Kanal24, Malang – Pemerintah Indonesia memperkenalkan sistem pelabelan gizi terbaru bernama Nutri-Level sebagai langkah untuk membantu masyarakat memilih produk makanan dan minuman yang lebih sehat. Kebijakan ini hadir di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap pola konsumsi yang berkontribusi pada berbagai penyakit tidak menular.
Selama ini, informasi nilai gizi pada kemasan produk kerap dianggap sulit dipahami oleh sebagian konsumen. Nutri-Level dirancang untuk menyederhanakan informasi tersebut agar lebih mudah dibaca dan cepat dimengerti, bahkan dalam waktu singkat saat berbelanja.
Sistem Sederhana dan Mudah Dipahami

Nutri-Level menggunakan skala huruf dari A hingga D yang dilengkapi dengan kode warna. Huruf A dengan warna hijau menunjukkan produk dengan kandungan gula, garam, dan lemak yang lebih rendah, sementara huruf D berwarna merah menandakan kandungan yang perlu dibatasi.
Pendekatan ini dinilai lebih efektif karena menyerupai sistem visual yang sudah akrab di masyarakat. Konsumen dapat langsung membandingkan kualitas gizi antarproduk tanpa harus membaca rincian tabel yang panjang. Sistem ini juga diharapkan dapat mendorong produsen untuk memperbaiki komposisi produk agar mendapatkan nilai yang lebih baik.
Fokus utama dari penilaian Nutri-Level adalah kandungan gula, garam, dan lemak. Ketiga komponen tersebut dikenal sebagai faktor utama yang berkontribusi terhadap risiko penyakit seperti diabetes, hipertensi, dan gangguan jantung.
Upaya Cegah Penyakit Tidak Menular
Penerapan Nutri-Level tidak lepas dari meningkatnya kasus penyakit tidak menular di Indonesia. Pola makan tinggi gula, garam, dan lemak menjadi salah satu penyebab utama yang terus mendapat perhatian dari berbagai pihak.
Konsumsi minuman berpemanis, misalnya, terus mengalami peningkatan dan menjadi salah satu sumber asupan gula berlebih dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, penerapan awal Nutri-Level difokuskan pada kategori produk minuman sebelum diperluas ke jenis makanan lainnya.
Para ahli menilai bahwa pelabelan gizi di bagian depan kemasan dapat membantu mengubah perilaku konsumen. Dengan informasi yang lebih sederhana dan jelas, masyarakat diharapkan dapat membuat keputusan yang lebih bijak dalam memilih produk yang dikonsumsi.
Tantangan dan Peran Semua Pihak
Meski membawa harapan baru, penerapan Nutri-Level juga menghadapi sejumlah tantangan. Perubahan pola konsumsi tidak hanya bergantung pada label, tetapi juga dipengaruhi oleh kebiasaan, lingkungan, dan faktor ekonomi.
Karena itu, keberhasilan kebijakan ini membutuhkan dukungan dari berbagai pihak. Edukasi gizi kepada masyarakat perlu ditingkatkan agar pemahaman terhadap label semakin baik. Selain itu, pengawasan terhadap produk pangan serta dorongan kepada industri untuk menghadirkan pilihan yang lebih sehat juga menjadi bagian penting.
Di sisi lain, pelaku industri mulai beradaptasi dengan kebijakan ini. Sejumlah produsen menunjukkan kesiapan untuk menyesuaikan komposisi produk dan memberikan informasi yang lebih transparan kepada konsumen.
Pada akhirnya, Nutri-Level diharapkan tidak hanya menjadi label tambahan pada kemasan, tetapi juga menjadi alat edukasi yang efektif. Dengan pemahaman yang lebih baik, masyarakat dapat membangun pola makan yang lebih sehat dan menurunkan risiko penyakit di masa mendatang. (ger)













