Kanal24, Malang – Maraknya kejahatan finansial digital kembali menjadi perhatian serius dalam Talkshow Literasi Keuangan di FEB Universitas Brawijaya, Rabu (6/5/2026). Di tengah gencarnya transformasi digital, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengingatkan masyarakat bahwa ancaman penipuan online terus meningkat dan menyasar berbagai lapisan masyarakat tanpa pandang usia maupun profesi.
Narasumber Dr. Wani Sabu, SH., MM., Ketua Komite Cyber Security PERBANAS, menekankan pentingnya kewaspadaan masyarakat dalam mengelola keuangan digital. Ia menyoroti posisi strategis perempuan dalam pengelolaan ekonomi rumah tangga. “Kalau di Indonesia kebanyakan yang pegang uang adalah ibu-ibu. Jadi, kita sering menyebut ibu-ibu adalah Menteri Keuangan kita,” ujarnya.

Wani menjelaskan bahwa perkembangan kejahatan siber saat ini semakin kompleks dengan berbagai modus seperti investasi bodong, love scam, hingga penipuan berkedok hadiah. Ia menegaskan bahwa masyarakat tidak boleh mudah panik atau tergiur iming-iming keuntungan besar. “Ibu-ibu harus cerdas, tidak boleh cupu karena penjahat sudah pada suhu. Jadi kita harus lebih suhu dari penjahatnya,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya pengendalian emosi dalam mengambil keputusan finansial. Menurutnya, banyak korban terjebak karena tergoda janji keuntungan instan. “Ada investasi yang sangat menguntungkan sampai 30% mengikutin juga. Jadi ibu-ibu harus pintar, jangan kena love scam, jangan kena seks scam seperti itu,” lanjutnya.
Ketua OJK Malang, Farid Faletehan, turut mengungkapkan data yang mengkhawatirkan terkait kerugian akibat penipuan digital. Ia menyebutkan bahwa dalam beberapa tahun terakhir, total kerugian masyarakat yang dilaporkan telah menembus lebih dari 100 triliun rupiah. “Sudah lebih dari 100 triliun kerugian yang diterima yang lapor ke IASC,” ungkapnya.
Farid menjelaskan bahwa OJK telah menyediakan Indonesia Anti Scam Center (IASC) yang dapat diakses melalui www.ojk.go.id dan www.asc.ojk.id sebagai pusat pelaporan penipuan. Ia menekankan pentingnya kecepatan pelaporan agar dana korban dapat segera diblokir sebelum dipindahkan pelaku ke berbagai rekening lain.
Data OJK juga menunjukkan bahwa setiap hari terdapat sekitar 1.000 laporan penipuan digital yang masuk. Kondisi ini menegaskan bahwa kejahatan finansial masih menjadi ancaman nyata yang terus berkembang. Oleh karena itu, literasi keuangan dinilai menjadi benteng utama masyarakat dalam menghadapi era digital.
Farid juga mengingatkan masyarakat agar lebih berhati-hati dalam penggunaan identitas pribadi seperti KTP, yang dapat disalahgunakan untuk pembukaan rekening atau pinjaman ilegal. Ia menekankan bahwa kewaspadaan harus menjadi budaya baru dalam ekosistem keuangan digital.














