Kanal24, Malang – Di tengah tuntutan dunia akademik yang semakin kompetitif, lahirnya konsep baru berbasis kearifan lokal menjadi penanda penting bahwa ilmu pengetahuan terus berkembang secara kontekstual. Kontribusi ini tidak hanya memperkaya teori, tetapi juga relevan dengan kebutuhan praktik di lapangan.
Sosok tersebut adalah Dr. Ni Nyoman Suliati, Wisudawan Terbaik Program Doktor Ilmu Manajemen FEB UB pada Wisuda Periode XIX Tahun Akademik 2025/2026, dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) sempurna 4,00 dan menyelesaikan studi doktoralnya dalam waktu 2 tahun 6 bulan dengan predikat cumlaude.
Baca Juga:
Wisudawan Terbaik UB, Kembangkan Alat Deteksi Jantung Mandiri
Konsep Paras Paro dari Kearifan Lokal Bali
Dalam disertasinya, Dr. Suliati menghadirkan novelty berupa konsep Paras Paro Citizenship Behavior yang berakar dari kearifan lokal masyarakat Bali. Konsep ini menjadi kontribusi penting dalam pengembangan teori di bidang ilmu manajemen.
Penelitian tersebut tidak hanya berhenti pada aspek teoritis, tetapi juga memiliki manfaat praktis, khususnya bagi industri perhotelan yang menjadi objek penelitiannya di Bali.
“Melalui konsep Paras Paro Citizenship Behavior, setiap individu didorong untuk saling membantu dan bergotong royong dalam bekerja,” jelasnya.
Selanjutnya, penerapan nilai tersebut dapat menciptakan lingkungan kerja yang lebih nyaman dan mendorong munculnya perilaku kerja yang positif di dalam organisasi.
“Pesan utamanya adalah pentingnya memperhatikan kesejahteraan karyawan di industri perhotelan,” tegasnya.
Tantangan Membagi Waktu Jadi Kunci
Sebagai dosen yang berasal dari Bali, Dr. Suliati menghadapi tantangan besar selama menempuh pendidikan doktoral. Ia harus membagi waktu antara tanggung jawab profesional, peran dalam keluarga, serta tuntutan akademik yang tidak ringan.
“Tantangan terbesar tentu membagi waktu. Saya harus menjalankan peran sebagai dosen, mengurus keluarga, sekaligus menempuh pendidikan,” ujarnya.
Menurutnya, konsistensi dalam manajemen waktu menjadi kunci agar seluruh peran tersebut dapat berjalan beriringan. Selain itu, ia juga menekankan pentingnya menjaga energi dan fokus agar setiap tanggung jawab dapat diselesaikan secara optimal.
“Karena itu, saya berusaha menjaga konsistensi dalam mengatur waktu antara pekerjaan dan studi,” tambahnya.
Asah Kemampuan Ciptakan Konsep Baru
Selama menempuh studi doktoral, Dr. Suliati merasakan peningkatan kemampuan dalam mengembangkan teori sekaligus menciptakan konsep baru yang relevan dengan kondisi nyata di masyarakat.
Menurutnya, proses akademik di jenjang doktor tidak hanya menuntut pemahaman teori, tetapi juga kemampuan untuk menghasilkan kontribusi baru bagi keilmuan.
“Keilmuan yang paling saya rasakan adalah kemampuan untuk menghasilkan konsep baru dan mengembangkan teori yang telah ada,” ungkapnya.
Ke depan, ia berharap dapat terus berkontribusi melalui berbagai riset dan penelitian yang bermanfaat, baik bagi pengembangan ilmu pengetahuan maupun praktik di lapangan.
“Saya berharap dapat terus menunjukkan kinerja yang baik serta melanjutkan penelitian yang bermanfaat,” pungkasnya. (wan)














