Kanal24, Malang – Tantangan global yang semakin kompleks dinilai menuntut mahasiswa memiliki kemampuan lintas budaya yang kuat agar mampu beradaptasi dengan dinamika internasional. Perubahan geopolitik, ketidakstabilan ekonomi global, hingga perkembangan hubungan antarnegara kini menjadi isu diplomasi tingkat tinggi dan juga berdampak langsung terhadap dunia pendidikan, peluang kerja, dan kesiapan generasi muda menghadapi masa depan. Kondisi tersebut membuat perguruan tinggi didorong untuk menghadirkan ruang pembelajaran yang berorientasi akademik dan juga memperkuat pemahaman mahasiswa terhadap budaya dan perspektif global.
Kesadaran itu yang menjadi latar digelarnya kuliah tamu bertajuk “Strengthening Students’ Intercultural Competence Through Understanding Japanese Work Culture and Social Values From a Diplomatic Perspective” yang diselenggarakan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya (FIB UB) di Aula A FIB UB, Kamis (07/05/2026). Kegiatan ini menghadirkan Konsul Jenderal Jepang di Surabaya, Dr. Takonai Susumu sebagai pembicara utama yang membahas diplomasi budaya Jepang sekaligus pentingnya pemahaman budaya kerja Jepang bagi mahasiswa Indonesia.
Baca Juga:
FIB UB Perkuat Reputasi Global Lewat Program Sea Teacher Internasional

Dalam paparannya, Takonai menilai mahasiswa saat ini harus memiliki sensitivitas terhadap perkembangan global karena dampaknya sangat nyata terhadap kehidupan masyarakat di berbagai negara. Menurutnya, mahasiswa tidak cukup hanya fokus pada pendidikan formal, tetapi juga perlu aktif memonitor perkembangan dunia internasional.
“Kalau kita melihat situasi di luar negeri itu bukan hanya situasi politik, tapi juga ekonomi, dampaknya sangat nyata dan negara mana pun tidak bisa lepas dari dampak itu,” ujarnya.
Mahasiswa Diminta Aktif Memahami Perubahan Dunia
Takonai menegaskan mahasiswa Indonesia, khususnya Universitas Brawijaya, perlu membangun kemampuan berpikir kritis terhadap situasi global. Ia menilai generasi muda harus mampu membaca perkembangan internasional sekaligus mempersiapkan diri menghadapi perubahan yang akan terjadi di masa depan.
“Nah, mahasiswa-mahasiswa di Indonesia, khususnya UB, saya kira harus mengantisipasi atau memonitor situasi dengan baik, mencari informasi apa yang terjadi dan juga memikirkan apa yang terjadi setelah konflik ini selesai,” katanya.
Selain memahami dinamika global, mahasiswa juga diminta tetap fokus memperdalam ilmu pengetahuan dan meningkatkan kualitas diri. Menurutnya, kesiapan akademik dan kemampuan adaptasi menjadi modal penting dalam menghadapi tantangan dunia kerja maupun persaingan internasional.
Ia juga melihat mahasiswa UB memiliki potensi besar untuk memperkuat hubungan bilateral Indonesia dan Jepang melalui kemampuan akademik serta pemahaman budaya yang dimiliki.
“Saya melihat begitu banyak mahasiswa-mahasiswa di UB dan saya yakin mereka akan berkontribusi untuk meningkatkan hubungan Jepang dan Indonesia,” ungkapnya.
Budaya Kerja Jepang Dinilai Tidak Bisa Diterapkan Mentah-Mentah
Dalam kuliah umum tersebut, Takonai turut menjelaskan karakter budaya kerja Jepang yang selama ini dikenal disiplin dan menjunjung tinggi kerja kolektif. Namun menurutnya, budaya kerja Jepang tidak dapat diterapkan secara langsung di Indonesia tanpa adanya penyesuaian terhadap kondisi sosial dan budaya lokal.
“Sebenarnya budaya kerja Jepang ini khas atau keunikan yang dimiliki Jepang. Jadi saya kira agak sulit untuk diterapkan di Indonesia begitu saja. Tapi bisa dimodifikasi di sini juga,” jelasnya.
Ia menyebut salah satu ciri khas perusahaan Jepang adalah sistem pembinaan pekerja baru yang dilakukan secara intensif. Perusahaan di Jepang mencari individu dengan kemampuan teknis tinggi dan juga orang yang mampu menjaga harmoni dan bekerja sama dalam tim.
“Walaupun tanpa skill, pekerja bisa diterima, asalkan memiliki sifat harmonis dan dapat bekerja atau berkolaborasi bersama untuk kepentingan perusahaan,” katanya.
Menurutnya, pola tersebut dapat menjadi inspirasi bagi Indonesia, meski penerapannya tetap perlu disesuaikan dengan budaya kerja lokal agar lebih relevan dan efektif.
Optimistis Masa Depan Hubungan Indonesia-Jepang
Di akhir pemaparannya, Takonai mengaku optimistis terhadap masa depan hubungan Indonesia dan Jepang. Ia menilai mahasiswa Indonesia, khususnya yang mendalami studi Jepang, memiliki antusiasme dan pemahaman yang baik terhadap budaya Jepang sehingga berpotensi menjadi jembatan hubungan kedua negara di masa mendatang.
Menurutnya, pemahaman budaya lintas negara akan menjadi modal penting dalam membangun kolaborasi internasional yang lebih kuat, baik di bidang pendidikan, ekonomi, maupun diplomasi budaya.
“Karena kemampuan dan pemahaman mereka terhadap Jepang sudah luar biasa dan ada keinginan untuk berkontribusi pada relasi hubungan Jepang dan Indonesia. Jadi saya merasa sangat optimistis untuk masa depan hubungan Jepang dan Indonesia,” pungkasnya. (wan)














