Kanal24, Malang – Ucapan “aku benci kamu” yang keluar dari mulut anak sering kali mengejutkan sekaligus melukai perasaan orang tua. Banyak yang langsung menganggap hal ini sebagai tanda pembangkangan atau kurangnya rasa hormat. Padahal, di balik kata-kata tersebut, tersimpan dinamika emosi anak yang belum sepenuhnya matang.
Luapan Emosi yang Belum Terkelola

Ucapan tersebut kerap muncul saat anak berada dalam kondisi emosi yang memuncak. Mereka bisa merasa marah, kecewa, atau frustrasi, tetapi belum memiliki kemampuan untuk mengekspresikan perasaan secara tepat. Akibatnya, kata “benci” digunakan sebagai bentuk pelampiasan paling sederhana.
Dalam tahap perkembangan, anak memang masih belajar mengenali berbagai jenis emosi. Keterbatasan kosakata membuat mereka sulit membedakan antara marah, sedih, atau kecewa. Situasi seperti tidak mendapatkan keinginan atau merasa tidak dipahami sering menjadi pemicu munculnya ungkapan tersebut.
Respons Orang Tua Menentukan

Cara orang tua merespons memiliki peran besar dalam membentuk perilaku anak ke depan. Reaksi yang emosional, seperti membalas dengan kemarahan atau hukuman, dapat memperkeruh suasana dan membuat anak semakin sulit mengendalikan diri.
Sebaliknya, sikap tenang dan empati sangat dianjurkan. Orang tua perlu memberi ruang bagi anak untuk menenangkan diri, lalu mencoba memahami apa yang sebenarnya dirasakan. Mengakui emosi anak tanpa membenarkan ucapannya menjadi langkah penting agar anak merasa didengar sekaligus belajar bahwa ada batasan dalam berkomunikasi.
Dampak dan Peran Pola Asuh

Jika tidak ditangani dengan tepat, kondisi ini dapat berdampak jangka panjang. Anak bisa menjadi pribadi yang tertutup atau justru semakin sering meluapkan emosi secara negatif. Dalam beberapa kasus, hal ini juga berpengaruh pada kepercayaan diri dan kemampuan bersosialisasi.
Pola asuh yang diterapkan di rumah turut memengaruhi cara anak mengekspresikan perasaan. Lingkungan yang penuh tekanan atau komunikasi yang kurang sehat dapat memicu anak menggunakan kata-kata kasar. Sebaliknya, suasana yang terbuka dan penuh dukungan akan membantu anak belajar menyampaikan emosi dengan lebih baik.
Pada akhirnya, ucapan “aku benci kamu” bukanlah akhir dari hubungan orang tua dan anak, melainkan bagian dari proses belajar. Dengan pendekatan yang tepat, momen ini dapat menjadi kesempatan untuk memperkuat komunikasi, membangun empati, dan menciptakan hubungan yang lebih sehat dalam keluarga. (ger)













