Kanal24, Malang – Kesadaran generasi muda terhadap kesehatan mental terus meningkat, namun banyak yang belum menyadari bahwa kondisi kulit juga memiliki pengaruh besar terhadap psikologis seseorang. Masalah kulit seperti jerawat, kulit kusam, hingga rasa tidak percaya diri terhadap penampilan sering kali membuat mahasiswa menarik diri dari lingkungan sosial, kehilangan semangat, bahkan menurunkan performa akademik.
Fenomena tersebut menjadi perhatian Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya sekaligus dokter kulit, Dr. dr. Dhelya Widasmara, Sp.D.V.E., Subsp. DT, FINSDV, FAADV, MMRS saat menjadi pemateri dalam kegiatan Kampanye Mental Sehat Kampus Glowing Future with Glow & Lovely UV Duo Sunscreen yang digelar di Aula Gedung F Lantai 7 FEB UB, Kamis (7/5/2026).
Dalam kegiatan tersebut, Dhelya memberikan edukasi kepada mahasiswa mengenai pentingnya menjaga kesehatan kulit, terutama penggunaan sunscreen sebagai bagian dari perawatan dasar yang berdampak pada kesehatan dan rasa percaya diri.
Baca juga:
Anak Bilang “Aku Benci Kamu”? Ini Arti Sebenarnya

“Penggunaan sunscreen itu sangat penting, terutama untuk kesehatan kulit. Itu inti utama yang saya sampaikan kepada mahasiswa,” ujarnya.
Jerawat Bisa Membuat Mahasiswa Menarik Diri
Menurut Dhelya, kesehatan mental tidak selalu berkaitan dengan gangguan berat. Hal-hal sederhana seperti kondisi kulit juga bisa memengaruhi kondisi psikologis seseorang.
Ia menjelaskan, mahasiswa yang mengalami masalah kulit seperti jerawat sering kali merasa kurang percaya diri hingga memilih menjauh dari lingkungan sosialnya.
“Jerawat itu juga bisa memengaruhi kesehatan mental. Orang bisa menarik diri dari lingkungan karena merasa tidak percaya diri dengan kondisi kulitnya,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa kulit merupakan organ terbesar pada tubuh manusia yang secara langsung menjadi representasi gaya hidup dan kondisi seseorang.
“Kalau melihat seseorang dari kulitnya, kita bisa tahu umurnya, gaya hidupnya seperti apa. Jadi kesehatan kulit itu memang penting,” katanya.
Penampilan Berpengaruh pada Performa dan Produktivitas
Dhelya menilai kondisi kulit juga dapat memengaruhi mood, produktivitas, hingga performa mahasiswa dalam aktivitas sehari-hari, termasuk saat menghadapi momen penting seperti presentasi atau sidang skripsi.
Menurutnya, rasa percaya diri yang muncul dari kondisi kulit yang sehat mampu membantu seseorang tampil lebih positif dan bersemangat.
“Kalau kulit kita sedang bermasalah, biasanya mood ikut turun. Tapi kalau kulit sehat, kita jadi lebih percaya diri dan aktivitas sehari-hari juga lebih semangat,” ujarnya.
Karena itu, ia mengingatkan mahasiswa agar mulai memahami kebutuhan kulit sesuai usia dan kondisi masing-masing, bukan sekadar mengikuti tren media sosial.
Mahasiswa Diingatkan Tak Terjebak Standar Cantik TikTok
Dalam pemaparannya, Dhelya juga menyoroti fenomena standar kecantikan di media sosial yang dinilai sering kali membentuk persepsi keliru pada generasi muda.
Ia menegaskan bahwa cantik bukan berarti harus memiliki kulit putih atau mengikuti tren tertentu yang viral di TikTok maupun platform media sosial lainnya.
“Cantik itu bukan putih. Cantik adalah bagaimana kita bangga dengan warna kulit kita sendiri dan merawatnya dengan baik,” tegasnya.
Menurutnya, mahasiswa harus lebih cerdas dalam menyaring informasi yang beredar di media sosial, terutama terkait tren skincare dan standar kecantikan.
“Media sosial memang seperti itu. Tapi mahasiswa harus pintar mencerna informasi, memahami kebutuhan kulitnya sendiri, bukan sekadar ikut tren,” katanya.
Edukasi Sunscreen Diharapkan Menular ke Lingkungan Sekitar
Selain mengedukasi mahasiswa tentang kesehatan kulit, Dhelya berharap peserta yang hadir dapat menyebarkan kembali informasi yang diperoleh kepada lingkungan sekitarnya.
Ia menilai edukasi sederhana seperti pentingnya penggunaan sunscreen dan cara pemakaian yang benar dapat menjadi bagian dari promosi kesehatan di masyarakat.
“Kalau mahasiswa yang hadir bisa menyampaikan lagi ke dua atau tiga orang di sekitarnya, berarti kegiatan ini berhasil,” ujarnya.
Dalam sesi edukasi tersebut, Dhelya juga menjelaskan bahwa sunscreen perlu digunakan ulang setiap beberapa jam agar perlindungannya tetap optimal.
“Penggunaan sunscreen itu perlu di-reapply sekitar dua sampai empat jam sekali dan jumlah penggunaannya juga harus tepat,” pungkasnya. (nid/ger)














