Kanal24, Malang – Perguruan tinggi kini menghadapi dilema baru: mendorong kemandirian finansial tanpa kehilangan jati diri sebagai institusi pendidikan. Di Universitas Brawijaya (UB), tantangan ini nyata terasa dalam pengelolaan Badan Pengelola Usaha (BPU) yang dituntut tumbuh secara bisnis, sekaligus tetap menjaga nilai akademik dan dampak sosial.
Di satu sisi, tekanan untuk menghasilkan profit terus meningkat. Di sisi lain, kampus tidak bisa sepenuhnya bergerak seperti korporasi. Di titik inilah arah pengembangan BPU UB diuji.
Menata Arah: Bisnis Kampus Bukan Sekadar Profit
Wakil Direktur Bidang Pengembangan Usaha dan Pemasaran BPU UB, Nanang Endrayanto, S.S., M.Sc., menegaskan bahwa pengelolaan usaha di lingkungan kampus harus memiliki karakter berbeda dibandingkan bisnis pada umumnya.
“Basis kita adalah perguruan tinggi. Pemasaran tidak hanya mengejar keuntungan, tetapi juga memberikan dampak untuk masyarakat luas,” ujarnya.
Menurutnya, langkah strategis yang kini dilakukan adalah melakukan repositioning BPU dalam ekosistem UB, agar terbangun sinergi yang kuat dengan berbagai unit di bawah rektorat maupun fakultas.
Baca juga : Dorong Kemandirian Kampus, Ira Puspadewi: BPU UB Perlu Perkuat Ekosistem Internal
“Potensi UB sangat besar. Kita akan memetakan ulang posisi BPU dalam ekosistem kampus, sehingga sinergi dengan unit-unit lain bisa berjalan lebih optimal,” jelasnya.
Nanang menekankan bahwa orientasi BPU tidak berhenti pada return on investment, tetapi juga harus menghadirkan return on educational impact.
“Bagaimana usaha ini bisa memberi dampak pendidikan, itu yang harus dihitung. Tidak semua harus dilepas ke pasar untuk profit,” katanya.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan agar mahasiswa tidak terjebak menjadi objek pasar atau tenaga kerja murah dalam ekosistem bisnis kampus.
“Kita tidak boleh menjebak mahasiswa menjadi pasar atau tenaga kerja murah. Reputasi keilmuan harus tetap dijaga,” tegasnya.

Tekanan Nyata: Risiko, Transformasi, dan Kompetisi
Namun, arah ideal tersebut tidak lepas dari tantangan besar di lapangan. Wakil Direktur Bidang Perencanaan Usaha dan Manajemen Risiko BPU UB, Ir. Purnomo, menyoroti bahwa penguatan bisnis tanpa diimbangi manajemen risiko justru dapat menjadi ancaman serius.
“Dalam situasi bisnis yang penuh ketidakpastian, manajemen risiko menjadi sangat penting. Ini berpengaruh besar terhadap pertumbuhan bisnis dan profit,” ujarnya.
Menurutnya, selama ini masih terdapat kecenderungan fokus pada profit tanpa perhitungan risiko yang matang. Padahal, setiap unit usaha harus mampu mengidentifikasi potensi risiko dan menyiapkan langkah mitigasinya.
“Risiko harus dianalisis, mitigasinya harus disiapkan. Kalau tidak, dampaknya bisa langsung ke kinerja perusahaan,” jelasnya.
Selain itu, tantangan internal juga muncul dalam bentuk transformasi organisasi yang masih berlangsung.
Baca juga : Target Kampus Naik, BPU UB Masuk Mode Akselerasi
“Mindset harus berubah. Tidak bisa lagi bergantung pada universitas. Unit usaha harus mandiri dan profesional,” tegasnya.
Di sisi eksternal, dinamika politik, ekonomi, sosial, dan lingkungan juga menjadi faktor yang tidak bisa diabaikan dalam perencanaan bisnis.
“Faktor eksternal harus dipertimbangkan sejak awal. Itu bagian dari risiko yang harus dihadapi,” tambahnya.
Jalan Tengah: Sinergi, Inovasi, dan Kepemimpinan
Menjawab tantangan tersebut, BPU UB mulai mendorong pendekatan yang lebih seimbang—menggabungkan pertumbuhan bisnis, manajemen risiko, dan dampak sosial dalam satu kerangka pengelolaan.
Purnomo menekankan bahwa salah satu kunci utama terletak pada kualitas kepemimpinan di setiap unit usaha.
“Leader itu harus mampu membawa perubahan dan menghadapi risiko. Kalau tidak tepat orangnya, risiko sudah di depan mata,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya membangun budaya organisasi yang memiliki kesadaran terhadap krisis dan kompetisi.
“Unit usaha harus punya sense of crisis dan memahami bahwa bisnis itu penuh kompetisi. Cara menangnya adalah inovasi,” katanya.
Sementara itu, Nanang melihat bahwa penguatan konsep social enterprise menjadi arah strategis yang relevan bagi kampus.
“Bisnis di universitas harus menjadi enterprise sosial. Tidak hanya profit, tetapi juga memberi manfaat bagi pendidikan dan masyarakat,” ujarnya.
Dengan kombinasi strategi tersebut, BPU UB berupaya menemukan titik keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan tanggung jawab akademik. Di tengah tekanan target dan dinamika bisnis, arah ini menjadi penentu: apakah kampus mampu tumbuh sebagai entitas mandiri tanpa kehilangan nilai yang menjadi fondasinya.(Din)













