Kanal24 – Dulu, media lahir dari newsroom. Hari ini, media bisa lahir dari kamar kos, akun Instagram, atau satu tim kecil berisi tiga orang dengan laptop dan koneksi internet.
Perubahan itu bukan lagi sekadar tren pinggiran. Perubahan ini sudah menjadi arus utama. Dalam beberapa tahun terakhir, publik Indonesia perlahan mengubah cara mengonsumsi informasi. Generasi muda semakin jarang membuka homepage media konvensional, sementara konten berita singkat di TikTok, Instagram Reels, YouTube Shorts, hingga X justru menjadi sumber informasi harian.
Fenomena inilah yang kemudian dikenal sebagai homeless media.
Istilah tersebut kembali ramai dibicarakan setelah Badan Komunikasi Pemerintah Republik Indonesia (Bakom RI) mengundang sejumlah pelaku new media dalam forum komunikasi publik beberapa waktu lalu. Kepala Bakom RI, Muhammad Qodari, menyebut langkah itu sebagai respons atas perubahan pola komunikasi masyarakat yang bergeser dari media konvensional menuju platform digital.
Dalam forum tersebut, Bakom RI menyebut sejumlah nama media digital populer seperti Narasi, Folkative, Indozone, USS Feeds, Kok Bisa?, GNFI, hingga Bapak2ID sebagai bagian dari ekosistem new media yang sebelumnya dikenal sebagai homeless media.
Namun polemik muncul ketika beberapa media yang disebut justru memberikan klarifikasi bahwa mereka tidak pernah terlibat dalam forum tersebut. Situasi itu memicu diskusi publik lebih luas: sebenarnya apa itu homeless media, dan mengapa pemerintah mulai melirik mereka?
Media Tanpa “Rumah”
Secara sederhana, homeless media adalah media yang hidup dan berkembang di media sosial tanpa bergantung pada website utama sebagai pusat distribusi konten.
Kajian Remotivi menyebut homeless media sebagai media yang mengandalkan platform media sosial sebagai medium utama penyebaran informasi dan biasanya tidak memiliki struktur media formal seperti media arus utama.
Sementara itu, kajian dari Universitas Tarumanegara yang dikutip detikcom mendefinisikan homeless media sebagai “media tanpa rumah” karena bergantung pada platform pihak ketiga seperti Instagram, TikTok, X, atau YouTube. Jika platform itu hilang, maka kanal distribusinya juga ikut hilang.
Berbeda dengan media konvensional yang memiliki domain, server, newsroom, hingga sistem editorial yang panjang, homeless media tumbuh dengan pola yang jauh lebih cair. Mereka lahir langsung dari platform.
Karena itu, kekuatan utama homeless media bukan lagi infrastruktur, tetapi perhatian publik.
Mengapa Homeless Media Cepat Tumbuh?
Jawabannya sederhana: karena mereka memahami cara generasi digital mengonsumsi informasi.
Riset Vero ASEAN menyebut homeless media berkembang pesat karena mampu menyederhanakan isu kompleks menjadi konten cepat, visual, singkat, dan mudah dibagikan.
Di era attention economy, kecepatan sering kali lebih penting daripada kedalaman. Publik tidak lagi menunggu berita pagi atau membuka portal berita satu per satu. Informasi hadir langsung di timeline mereka.
Homeless media membaca perubahan itu lebih cepat dibanding banyak media tradisional.
Mereka memakai bahasa yang lebih santai, visual yang lebih dekat dengan budaya internet, dan pola distribusi yang sepenuhnya mengikuti algoritma platform.
Media seperti Folkative, USS Feeds, hingga Indozone berhasil membangun jutaan audiens karena mampu berbicara dengan gaya generasi media sosial.
Sebagian homeless media bahkan berkembang menjadi perusahaan media baru dengan tim kreatif, divisi komersial, hingga newsroom modern.
CEO Good News From Indonesia, Wahyu Aji, bahkan menyebut istilah homeless media mulai problematik karena banyak media digital saat ini sebenarnya telah memiliki legalitas dan struktur organisasi yang jelas.
Di Balik Viralitas, Ada Problem Besar
Meski tumbuh cepat, homeless media juga membawa persoalan serius.
Salah satu kritik terbesar adalah lemahnya standar verifikasi informasi. Banyak homeless media bergerak lebih cepat daripada proses cek fakta.
Sejumlah peneliti media menunjukkan bahwa sebagian homeless media lebih mengutamakan engagement dibanding verifikasi mendalam.
Masalah lainnya adalah akuntabilitas.
Tidak semua homeless media terdaftar di Dewan Pers atau memiliki mekanisme koreksi yang jelas ketika terjadi kesalahan informasi. Sebagian besar juga bekerja dengan struktur organisasi yang sangat kecil.
Kajian Humas Indonesia menyebut banyak homeless media hanya dijalankan oleh dua hingga lima orang dengan hierarki yang sangat pendek.
Di sisi lain, justru karena kecil dan fleksibel itulah mereka mampu bergerak lebih cepat daripada media konvensional.
Fenomena ini memunculkan dilema baru dalam dunia jurnalisme: publik menginginkan informasi cepat, tetapi kualitas informasi tetap membutuhkan proses verifikasi yang tidak singkat.
Mengapa Pemerintah Mulai Melirik?
Bakom RI tampaknya membaca satu realitas penting: perhatian publik hari ini berada di media sosial.
Dalam konferensi persnya, Qodari menyebut kelompok new media memiliki jangkauan yang sangat besar dengan total tayangan mencapai miliaran views setiap bulan.
Artinya, pemerintah mulai menyadari bahwa komunikasi publik tidak lagi cukup hanya melalui media arus utama.
Jika dulu kekuatan informasi berada pada televisi dan portal berita besar, hari ini distribusi perhatian publik tersebar di banyak akun digital.
Masalahnya, ketika pemerintah mulai masuk ke ruang homeless media, publik juga mulai mempertanyakan independensi mereka.
Apakah homeless media akan tetap menjadi suara alternatif? Atau justru perlahan berubah menjadi kepanjangan tangan narasi tertentu?
Pertanyaan itu penting karena kekuatan terbesar homeless media justru lahir dari kedekatan mereka dengan audiens, bukan dari kekuatan institusi.
Masa Depan Media Sedang Berubah
Fenomena homeless media sebenarnya menunjukkan satu hal besar: industri media sedang mengalami transformasi mendasar.
Media hari ini tidak lagi ditentukan oleh siapa yang punya gedung terbesar, tetapi siapa yang paling mampu merebut perhatian publik.
Di tengah perubahan itu, media konvensional dipaksa beradaptasi. Sementara homeless media juga menghadapi tantangan untuk membangun kredibilitas dan standar jurnalistik yang lebih kuat.
Karena pada akhirnya, perhatian publik bisa datang sangat cepat. Tapi kepercayaan publik dibangun jauh lebih lama.
Dan di era banjir informasi seperti sekarang, kepercayaan mungkin menjadi hal paling mahal dalam industri media digital.(din)














