Kanal24 – Pagi di kelas itu, perkuliahan biasanya tidak langsung mulai dengan materi. Mahasiswa datang, ada yang sudah siap, ada yang masih membuka laptop, ada yang masih sibuk dengan ponselnya.
Di kelasnya, Dr. Hiqma Nur Agustina biasanya tidak langsung mengajar. Ia justru mulai dengan cerita. Bisa tentang sesuatu yang sedang viral di media sosial, bisa tentang pengalaman yang pernah ia alami, dan dari situ kelas pelan-pelan bergerak. Mahasiswa menanggapi, ada yang setuju, ada yang menolak. Kelas menjadi lebih hidup dari narasi yang disampaikan.
“Kalau kita bicara narasi itu sebenarnya sederhana, itu cerita,” katanya di satu kesempatan, seperti menjelaskan hal yang sehari-hari sebenarnya sudah dilakukan semua orang.
Ia sampai di titik ini lewat rute yang panjang, bahkan sempat memutar. Namun, justru perjalanan yang berliku itulah yang membuatnya punya banyak cerita untuk dibawa pulang.

Mulai menjadi Pengajar
Ia memulai dari sastra Inggris di Universitas Sanata Dharma. Di masa itu, mengajar sudah terasa seperti panggilan. Sejak semester tiga, ia sudah berdiri di depan kelas, mengajar di lembaga bahasa.
“Passion saya memang mengajar,” begitu ia bilang.
Tapi di akhir 1990-an, ada fase ketika dunia komunikasi terasa lebih menarik. Televisi sedang berkembang, industri media mulai terlihat lebih hidup, dan ia melihat banyak kesempatan di sana.
Ia kemudian mengambil magister ilmu komunikasi di Universitas Indonesia, dengan bayangan suatu hari bisa masuk ke dunia broadcast. Waktu itu bahkan ada keinginan untuk bekerja di televisi, karena menurutnya komunikasi membuka banyak pilihan, tidak harus selalu jadi pengajar.
Namun rencana itu tidak berjalan seperti yang dibayangkan. Menjelang lulus, ia menikah. Tidak lama setelah itu, ia mengandung anak pertama.
“Waktu itu kalau mau kerja di RCTI harus single,” katanya, mengingat detail kecil yang justru ikut menentukan arah hidupnya.
Rencana untuk masuk ke dunia media yang sebelumnya sudah ia pikirkan jadi berubah. Ada hal-hal yang harus dipertimbangkan ulang, terutama soal waktu dan ritme kerja di Jakarta yang menurutnya cukup berat, apalagi untuk perempuan yang sudah berkeluarga.
Di titik itu, ia memutuskan untuk berubah haluan dengan penuh kesadaran, tanpa penyesalan.
Ia kembali mengajar.
Kembali Menekuni Sastra
Ada satu keputusan yang kemudian tampak sederhana, tapi sebenarnya menentukan banyak hal setelahnya: kembali ke sastra.
Saat itu ia sudah memiliki gelar magister ilmu komunikasi. Secara praktis, itu cukup. Tapi ada sebuah kegelisahan. Ia merasa jalur akademiknya tidak benar-benar “nyambung”. Tidak linear.
“Kalau saya mau jadi pengajar di perguruan tinggi, saya harus jelas,” begitu yang ia pikirkan.
Ia mengambil magister kedua, kali ini kembali ke ilmu sastra, lagi-lagi di Universitas Indonesia. Keputusan yang bagi sebagian orang mungkin berlebihan—dua S2, di bidang yang berbeda. Namun ia meyakini, kalau ingin serius menjadi pengajar di perguruan tinggi, ia butuh dasar yang jelas.
“Kalau suatu saat nanti kebijakan berubah, saya enggak mau kena masalah,” katanya, menjelaskan kenapa ia merasa perlu memastikan linearitas itu.
Dari Teks Sastra ke Cerita Kehidupan
Ia menyelesaikan S2 kedua itu dalam dua tahun. Dari sana, ia mulai masuk lebih dalam ke kajian sastra dan budaya. Membaca, meneliti, dan menemukan ketertarikan pada tema-tema yang tidak banyak dipilih orang.
Salah satu pengaruh datang dari sebuah novel The Kite Runner karya Khaled Hosseini, seorang penulis berkebangsaan Afghanistan-Amerika. Ia membacanya berulang kali, merasa sangat dekat dengan karakter di dalamnya dan ikut terhanyut dalam setiap konflik.
“Setiap selesai membaca, saya selalu menangis,” katanya.
Dari situ, arah risetnya terbentuk. Ia menekuni karya-karya sastra diaspora Timur Tengah, membangun fokus yang tidak umum, tapi justru memberinya ruang. Bahkan sempat ada tawaran untuk mengajar di Amerika Serikat — tawaran yang sangat menggiurkan.
Tapi tidak semua kesempatan harus diambil.

