Kanal24, Malang – Nama Vincent van Gogh hingga kini masih dikenal sebagai salah satu pelukis paling berpengaruh dalam sejarah seni dunia. Di balik karya-karyanya yang mendunia, tersimpan kisah hidup penuh perjuangan, kegagalan, hingga pencarian jati diri yang tidak banyak diketahui orang.
Sebelum menjadi pelukis legendaris, Van Gogh ternyata pernah bercita-cita menjadi seorang pendeta. Jalan hidupnya yang berliku justru membawanya menjadi sosok besar dalam dunia seni rupa modern.
Baca juga:
Mahasiswa UB Buka Konseling Gratis Atasi Stres Akademik
Masa Muda Vincent van Gogh

Vincent van Gogh lahir pada 30 Maret 1853 di Zundert, Belanda, dari keluarga religius. Ayahnya merupakan seorang pastor Protestan yang cukup dihormati di lingkungan tempat tinggal mereka. Lingkungan keluarga tersebut membuat Vincent muda tertarik mengikuti jejak sang ayah di dunia pelayanan gereja.
Sebelum menemukan dunia seni, Van Gogh sempat mencoba berbagai pekerjaan. Ia pernah bekerja di galeri seni, menjadi guru, hingga penjaga toko buku. Namun tidak ada pekerjaan yang membuatnya merasa benar-benar menemukan tujuan hidup.
Ketertarikannya terhadap agama membuat Vincent mencoba masuk sekolah teologi agar bisa menjadi pendeta. Namun usahanya gagal setelah ia dinilai kurang mampu mengikuti pelajaran akademik, termasuk bahasa Latin.
Meski gagal menjadi pendeta resmi, Van Gogh tetap memilih membantu masyarakat miskin sebagai penginjil di kawasan pertambangan Borinage, Belgia.
Kehidupan Sulit dan Awal Melukis
Di daerah pertambangan tersebut, Van Gogh hidup bersama para pekerja tambang yang miskin. Ia menjalani kehidupan sederhana dan bahkan memberikan sebagian besar barang miliknya kepada warga sekitar.
Cara hidupnya yang dianggap terlalu ekstrem membuat pihak gereja menilai Vincent tidak layak menjadi pastor. Ia akhirnya diberhentikan dari tugas pelayanan tersebut.
Kegagalan itu menjadi titik berat dalam hidup Van Gogh. Ia mengalami tekanan batin dan sempat kehilangan arah hidup. Namun dari masa-masa sulit itulah ketertarikannya terhadap seni mulai tumbuh semakin kuat.
Van Gogh mulai menggambar kehidupan para petani, pekerja tambang, dan masyarakat kecil yang sehari-hari ia lihat. Pengalaman hidup bersama kaum miskin membuat karya-karyanya memiliki emosi kuat dan penuh makna sosial.
Ia baru serius melukis di usia 27 tahun. Meski tergolong terlambat, perkembangan kemampuan Van Gogh berlangsung sangat cepat. Dalam waktu sekitar satu dekade, ia berhasil menghasilkan ratusan lukisan dan ribuan sketsa.
Gaya lukisannya dikenal khas dengan warna-warna cerah, sapuan kuas ekspresif, dan emosi mendalam. Beberapa karya terkenalnya seperti The Starry Night dan Sunflowers kini menjadi simbol seni dunia.
Diakui Dunia Setelah Meninggal
Di balik kejeniusannya, kehidupan Van Gogh dipenuhi penderitaan. Ia hidup dalam kemiskinan dan mengalami gangguan kesehatan mental yang membuat kondisi emosinya sering tidak stabil. Salah satu peristiwa paling terkenal dalam hidupnya adalah insiden pemotongan telinga yang hingga kini masih menjadi misteri dan bahan perdebatan para peneliti seni.
Ironisnya, selama hidupnya Van Gogh hampir tidak pernah menikmati ketenaran. Ia hanya diketahui menjual sedikit karya dan bertahan hidup dari bantuan finansial sang adik, Theo van Gogh. Vincent van Gogh meninggal dunia pada tahun 1890 di usia 37 tahun. Namun setelah kepergiannya, karya-karyanya mulai mendapat perhatian dunia dan diakui sebagai mahakarya seni modern.
Kini, nama Van Gogh dikenang sebagai salah satu pelukis terbesar sepanjang sejarah. Kisah hidupnya menjadi bukti bahwa kegagalan tidak selalu menjadi akhir perjalanan seseorang. (ger)













