Kanal24, Malang – Persaingan perguruan tinggi di Asia semakin ketat, ditopang kekuatan riset, kolaborasi global, dan kualitas publikasi. Dalam lanskap ini, posisi universitas tidak hanya ditentukan oleh reputasi, tetapi juga kemampuan membangun ekosistem akademik yang terintegrasi dan berdampak.
Universitas Brawijaya (UB) terus mencatatkan kehadirannya dalam Times Higher Education (THE) Asia University Rankings 2026 dengan menempati cluster 601–800 Asia. Capaian ini menempatkan UB dalam tabel utama pemeringkatan perguruan tinggi Asia, sekaligus menunjukkan konsistensi kehadiran UB dalam kompetisi pendidikan tinggi regional.
Wakil Rektor Bidang Akademik UB, Prof. Imam Santoso, menilai capaian ini merupakan bagian dari fase percepatan yang sedang dijalankan universitas.
“Ini merupakan fase akselerasi yang telah kita lakukan dan merupakan buah dari program-program prioritas Rektor, khususnya di bidang akademik,” katanya.
Untuk memperkuat posisi internasional, UB secara masif memperluas kolaborasi global melalui berbagai program strategis seperti Adjunct Professor, Visiting Lecture, hingga UB Star. Langkah ini juga diikuti dengan peningkatan kapasitas sumber daya manusia.
“Kita mengirim mahasiswa ke luar negeri serta mendukung dosen untuk berkolaborasi dalam sistem pembelajaran, riset, hingga publikasi bersama mitra internasional,” katanya.
Ia menegaskan bahwa penguatan indikator pemeringkatan akan terus dilakukan melalui riset dan inovasi yang terintegrasi dengan jejaring global.
“Program Pak Rektor di bidang riset inovasi mengarah pada penguatan International Networking. Kami juga mendukung mahasiswa untuk melakukan riset di luar negeri agar tercipta kolaborasi publikasi yang kuat,” katanya.

Kompetisi Asia Didominasi Kekuatan Riset
THE Asia University Rankings 2026 mencakup 929 universitas dari 36 negara dan wilayah di Asia, dengan penilaian berbasis lima pilar utama: Teaching (24,5 persen), Research Environment (28 persen), Research Quality (30 persen), International Outlook (7,5 persen), dan Industry (10 persen).
Di tingkat Asia, peringkat teratas masih ditempati universitas dengan kekuatan riset tinggi. Tsinghua University berada di posisi pertama, diikuti Peking University dan National University of Singapore. Dominasi juga terlihat dari universitas China, Singapura, Jepang, dan Hong Kong.
Di Indonesia, Universitas Indonesia menempati posisi tertinggi pada cluster 201–250 Asia. Institut Teknologi Bandung, Universitas Gadjah Mada, dan Universitas Sebelas Maret berada di cluster 351–400, diikuti BINUS University (401–500), serta Universitas Diponegoro, IPB University, dan Universitas Airlangga di cluster 501–600.
Universitas Brawijaya berada pada cluster 601–800 bersama sejumlah perguruan tinggi nasional lainnya seperti UNHAS, ITS, dan UM.
Kekuatan di Internasionalisasi dan Industri
Berdasarkan indikator, UB mencatatkan overall score pada rentang 23,3–30,8. Pada aspek Teaching, UB memperoleh skor 29,3, sementara Research Environment berada pada 15,8. Pada aspek Research Quality, UB mencatat skor 29,6.
UB menunjukkan kekuatan pada aspek Industry dengan skor 36,2 serta International Outlook sebesar 43,8. Capaian ini mencerminkan potensi kolaborasi industri, inovasi, hilirisasi riset, serta perluasan jejaring global.
Kepala UPT Global Partnership and Reputation UB, Hendrix Yulis Setyawan, Ph.D., menegaskan bahwa hasil ini perlu dibaca sebagai bagian dari proses transformasi institusi.
“Masuknya Universitas Brawijaya dalam THE Asia University Rankings 2026 menunjukkan bahwa UB terus hadir dalam peta kompetisi pendidikan tinggi Asia. Pemeringkatan ini bukan hanya soal posisi, tetapi juga menjadi instrumen refleksi untuk memperkuat kualitas akademik, riset, kolaborasi internasional, dan kontribusi UB bagi masyarakat,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa kekuatan pada aspek International Outlook dan Industry menjadi modal penting dalam penguatan reputasi global UB.

Riset dan Publikasi Jadi Kunci Kenaikan Peringkat
UB juga mencatat tren positif dalam publikasi ilmiah bereputasi. Publikasi pada jurnal Q1 dan Q2 meningkat signifikan, dari sekitar 300 publikasi pada 2020 menjadi sekitar 1.500 publikasi pada 2025. Peningkatan ini menunjukkan penguatan kualitas riset sekaligus daya saing akademik di tingkat internasional.
Di sisi lain, penguatan tata kelola data pemeringkatan menjadi fokus penting agar capaian institusi dapat terdokumentasi secara lebih akurat dan terukur.
“UB memiliki modal besar, mulai dari dosen, mahasiswa, jejaring alumni, pusat riset, kerja sama internasional, hingga kontribusi kepada masyarakat. Tantangan berikutnya adalah mengonsolidasikan seluruh potensi tersebut agar semakin terlihat dalam indikator reputasi global,” jelas Hendrix.
Ke depan, UB akan terus memperkuat strategi peningkatan reputasi melalui riset berkualitas, kolaborasi global, kerja sama industri, serta pengembangan program akademik bertaraf internasional.
Capaian di cluster 601–800 Asia menjadi pijakan untuk mendorong UB naik ke level yang lebih tinggi dalam pemeringkatan berikutnya, sekaligus mempertegas komitmen sebagai perguruan tinggi yang berkontribusi pada pengembangan ilmu pengetahuan dan pembangunan berkelanjutan.(din)














