Kanal24
No Result
View All Result
  • Berita Terkini
  • Perspektif
  • Pendidikan
  • Hukum
  • Politik
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Hiburan
  • Login
  • Berita Terkini
  • Perspektif
  • Pendidikan
  • Hukum
  • Politik
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Hiburan
No Result
View All Result
Kanal24
No Result
View All Result

Mengapa Politik di Media Sosial Makin Bising? Guru Besar UB Punya Jawabannya 

Dinia by Dinia
May 8, 2026
in Politik, Riset Inovasi
0
Mengapa Politik di Media Sosial Makin Bising? Guru Besar UB Punya Jawabannya 

Prof. Anang Sujoko, S.Sos., M.Si., D.COMM, Guru Besar FISIP UB bidang Kajian Media dan Komunikasi (Ist.)

10
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Kanal24 – Di tengah derasnya arus media sosial hari ini, publik Indonesia hidup dalam ruang digital yang semakin bising. Timeline dipenuhi perang narasi, buzzer politik, framing media, hingga polarisasi yang membuat masyarakat mudah terbelah. Humor, meme, hingga satire politik yang dulu dianggap sekadar hiburan, kini berubah menjadi alat komunikasi yang mampu memengaruhi opini publik dan membentuk persepsi politik masyarakat.

Fenomena itu terlihat jelas sejak Pilpres 2019 dan terus berulang hingga hari ini. Konten-konten politik di TikTok, Instagram, X, maupun YouTube bukan lagi sekadar ruang ekspresi warga, melainkan arena perebutan pengaruh. Di tengah situasi tersebut, tulisan Guru Besar FISIP Universitas Brawijaya, Profesor Anang Sujoko, menjadi sangat relevan untuk membaca bagaimana satire politik bekerja di media sosial Indonesia.

Dalam artikelnya berjudul Satirical Political Communication 2019 Indonesia’s Presidential Election on Social Media, Prof. Anang mengungkap bahwa media sosial telah melahirkan bentuk baru komunikasi politik yang memadukan kritik, humor, budaya digital, dan strategi komunikasi massa. Penelitian itu menggunakan pendekatan Critical Discourse Analysis Teun A. Van Dijk untuk membedah bagaimana akun-akun populer di media sosial memproduksi satire politik selama Pilpres 2019.

Saat Media Sosial Tak Lagi Sekadar Ruang Hiburan

Masalahnya, polarisasi digital di Indonesia bukan sekadar perbedaan pilihan politik. Media sosial perlahan membentuk ruang gema (echo chamber) yang membuat pengguna hanya mengonsumsi informasi sesuai keyakinannya sendiri. Ketika buzzer, propaganda digital, dan framing politik bekerja secara masif, masyarakat menjadi mudah terseret dalam konflik emosional yang sering kali mengaburkan substansi persoalan.

Di titik inilah satire politik hadir sebagai fenomena menarik.

Prof. Anang menemukan bahwa akun seperti skinnyindonesian24, nurhadi_aldo, hingga gerakan #2019GantiPresiden menjadi representasi bagaimana publik mencoba menyampaikan kritik politik melalui pendekatan satire. Konten-konten tersebut lahir dari keresahan masyarakat terhadap situasi politik yang panas dan media mainstream yang dianggap tidak sepenuhnya netral.

Menurutnya, media baru memberikan ruang partisipasi yang sebelumnya sulit diperoleh publik di media arus utama. Jika dahulu masyarakat hanya menjadi penonton informasi politik, kini mereka dapat menjadi produsen pesan sekaligus aktor komunikasi politik.

Dalam konteks itu, satire menjadi “jalan tengah” yang menarik. Kritik politik dapat disampaikan lewat humor, meme, musik rap, hingga parodi tanpa harus tampil terlalu frontal. Cara ini membuat pesan politik lebih mudah diterima generasi digital yang cenderung menyukai konten ringan, cepat, dan emosional.

Infografis Riset Prof Anang Sujoko tentang Satir Politik di Media Sosial (Diolah Kanal24)

Ketika Humor dan Meme Menjadi Senjata Politik

Namun, di balik kelucuannya, satire politik sebenarnya menyimpan pesan serius.

