Kanal24, Malang – Tekanan akademik yang semakin tinggi membuat persoalan kesehatan mental mahasiswa menjadi isu yang tidak bisa lagi dianggap sepele. Tugas yang menumpuk, tuntutan prestasi, persaingan akademik, hingga tekanan untuk terus produktif membuat banyak mahasiswa mengalami kelelahan mental atau burnout akademik tanpa mereka sadari.
Fenomena ini semakin mengkhawatirkan karena masih banyak mahasiswa yang menganggap stres berkepanjangan sebagai bagian normal dari kehidupan kuliah. Padahal, jika tidak ditangani dengan baik, burnout akademik dapat memengaruhi kondisi emosional, produktivitas belajar, hingga kesehatan mental dalam jangka panjang.
Baca juga:
Anak Bilang “Aku Benci Kamu”? Ini Arti Sebenarnya
Melihat kondisi tersebut, mahasiswa Program Studi Psikologi Universitas Brawijaya, Rahmarsa Fauzia, menghadirkan layanan konseling gratis dan edukasi burnout akademik selama menjalani program magang di Biro Psikologi Psy Up.
Rahmarsa mengatakan program tersebut hadir sebagai bentuk kepedulian terhadap meningkatnya permasalahan psikologis yang dialami mahasiswa, khususnya terkait tekanan akademik.
“Saya melihat cukup banyak mahasiswa yang sebenarnya mengalami kelelahan mental, tetapi belum memahami bahwa itu bisa menjadi burnout akademik,” ujar Rahmarsa.
Selama program magang berlangsung, Rahmarsa membuka layanan konseling gratis di bawah supervisi psikolog profesional dengan tema “Stres Akademik”. Layanan tersebut menjadi ruang aman bagi mahasiswa untuk bercerita dan mendapatkan pendampingan psikologis secara lebih terarah.
Menurutnya, akses layanan kesehatan mental yang mudah dijangkau sangat penting untuk membantu mahasiswa lebih berani mencari bantuan.
“Kadang mahasiswa merasa takut dianggap lemah ketika datang ke konseling. Padahal, mencari bantuan itu justru bentuk kepedulian terhadap diri sendiri,” katanya.
Edukasi Burnout Akademik Lewat Psikoedukasi
Selain layanan konseling, Rahmarsa juga menginisiasi media edukatif berupa brosur psikoedukasi mengenai burnout akademik. Brosur tersebut memuat penjelasan mengenai pengertian burnout, tanda-tanda yang perlu dikenali, risiko jika tidak ditangani, hingga cara mengelola stres akademik dengan lebih sehat.
Ia menilai edukasi kesehatan mental perlu diperkuat karena masih banyak mahasiswa yang kesulitan mengenali kondisi emosionalnya sendiri.
“Banyak mahasiswa merasa mudah lelah, kehilangan motivasi, atau sulit fokus, tetapi tidak sadar bahwa itu merupakan gejala burnout akademik,” jelasnya.
Melalui program tersebut, Rahmarsa berharap mahasiswa semakin sadar bahwa kesehatan mental memiliki peran penting dalam kehidupan akademik maupun keseharian.
“Saya berharap mahasiswa tidak lagi ragu untuk mencari bantuan psikologis ketika merasa kewalahan, karena kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik,” tambahnya.
Tak Hanya Mahasiswa, Juga Edukasi untuk Perempuan dan Dunia Kerja
Tidak hanya fokus pada isu mahasiswa, Rahmarsa juga terlibat dalam kegiatan psikoedukasi kepada ibu-ibu PKK dalam rangka memperingati Hari Kartini 2026 dengan tema “Emansipasi Wanita dalam Meregulasi Emosi di Era Digital”.
Selain itu, ia turut berkontribusi dalam pelatihan bertajuk “Keterampilan dan Sikap Profesional dalam Dunia Kerja” yang diberikan kepada karyawan koperasi simpan pinjam sebagai bagian dari peningkatan kapasitas sumber daya manusia.
Berbagai kegiatan tersebut menunjukkan bahwa program magang tidak hanya menjadi sarana pembelajaran praktis bagi mahasiswa, tetapi juga bentuk kontribusi nyata dalam meningkatkan literasi kesehatan mental melalui pendekatan psikologis yang aplikatif, edukatif, dan solutif. (nid)














