Kanal24, Milan – Pak Budi Ayin tak pernah belajar membuat alat musik di sekolah khusus. Ia bukan lulusan konservatori, bukan pula perajin instrumen profesional.
Sehari-hari, warga Kampung Cempluk, Dusun Sumberjo, Desa Kalisongo, Kabupaten Malang itu bekerja sebagai tukang kayu dan buruh lepas.
Namun, siapa sangka, alat musik petik yang ia rakit dari potongan limbah kayu konstruksi kini bergema hingga Milan, Italia.
Suara Dawai Cempluk mengalun di Aula Casa della Cultura, Milan, Senin (15/6/2026) malam waktu setempat. Instrumen berbentuk unik tersebut dimainkan oleh musisi asal Italia, Daniele Corradi, menghasilkan harmoni yang memadukan nuansa blues, country, hingga sesekali menghadirkan aksen tradisional Jawa.
Bagi masyarakat Kampung Cempluk, Dawai Cempluk bukan sekadar alat musik. Ia lahir dari kreativitas, keterbatasan, dan gotong royong.
Kehadirannya di Italia menjadi bagian dari presentasi riset etnografi visual bertajuk Antropologia visiva nella Giava contemporanea (Antropologi Visual di Jawa Kontemporer) yang dibawakan Tommaso Corradi, mahasiswa pascasarjana Universitas Bicocca, Milan.
Riset tersebut merupakan hasil kolaborasi dengan Fakultas Vokasi Universitas Brawijaya (UB) saat Tommaso melakukan penelitian lapangan di Malang pada akhir tahun lalu.
Dari Sampah Kayu Menjadi Bunyi
Secara sosiologis, Kampung Cempluk dikenal sebagai “kampung tukang”. Banyak warganya bekerja sebagai perajin kayu dan buruh bangunan.
Di tengah pembangunan perumahan yang terus berkembang di kawasan sekitar lingkar kampus UB, Pak Budi Ayin melihat sesuatu yang kerap dianggap tak bernilai: potongan-potongan limbah kayu.
Di tangan orang lain, kayu-kayu itu mungkin berakhir menjadi sampah.
Namun di tangannya, limbah tersebut menjelma menjadi instrumen musik.
Tanpa pendidikan formal tentang organologi atau pembuatan alat musik, Pak Budi mengandalkan insting, ketekunan, dan naluri desain yang dimilikinya.
Musisi asal Italia, Daniele Corradi, mengaku terkesan melihat langsung proses kreatif tersebut saat menghabiskan waktu selama 10 hari di Malang.
“Melihat cara kerja Pak Budi sangat mengesankan bagi saya. Di Milan, sekolah pembuatan instrumen menggunakan mesin-mesin canggih dan ruangan khusus. Namun, bengkel kerja Pak Budi hanya beralaskan tikar dan bermodalkan sebilah pisau, tetapi mampu melahirkan karya seni luar biasa,” ujarnya.
Kampung Lingkar Kampus sebagai Laboratorium Hidup
Dosen Desain Fakultas Vokasi UB sekaligus supervisor riset Tommaso di Malang, Dr. Redy Eko Prastyo, mengatakan kisah Dawai Cempluk menunjukkan bahwa kawasan kampung lingkar kampus bukan sekadar wilayah yang berdampingan secara geografis dengan perguruan tinggi.
Menurutnya, kawasan tersebut dapat menjadi ruang belajar bersama yang hidup.
“Fakultas Vokasi UB dan Kampung Cempluk sejatinya merupakan ruang yang terintegrasi secara sosiologis. Kedekatan geografis ini tidak sekadar menjadi batas wilayah administratif, melainkan kami transformasikan menjadi laboratorium sosial yang hidup atau living laboratory. Di sinilah kepedulian lingkungan akademik berpadu organik dengan kearifan lokal,” ujar Redy.
Ia menjelaskan, proses lahirnya Dawai Cempluk juga menjadi potret nyata praktik gotong royong.
Pak Budi Ayin mengolah kayu, Wahyu membantu menyempurnakan aspek teknis kelistrikan instrumen, sementara Redy mengonseptualisasikan identitas sosiologisnya.
Masing-masing menyumbangkan keahlian berbeda untuk melahirkan karya bersama.
Sound of Destination Malang
Bagi Redy, perjalanan Dawai Cempluk hingga dipetik di Milan membuktikan bahwa inovasi tidak selalu lahir dari laboratorium modern dengan peralatan mahal.
Terkadang, ia tumbuh dari kampung kecil, tangan-tangan terampil, dan keberanian untuk melihat kemungkinan dari sesuatu yang dianggap tak berguna.
Dengan karakter bunyi yang khas dan cerita sosial di balik pembuatannya, Dawai Cempluk kini diusulkan menjadi bagian dari pengembangan ekonomi kreatif Malang sebagai “Sound of Destination”.
“Langkah ini menunjukkan bahwa dari bahan-bahan limbah sederhana di tingkat akar rumput, jika dikelola melalui kolaborasi gotong royong dan riset akademis yang tepat, mampu menghasilkan karya inovatif yang diakui dalam dialog kebudayaan dunia,” pungkas Redy.
Dari sebuah kampung di pinggiran Malang, Dawai Cempluk mengingatkan bahwa karya besar tidak selalu lahir dari tempat-tempat megah. Kadang, ia bermula dari sebilah pisau, sepotong kayu bekas, dan keyakinan bahwa kreativitas tidak mengenal batas. (Red/Din)