Akun nurhadi_aldo, misalnya, oleh Prof. Anang dibaca bukan hanya sebagai konten hiburan, tetapi sebagai bentuk kritik sosial terhadap elit politik dan polarisasi masyarakat. Akun tersebut muncul di tengah ketegangan Pilpres 2019 yang membelah publik ke dalam dua kubu besar. Melalui pendekatan humor absurd dan meme, akun itu mencoba meredam konflik sekaligus menyindir perilaku fanatisme politik yang berlebihan.

Sementara itu, video Prabowo vs Jokowi Epic Rap Battle dari skinnyindonesian24 menunjukkan bagaimana budaya populer dipakai untuk mengemas komunikasi politik secara lebih cair. Kritik terhadap dua kandidat disampaikan secara seimbang melalui musik rap dan gaya bahasa anak muda. Dalam penelitiannya, Prof. Anang melihat konten tersebut sebagai upaya mengurangi polarisasi yang semakin tajam di media sosial.

Menariknya, penelitian ini juga menyinggung sisi gelap demokrasi digital Indonesia.

Prof. Anang menilai kemunculan satire politik tidak bisa dilepaskan dari rasa jenuh publik terhadap media mainstream yang dianggap terikat kepentingan politik dan oligarki media. Dalam artikelnya, ia mengutip bagaimana konglomerasi media membuat sebagian masyarakat merasa tidak lagi mendapatkan ruang kritik yang memadai di media arus utama. Akibatnya, media sosial menjadi ruang alternatif untuk melawan dominasi narasi politik tertentu.

Bahaya Polarisasi di Era Algoritma

Di era sekarang, kondisi itu justru semakin terasa. Algoritma media sosial bekerja berdasarkan engagement, bukan kualitas informasi. Konten provokatif, emosional, dan penuh konflik lebih mudah viral dibanding diskusi yang substantif. Akibatnya, publik semakin mudah terjebak dalam politik identitas, perang tagar, hingga budaya saling serang di ruang digital.

Di sinilah problem utamanya.

Ketika komunikasi politik lebih banyak digerakkan oleh emosi dan sensasi, demokrasi berisiko kehilangan ruang dialog yang sehat. Publik tidak lagi sibuk mencari kebenaran, tetapi lebih fokus memenangkan kelompoknya masing-masing.

Tulisan Prof. Anang sebenarnya memberikan alarm penting bahwa komunikasi politik digital tidak bisa dipandang remeh. Meme, satire, video lucu, atau parodi bukan sekadar hiburan internet, melainkan bagian dari konstruksi opini publik modern. Bahkan dalam beberapa kasus, satire justru lebih efektif memengaruhi persepsi masyarakat dibanding pidato politik formal.

Karena itu, literasi digital menjadi sangat penting. Publik perlu memahami bahwa setiap konten politik di media sosial selalu membawa ideologi, kepentingan, dan framing tertentu. Dalam perspektif analisis wacana kritis yang digunakan Prof. Anang, teks media tidak pernah benar-benar netral karena selalu terkait relasi kuasa dan kepentingan sosial-politik.

Sebagai Guru Besar FISIP Universitas Brawijaya, Prof. Anang Sujoko menunjukkan bagaimana kajian komunikasi dapat membantu masyarakat membaca fenomena digital secara lebih kritis. Penelitiannya tidak hanya relevan untuk memahami Pilpres 2019, tetapi juga penting untuk membaca wajah politik Indonesia hari ini yang semakin dipengaruhi algoritma media sosial, influencer politik, dan budaya viral.

