Kanal24, Malang β Fenomena gaslighting di lingkungan kerja kini semakin banyak menjadi perhatian. Perilaku manipulatif yang sering terjadi secara halus ini dinilai mampu merusak kesehatan mental korban hingga memengaruhi produktivitas kerja sehari-hari.
Gaslighting sendiri merupakan bentuk manipulasi psikologis yang membuat seseorang meragukan kemampuan, ingatan, hingga penilaian dirinya sendiri. Di lingkungan kerja, perilaku tersebut bisa dilakukan oleh atasan, rekan kerja, maupun lingkungan profesional yang toxic.
Banyak korban tidak langsung menyadari bahwa mereka sedang mengalami gaslighting karena bentuknya sering dianggap sebagai candaan, kritik biasa, atau tekanan kerja normal.
Baca juga:
Kampanye Mental Sehat Mahasiswa FEB UB Digelar
Manipulasi yang Terjadi Secara Halus
Gaslighting di kantor biasanya muncul lewat ucapan atau tindakan yang terus-menerus meremehkan seseorang. Pelaku dapat menyangkal ucapan yang pernah disampaikan, memutarbalikkan fakta, hingga membuat korban merasa selalu bersalah.
Tidak sedikit pekerja yang akhirnya mulai kehilangan rasa percaya diri karena terus menerima kritik tanpa alasan jelas. Dalam beberapa kasus, korban bahkan dibuat merasa terlalu sensitif saat mencoba menyampaikan keberatan.
Perilaku lain yang sering terjadi adalah menyalahkan satu orang atas kesalahan tim, mengabaikan pencapaian kerja, atau memberi tekanan berlebihan tanpa dukungan yang jelas.
Gaslighting sering berlangsung perlahan sehingga korban baru menyadari dampaknya setelah mengalami stres berkepanjangan. Situasi tersebut membuat banyak pekerja merasa terjebak di lingkungan kerja yang tidak sehat.
Berdampak pada Mental dan Produktivitas

Para ahli menilai gaslighting dapat memberikan dampak serius terhadap kesehatan mental seseorang. Korban biasanya mengalami kecemasan, overthinking, sulit percaya diri, hingga kehilangan motivasi kerja.
Tekanan emosional yang terus terjadi juga bisa memicu burnout dan membuat korban merasa takut berbicara saat rapat atau menyampaikan pendapat. Akibatnya, produktivitas kerja perlahan menurun.
Dalam jangka panjang, gaslighting tidak hanya merugikan individu, tetapi juga perusahaan. Lingkungan kerja yang dipenuhi manipulasi membuat komunikasi menjadi buruk dan menurunkan solidaritas antarpegawai.
Fenomena ini juga semakin sering dibahas di media sosial. Banyak pekerja membagikan pengalaman mereka menghadapi atasan atau rekan kerja toxic yang membuat kondisi mental memburuk.
Beberapa korban bahkan memilih resign karena merasa tidak lagi nyaman bekerja di lingkungan yang penuh tekanan emosional.
Pentingnya Lingkungan Kerja Sehat
Psikolog menyarankan pekerja untuk mulai mengenali tanda-tanda gaslighting sejak awal. Menyimpan bukti komunikasi kerja dan mencari dukungan dari rekan terpercaya atau pihak HRD menjadi langkah penting untuk melindungi diri.
Selain itu, perusahaan juga dinilai perlu membangun budaya kerja yang sehat dan terbuka agar perilaku manipulatif tidak dianggap sebagai hal biasa.
Lingkungan kerja yang sehat tidak hanya berfokus pada target dan produktivitas, tetapi juga rasa aman, komunikasi yang jujur, serta saling menghargai antarpegawai.
Dengan suasana kerja yang positif, karyawan dapat berkembang secara profesional tanpa tekanan emosional yang merusak kesehatan mental mereka. (ger)













