Kanal24, Malang – Film Para Perasuk sukses mencuri perhatian dunia internasional setelah tampil di ajang bergengsi Sundance Film Festival 2026 yang dikenal luas sebagai panggung penting bagi film independen global. Karya sutradara Wregas Bhanuteja ini menjadi representasi kuat sinema Indonesia di panggung internasional dengan pendekatan cerita berbasis budaya lokal yang unik, berani, dan penuh makna mendalam.
Debut Internasional yang Mencuri Perhatian
Film yang juga dikenal dengan judul internasional Levitating ini secara resmi masuk dalam kategori World Cinema Dramatic Competition yang kompetitif. Keikutsertaan tersebut menempatkan Para Perasuk sejajar dengan film-film independen terbaik dunia dari berbagai negara dengan kualitas tinggi. Sundance sendiri dikenal sebagai festival prestisius yang menjadi tolok ukur kualitas film global, khususnya untuk karya non-mainstream dengan perspektif segar dan inovatif.
Baca Juga:
Film Review: “Project Hail Mary” – Harapan dari Antariksa

Eksplorasi Tradisi dan Konflik Sosial

Mengangkat latar desa fiktif Latas yang sarat nuansa budaya, film ini berfokus pada tradisi “pesta kerasukan” yang menjadi bagian kehidupan masyarakat setempat. Tradisi tersebut tidak hanya dimaknai sebagai unsur mistis semata, tetapi juga sebagai refleksi sosial yang kompleks tentang tekanan hidup, identitas budaya, serta dinamika komunitas yang terus berkembang. Narasi yang dibangun menghadirkan sudut pandang baru yang relevan terhadap praktik budaya lokal dalam konteks modern yang lebih luas.
Tokoh utama Bayu yang diperankan Angga Yunanda digambarkan sebagai pemuda dengan ambisi besar untuk menjadi perasuk terbaik di lingkungannya. Perjalanan karakter ini memperlihatkan konflik batin yang kuat, emosional, dan penuh tantangan sekaligus pencarian makna mendalam terhadap tradisi yang dijalani. Film ini juga diperkuat oleh akting Maudy Ayunda, Chicco Kurniawan, Anggun, serta Bryan Domani.
Produksi Besar dan Respons Global

Dari sisi produksi yang ambisius, Para Perasuk menghadirkan visual yang imersif dan artistik dengan melibatkan banyak penari serta figuran dalam adegan ritual yang megah. Detail koreografi yang kompleks dan atmosfer yang dibangun secara kuat menjadi salah satu kekuatan utama film ini dalam menciptakan pengalaman sinematik yang mendalam.
Tidak hanya itu, film ini juga mendapat respons positif dari penonton internasional, termasuk sambutan meriah dan apresiasi tinggi saat pemutaran perdananya berlangsung. Keberhasilan ini semakin mengukuhkan posisi Wregas Bhanuteja sebagai sineas berbakat yang konsisten mengangkat isu sosial melalui pendekatan sinematik yang kuat, relevan, dan berkarakter khas Indonesia.
Momentum Film Indonesia Mendunia

Capaian Para Perasuk menjadi bukti nyata bahwa cerita lokal Indonesia memiliki daya tarik global yang besar dan kompetitif di kancah internasional. Film ini dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia pada 2026 dan diharapkan mampu memperluas apresiasi terhadap film nasional sekaligus membuka jalan lebih luas bagi karya-karya Indonesia lainnya untuk tampil dan bersaing di panggung dunia yang semakin dinamis.
Kehadiran Para Perasuk di panggung internasional seperti Sundance Film Festival bukan sekadar pencapaian simbolik, melainkan sinyal konkret bahwa industri film Indonesia semakin matang dan kompetitif secara global. Melalui tangan kreatif Wregas Bhanuteja, film ini membuka ruang baru bagi eksplorasi budaya lokal yang dikemas dengan pendekatan sinematik modern. (wan)














