Kanal24, Malang – Produktivitas riset di perguruan tinggi tidak bisa dibangun secara instan. Kualitas riset sangat ditentukan sejak tahap awal, terutama dari kesiapan dosen dalam memahami ekosistem, arah, dan standar penelitian yang relevan dengan kebutuhan zaman. Tanpa fondasi yang kuat, potensi akademik kerap tidak berkembang optimal.Kondisi ini mendorong perguruan tinggi mulai memperkuat pembinaan sejak dini, khususnya bagi dosen muda.
Berangkat dari hal tersebut, Universitas Brawijaya (UB) menggelar UBRICS (Universitas Brawijaya Research Innovation and Community Services) TRAP Batch 6 sebagai langkah strategis untuk mendorong lonjakan produktivitas riset dan inovasi di lingkungan kampus, khususnya di kalangan dosen muda. Program ini berlangsung di Auditorium Gedung B Lantai 8 FPIK UB, Senin (04/05/2026), dengan fokus pada penguatan kapasitas riset sejak tahap dasar.
Baca Juga:
Magister Agronomi UB Tancap Gas ke Level Global Lewat Riset Tropis
Wakil Rektor Bidang Riset dan Inovasi UB, Prof. Dr. Unti Ludigdo, SE., M.Si., Ak., menjelaskan bahwa UBRICS merupakan program pembinaan bagi dosen, khususnya yang baru bergabung, untuk membangun fondasi kuat dalam riset, inovasi, dan pengabdian kepada masyarakat.

“UBRICS ini untuk membangun dan menguatkan ekosistem riset dan inovasi kita. Untuk level dasar diikuti oleh dosen yang relatif masih muda, dengan harapan sejak awal mindset mereka terbentuk sebagai dosen yang tidak hanya mengajar, tetapi juga aktif dalam riset dan inovasi,” ujarnya.
Program yang berlangsung selama lima hari ini menghadirkan berbagai materi strategis, mulai dari pengenalan kelembagaan riset dan inovasi UB, laboratorium, hingga pusat studi dan inovasi. Selain itu, peserta juga dibekali dengan penyusunan roadmap riset, pembentukan kelompok riset, serta pemanfaatan pendanaan riset baik internal maupun eksternal.
“Peserta juga diminta untuk menyusun proposal riset kompetitif sebagai bagian dari output pelatihan,” tambahnya.
UBRICS Batch 6 merupakan kelanjutan dari program berjenjang yang mencakup level dasar, menengah, hingga lanjutan. Prof. Unti menyebutkan bahwa idealnya setiap batch dapat dilaksanakan lebih dari satu kali dalam setahun, namun pelaksanaannya masih menyesuaikan dengan jumlah rekrutmen dosen baru di UB. “Dosen-dosen yang baru direkrut itulah yang kemudian kita latih di sini, sehingga pembinaan bisa lebih optimal,” jelasnya.
Melalui program ini, UB menargetkan peningkatan signifikan dalam produktivitas riset dan inovasi, termasuk penguatan publikasi ilmiah.
“Saya berharap dosen-dosen kita dapat berkembang maju dalam riset dan inovasinya, serta memperkuat produktivitas UB. Kami yakin dengan potensi yang ada, UB akan semakin berkembang,” tegasnya.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada para peserta yang telah bergabung dalam ekosistem riset UB. “Selamat untuk teman-teman yang saat ini bergabung dalam sistem riset dan inovasi UB yang hebat melesat,” pungkasnya. (wan/cay)