Pada akhirnya, demokrasi digital memang membuka ruang kebebasan baru bagi masyarakat. Namun tanpa kedewasaan literasi dan kesadaran kritis, ruang itu juga dapat berubah menjadi arena polarisasi tanpa akhir. Di tengah derasnya perang narasi dan buzzer politik hari ini, penelitian Prof. Anang menjadi pengingat bahwa humor dan satire di media sosial sesungguhnya bukan sekadar hiburan, melainkan cermin bagaimana masyarakat sedang berbicara tentang kekuasaan, ketidakpuasan, dan masa depan demokrasi Indonesia.9Din)

Baca artikel lengkap : Satirical Political Communication 2019 Indonesia’s Presidential Election on Social Media

Post Views: 232
Tags: algoritma media sosialAnang Sujokobuzzer politikdemokrasi digitalfisip ubframing mediaguru besar ubinfluencer politikKomunikasi Politikkonten digitalliterasi digitalmedia digitalmedia sosialmedia studiesOpini PublikPenelitian Ubperang narasipolarisasi digitalPolitik Indonesiasatire politikSDGs UBub berdampakub medcomUB Primeuniversitas brawijaya
Previous Post

dr. Dhelya: Sunscreen Penting untuk Kesehatan Mental

Next Post

Review Novel Sang Eksekutor: Thriller Politik Penuh Teror dan Konspirasi Keadilan 

Dinia

Dinia

Next Post
Review Novel Sang Eksekutor: Thriller Politik Penuh Teror dan Konspirasi Keadilan 

Review Novel Sang Eksekutor: Thriller Politik Penuh Teror dan Konspirasi Keadilan 

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Trending
  • Comments
  • Latest
oval layer

5 Gaya Rambut yang Tepat untuk Pipi Chubby agar Tampil Lebih Menarik

August 25, 2024
ISLAM DAN PELESTARIAN LINGKUNGAN

ISLAM DAN PELESTARIAN LINGKUNGAN

August 4, 2023
Tren Rambut Pria 2025: Gaya Modern dan Maskulin

Tren Rambut Pria 2025: Gaya Modern dan Maskulin

February 22, 2025
Yuk Kenali Istilah Dalam Karate

Yuk Kenali Istilah Dalam Karate

August 3, 2023
Permainan Interaktif Menjadi Media KKN FP UB Pupuk Minat Baca Anak Desa Kromengan

Permainan Interaktif Menjadi Media KKN FP UB Pupuk Minat Baca Anak Desa Kromengan

39
Pemkot Malang Tingkatkan Sinergi dan Soliditas Demi Keamanan Wilayah

Pemkot Malang Tingkatkan Sinergi dan Soliditas Demi Keamanan Wilayah

8
Budayakan Gaya Hidup Sehat, Fapet UB Gelar Latihan Jalan Nordik

Budayakan Gaya Hidup Sehat, Fapet UB Gelar Latihan Jalan Nordik

7
Manfaat Naik Turun Tangga Setiap Hari Bagi Kesehatan

Manfaat Naik Turun Tangga Setiap Hari Bagi Kesehatan

7
Mahasiswa FH UB Dalami Tantangan Hukum Kepabeanan dan Cukai

Mahasiswa FH UB Dalami Tantangan Hukum Kepabeanan dan Cukai

May 13, 2026
FIKES UB Siapkan Perawat Indonesia Bersaing Secara Global

FIKES UB Siapkan Perawat Indonesia Bersaing Secara Global

May 13, 2026
Mahasiswa Psikologi UB Jalani Magang Profesional di BNN Mojokerto

Mahasiswa Psikologi UB Jalani Magang Profesional di BNN Mojokerto

May 13, 2026
Hubungan Internasional UB Soroti Dinamika Asia Barat 2026 

Hubungan Internasional UB Soroti Dinamika Asia Barat 2026 

May 13, 2026

Popular Stories

  • oval layer

    5 Gaya Rambut yang Tepat untuk Pipi Chubby agar Tampil Lebih Menarik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • ISLAM DAN PELESTARIAN LINGKUNGAN

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tren Rambut Pria 2025: Gaya Modern dan Maskulin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Yuk Kenali Istilah Dalam Karate

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AYAT-AYAT KREATIVITAS DAN INOVASI PELAYANAN

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
UB Radio 107.5 FM
107.5 FM
Tap to Play
  • Berita
  • Tentang Kanal24
  • Layanan
  • Pedoman Media Siber
Copyright Kanal24.com 2025

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Berita Terkini‎
  • Perspektif
  • Pendidikan
  • Hukum
  • Politik
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Hiburan

Copyright Kanal24.com 2025