Mencari Pijakan
Ia mengajar di banyak tempat. Di PKN STAN cukup lama, juga di Universitas Al Azhar Indonesia, Universitas Muhammadiyah Tangerang, dan di UNIS Tangerang. Saat itu ia belum merasa perlu punya satu tempat tetap.
“Saya lebih menikmati jadi dosen part timer,” katanya.
Sampai suatu hari, seseorang menanyakan hal yang sederhana: “Homebase-nya di mana?”
Ia tidak punya jawaban.
Pertanyaan itu tinggal cukup lama di kepalanya. Selama ini ia tidak pernah merasa perlu memilih satu tempat. Mengajar saja sudah cukup. Tapi dunia akademik punya logika lain. Ada jenjang, ada sistem, ada kemungkinan yang tidak bisa diakses tanpa pijakan yang jelas.
Keputusan itu datang dengan cara yang menurutnya juga tidak biasa. Suatu hari ia melewati kampus UNIS Tangerang dan melihat baliho besar tentang pembangunan kampus baru. Ia tidak tahu kenapa, tapi merasa seperti mendapat isyarat.
“Kayaknya ini kampus yang Allah pilihkan buat saya,” katanya.
Ia kemudian mendaftar sebagai dosen tetap di sana. Dari situ, ia punya homebase, dan itu membuka jalan untuk melanjutkan ke jenjang berikutnya.
Ia melanjutkan S3, tetap di bidang sastra, kembali ke Universitas Indonesia.
Belajar Lagi, dari Awal
Tahun 2019 menjadi titik lain yang mengubah arah hidupnya. Ia mendapat informasi bahwa Politeknik Negeri Malang membuka program studi baru, Bahasa Inggris untuk Komunikasi Bisnis dan Profesional. Kriterianya terasa seperti potongan puzzle yang selama ini ia kumpulkan: komunikasi, bahasa Inggris, dan pengalaman mengajar.
Ia mencoba mendaftar. Meski sempat ragu meninggalkan posisi yang sudah mapan.
“Jadi anak baru lagi itu tidak selalu enak,” katanya, sambil tertawa kecil.
Tapi ia tetap menjalani prosesnya. Tes demi tes, bolak-balik Jakarta–Malang. Sampai akhirnya diterima.
Ia pindah ke Malang.
Di situ, ia tidak hanya berpindah tempat, tapi juga harus mengubah cara berpikir. Dari yang sebelumnya sangat teoritis, kini harus berhadapan dengan dunia terapan.
“Penelitian itu harus langsung dirasakan manfaatnya,” katanya.
Riset tidak lagi berhenti di konsep, tapi harus berdampak. Ia menyebut masa itu sebagai fase “belajar berdarah-darah”. Pernah menyusun proposal penelitian dalam semalam, mencoba memahami skema baru, beradaptasi dengan ritme yang berbeda.

Narasi, Cara Lain Memberi Makna
Pelan-pelan, fokusnya berubah. Ia tidak lagi berkutat pada teks sastra semata, tapi pada sesuatu yang lebih dekat dengan keseharian: narasi.
Ia mulai fokus pada narasi, storytelling, dan media. Ia mulai membangun narasi kampung, cerita UMKM, cerita yang sering dianggap sepele.
Ia mengembangkan video naratif bilingual untuk kampung tematik. Mencoba menerjemahkan cerita lokal menjadi sesuatu yang bisa dipahami lebih luas. Baginya, selain proyek penelitian, ini adalah cara lain untuk mengajar—di luar kelas.
“Segala sesuatu yang kita alami itu sebenarnya bisa dinarasikan,” katanya.
Mungkin itu pula yang ia kerjakan selama ini. Di balik rutinitas mengajar, ia sebenarnya sedang merangkai kepingan narasi—baik tentang dirinya, para mahasiswa, maupun segala keputusan ia pilih dalam perjalanannya.
Di ruang kelas, ia masih memulai dengan narasi-narasi itu.
Tentang bagaimana dulu ia menjalani studi — sempat tersisih dari seleksi universitas negeri dan memulai dari swasta, sebelum akhirnya ‘hattrick‘ menempuh studi di UI. Tentang bagaimana ia kemudian membuktikan sesuatu, bukan ke orang lain, tapi ke dirinya sendiri.
Ia memang sengaja menceritakan itu ke mahasiswa.
“Supaya mereka berpikir,” katanya.
Ia tidak ingin hanya dikenal sebagai dosen yang mengajar. Ia ingin kehadirannya juga meninggalkan sesuatu. Cukup sesuatu yang membuat orang lain bergerak sedikit lebih jauh. (Din)














