Kanal24, Malang – Akses layanan keuangan semakin mudah dijangkau, tetapi kemampuan mengelola keuangan belum bergerak secepat itu. Kesenjangan ini menjadi tantangan serius, terutama di kalangan generasi muda yang akrab dengan teknologi, namun belum sepenuhnya siap menghadapi risiko finansial di era digital.
Isu tersebut mengemuka dalam kegiatan “LPS Goes to Campus: Edukasi dan Literasi Keuangan” yang digelar Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) di Universitas Tribhuwana Tunggadewi Malang, Selasa (29/4/2026). Kegiatan ini melibatkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia (BI) sebagai bagian dari upaya memperkuat literasi keuangan nasional.
Baca juga:
Omzet Naik Belum Tentu Untung, Generasi Djempolan Bongkar Faktanya

Kepala Kantor Perwakilan LPS II, Bambang S. Hidayat, menilai mahasiswa memiliki posisi strategis dalam menyebarkan pemahaman keuangan di era digital.
“Kami menilai mahasiswa ini adalah agen perubahan, mereka ini juga sangat melek teknologi. Kami berharap kegiatan edukasi ini bisa ditularkan melalui media sosial dan lingkungan mereka,” ujarnya.
Menurutnya, tingkat inklusi keuangan yang tinggi belum diikuti dengan pemahaman yang memadai.
“Kalau secara inklusi sebenarnya sudah cukup tinggi, tapi kalau secara literasi ini memang masih ada PR,” katanya.

Untuk memetakan kondisi tersebut, LPS bersama OJK dan Badan Pusat Statistik (BPS) tengah melakukan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan 2026. Hasil survei ini diharapkan menjadi dasar dalam merumuskan strategi edukasi yang lebih tepat sasaran.
Di sisi lain, Bambang menyoroti meningkatnya risiko finansial akibat pinjaman online ilegal dan praktik judi online.
“Pinjol itu ada yang legal dan diawasi OJK, tapi banyak juga yang ilegal dan sangat mengganggu. Termasuk judi online yang kadang-kadang nyaru sebagai game online,” tegasnya.
Kepala OJK Malang, Farid Faletehan, menambahkan bahwa tekanan gaya hidup juga menjadi faktor yang memperburuk kondisi keuangan generasi muda.
“Jangan terlalu tergiur pengeluaran yang sifatnya FOMO, ikut-ikutan. Pinjaman online itu pertumbuhannya signifikan, jangan sampai mudah pinjam tapi sulit melunasi,” ujarnya.
Ia mengingatkan bahwa riwayat pinjaman akan tercatat dan dapat memengaruhi masa depan, termasuk dalam proses melamar pekerjaan.

Sementara itu, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Malang, Indra Kuspriyadi, menekankan pentingnya pemahaman digital dalam ekosistem keuangan saat ini.
“Digitalisasi itu bukan lagi pilihan, tapi sebuah kewajiban. Kita dorong agar dimanfaatkan untuk hal produktif seperti pengembangan UMKM dan sistem pembayaran,” katanya.
Ia juga mengingatkan bahwa rendahnya literasi digital dapat membuka celah penyalahgunaan teknologi yang berdampak pada kerugian finansial.

Dari sisi akademik, Rektor Universitas Tribhuwana Tunggadewi, Prof. Dodi Wirawan Irawanto, melihat kegiatan ini sebagai jembatan antara teori dan praktik.
“Literasi praktis seperti ini akan mempercepat pemahaman mahasiswa, apalagi banyak mahasiswa kami berasal dari Indonesia Timur yang tingkat literasinya masih perlu diperkuat,” ujarnya.
Kegiatan ini menunjukkan bahwa peningkatan literasi keuangan masih menjadi agenda yang mendesak. Akses tanpa pemahaman berisiko mendorong keputusan finansial yang keliru, terutama di tengah arus digital yang semakin cepat dan kompleks. Dalam situasi ini, edukasi tidak cukup berhenti pada sosialisasi, tetapi perlu menjangkau cara berpikir dan kebiasaan finansial generasi muda. (qrn)














