi globalāsebuah posisi yang membuatnya tetap relevan, bahkan di tengah tekanan sanksi dan isolasi.
Di sinilah terlihat perbedaan antara sekadar posisi geografis dan kemampuan geostrategis. Banyak negara memiliki lokasi strategis, tetapi tidak semuanya mampu mengubahnya menjadi pengaruh nyata. Iran menunjukkan bahwa tekanan tidak selalu berujung pada kelemahan. Dalam kondisi tertentu, tekanan justru dapat diolah menjadi leverage.
Strategi Ketidakpastian
Berbeda dengan bayangan umum tentang konflik terbuka, dinamika di sekitar Iran menunjukkan bahwa kekuatan tidak selalu dimainkan melalui eskalasi total. Penutupan Selat Hormuz secara permanen, misalnya, bukanlah pilihan rasional karena dampaknya akan menghantam balik ekonomi kawasan, termasuk Iran sendiri.
Sebaliknya, yang tampak adalah strategi menciptakan ketidakpastian yang terukur.
Ancaman yang tidak sepenuhnya diwujudkan justru memiliki efek strategis yang luas. Harga minyak dapat naik hanya karena potensi gangguan. Biaya asuransi pelayaran meningkat tanpa perlu adanya blokade nyata. Negara-negara besar pun terdorong menyesuaikan kebijakan merekaābukan karena perang, tetapi karena kemungkinan perang.
Dalam logika ini, kekuatan tidak lagi semata diukur dari kemampuan menghancurkan, melainkan dari kemampuan menciptakan risiko yang kredibel. Ketidakpastian menjadi instrumen.
Namun, strategi ini bukan tanpa risiko. Ketegangan yang terus dipelihara dapat dengan mudah melampaui batas kendali. Dalam kawasan yang sensitif seperti Timur Tengah, salah kalkulasi dapat berujung pada eskalasi yang lebih luas.
Menuju Dunia Multipolar
Di sisi lain, dinamika ini juga membuka pertanyaan tentang arah tatanan global. Selama beberapa dekade, sistem ekonomi dunia bertumpu pada dominasi dolar AS. Hingga kini, dominasi tersebut masih kuat dalam cadangan devisa global.
Namun, retakan mulai terlihat.
Sanksi ekonomi dan fragmentasi geopolitik mendorong sebagian negara mencari alternatif dalam transaksi energi. Dalam konteks tertentu, penggunaan mata uang selain dolar mulai mendapatkan ruang, meskipun masih terbatas.
Ini tidak serta-merta menandai berakhirnya dominasi lama. Dolar masih menjadi jangkar utama sistem keuangan global. Namun, kepastian tentang masa depan dominasi tunggal mulai memudar. Dunia bergerak menuju bentuk yang lebih multipolarāmeski prosesnya bertahap dan belum selesai.
Dalam fase transisi seperti ini, aktor-aktor yang sebelumnya tertekan justru menemukan ruang baru untuk tetap relevan.
Cermin bagi Indonesia
Bagi Indonesia, dinamika ini bukan sekadar peristiwa jauh di Timur Tengah. Ia adalah refleksi dari kerentanan domestik yang nyata.
Ketergantungan tinggi pada impor minyak membuat setiap gejolak global dengan cepat terasa di dalam negeri. Kenaikan harga energi tidak berhenti pada sektor energi, tetapi merambat ke inflasi, subsidi, hingga daya beli masyarakat.
Masalahnya bukan hanya pada besarnya ketergantungan, tetapi juga pada kesiapan sistem. Cadangan energi yang terbatas, infrastruktur yang belum sepenuhnya adaptif, serta lambatnya diversifikasi membuat Indonesia berada dalam posisi reaktif.
Dalam kondisi seperti ini, krisis global dengan mudah berubah menjadi tekanan domestik.
Jika dibandingkan, beberapa negara memiliki bantalan yang lebih kuat dalam menghadapi gejolak. Namun Indonesia masih berhadapan dengan persoalan struktural yang membuatnya lebih rentan terhadap guncangan eksternal. Setiap ketegangan di jalur energi global, sekecil apa pun, berpotensi memicu efek berantai di dalam negeri.
Antara Kekuatan dan Kerentanan
Kasus Iran memperlihatkan bahwa kekuatan dalam politik global tidak selalu identik dengan stabilitas. Leverage yang besar sering kali berjalan beriringan dengan risiko yang sama besar.
Di satu sisi, kemampuan mengelola tekanan menjadikan suatu negara tetap diperhitungkan. Di sisi lain, posisi tersebut juga menempatkannya dalam pusaran ketegangan yang terus-menerus.
Bagi negara seperti Indonesia, tantangannya berbeda. Bukan bagaimana menciptakan leverage global, melainkan bagaimana bertahan dari dampak leverage pihak lain.
Pada akhirnya, dunia hari ini tidak sepenuhnya stabil, tetapi juga belum sepenuhnya berubah. Ia berada di ruang antaraādi mana dominasi lama belum runtuh, tetapi kekuatan baru mulai muncul.
Dalam situasi seperti itu, satu hal menjadi semakin jelas: ketahanan domestik bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. Tanpa fondasi energi yang kuat, setiap gejolak global akan selalu menemukan jalannya untuk menjadi krisis di dalam negeri.
*) Dr. Syed Abdullah Yahya Ibrahim, S.Sos., M.Hub.Int.
Penulis adalah Koordinator Iran Corner FISIP Universitas Brawijaya dan Pakar Timur Tengah













