Kanal24, Malang – Universitas Brawijaya mulai tancap gas dengan langkah serius menuju kampus hijau kelas dunia. Lewat pelatihan intensif dan kerja sama strategis, kampus ini tak hanya menghitung emisi karbonnya—tetapi juga membidik peluang cuan dari perdagangan karbon internasional.
Dengan landasan ini, Universitas Brawijaya (UB) menggelar pelatihan sekaligus penandatanganan kerja sama dengan PT Semesta Himba Borneo dalam upaya memperkuat kapasitas pengelolaan emisi karbon. Kegiatan yang berlangsung Selasa (13/04/2026) ini menjadi tonggak awal percepatan target net zero emission di lingkungan kampus.
Kepala UPT UB Forest, Dr. Mochammad Roviq, menjelaskan bahwa langkah pertama yang harus dilakukan adalah menghitung secara menyeluruh emisi gas rumah kaca yang dihasilkan oleh aktivitas kampus. Tak hanya emisi langsung, tetapi juga emisi tidak langsung dari berbagai layanan dan fasilitas universitas.
Baca juga:
Ketemu Mahasiswa Asing, Mahasiswa Fapet UB Siap Bersaing

“Setelah itu, kita hitung juga cadangan karbon yang ada di UB Forest. Kalau hasilnya surplus, maka ada peluang untuk masuk ke skema perdagangan karbon. Namun jika masih defisit, kita harus meningkatkan cadangan karbon,” jelasnya.
Ia menekankan bahwa emisi gas rumah kaca dan jasa lingkungan karbon adalah dua hal yang saling berkaitan dan tidak bisa dipisahkan. Karena itu, pelatihan dilakukan dalam dua metode, yakni klasikal dan praktikal, dengan UB Forest sebagai lokasi praktik lapangan.
Tantangan Implementasi ISO 14064 di Dunia Kampus
Direktur PT Semesta Himba Borneo, Irsan Supratman, menyebut kerja sama ini sebagai langkah strategis dalam menjembatani teori akademik dan praktik lapangan. Perusahaannya akan berperan sebagai mentor sekaligus pendamping dalam implementasi standar internasional ISO 14064 terkait pengukuran emisi gas rumah kaca.
Menurut Irsan, tantangan terbesar dalam penerapan standar ini bukan pada konsep, melainkan pada tahap implementasi di lapangan. “Secara teori tidak terlalu sulit, tapi ketika masuk ke aplikasi, di situ tantangan muncul. Karena itu penting adanya sharing antara praktisi dan akademisi,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa pihaknya akan menghadirkan narasumber berpengalaman, termasuk auditor, untuk membantu mengidentifikasi titik lemah dalam proses penghitungan emisi. Dengan demikian, hasil akhir diharapkan sesuai dengan standar yang ditetapkan.
Lebih jauh, PT Semesta Himba Borneo juga berkomitmen mendampingi UB dalam mencetak tenaga teknis bersertifikasi Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP). Pendampingan ini diharapkan mampu meningkatkan kualitas sumber daya manusia di bidang kehutanan dan lingkungan.
Dorong Green Campus dan Daya Saing Global
Sementara itu, Kepala UPT Green Campus UB, Prof. Sri Suhartini, menegaskan bahwa pelatihan ini merupakan bagian dari upaya meningkatkan kredibilitas universitas melalui penyusunan sustainability report yang akurat dan terstandar.

“Pelatihan ini penting agar kami bisa menghitung emisi gas rumah kaca secara tepat, konsisten, dan dapat dipertanggungjawabkan. Ini juga menjadi bagian dari peningkatan kinerja institusi di tingkat nasional maupun internasional,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa pelatihan mencakup dua aspek utama, yakni pengukuran emisi gas rumah kaca berbasis ISO 14064 serta kompetensi ganis jasa lingkungan karbon. Peserta berasal dari UPT Green Campus dan UPT UB Forest, dengan target memperoleh sertifikasi kompetensi.
Tak hanya berhenti pada tenaga kependidikan dan dosen, program ini juga diarahkan untuk menjangkau mahasiswa. Harapannya, lulusan UB nantinya memiliki literasi lingkungan yang kuat, khususnya dalam menghitung jejak karbon.
“Ke depan, kami ingin mahasiswa juga memiliki kompetensi ini. Sehingga mereka punya daya saing lebih tinggi di dunia kerja, terutama di sektor yang berkaitan dengan lingkungan dan keberlanjutan,” tambahnya.
Dengan adanya pelatihan dan kerja sama ini, Universitas Brawijaya optimistis dapat memperluas jejaring kerja sama, termasuk dengan mitra internasional. Target jangka panjangnya tidak hanya mencapai net zero emission, tetapi juga berperan aktif dalam skema perdagangan karbon global. (nid)














