Kanal24, Malang – Menyelesaikan pendidikan doktoral sering dipandang sebagai perjalanan panjang yang penuh tekanan akademik. Di tengah tuntutan riset, publikasi ilmiah, hingga tanggung jawab pekerjaan, tidak sedikit mahasiswa doktor membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk menuntaskan studi mereka.
Namun di tengah tantangan tersebut, muncul cerita berbeda dari Dr. Dinna Hadi Sholikah, S.P., M.P., yang berhasil meraih predikat wisudawan terbaik Program Doktor Ilmu Pertanian Universitas Brawijaya (UB) pada Wisuda Periode XVIII Tahun Akademik 2025/2026 dengan IPK sempurna 4,00.
Perjalanan akademiknya terbilang cepat. Dinna mampu menyelesaikan jenjang S1 hingga S3 dalam waktu kurang dari sembilan tahun, meski tidak mengambil jalur fast track.
“Yang menyebabkan saya bisa studi kurang dari 9 tahun sampai S3 ini yaitu rajin. Tentunya kemudian tidak patah semangat, rajin konsultasi dengan dosen, kemudian kalau ada sesuatu yang dibingungkan saya tidak malu untuk bertanya kepada pihak-pihak yang kompeten di bidangnya,” ujarnya.
Baca juga : Wisudawan Terbaik UB, Kembangkan Alat Deteksi Jantung Mandiri
Meski demikian, perjalanan menuju gelar doktor tidak sepenuhnya berjalan ringan. Di tahun pertama menempuh studi doktoral, Dinna juga diterima sebagai CPNS dosen. Kondisi tersebut membuatnya harus menjalani dua tanggung jawab besar secara bersamaan: menyelesaikan studi sekaligus menjalankan tridarma perguruan tinggi.
“Yang membuat saya harus effort lebih itu bekerja sambil kuliah karena menyelesaikan studi dan juga menjalankan tridarma di institusi itu bukan hal yang mudah. Jadi waktu dan tenaga itu yang harus dimanajemen dengan baik sehingga bisa terselesaikan studinya kurang dari tiga tahun,” katanya.
Di balik capaian akademiknya, Dinna memilih fokus riset yang sangat dekat dengan persoalan riil masyarakat, khususnya sektor pertanian kopi rakyat di Indonesia. Dalam disertasinya, ia mengembangkan kajian terkait pemodelan spasial dan evaluasi lahan untuk melihat potensi pengelolaan perkebunan kopi berdasarkan kondisi lingkungan dan iklim.
Menurutnya, produktivitas kebun kopi rakyat di Indonesia masih sangat beragam karena dipengaruhi kondisi tanah, iklim, hingga pola pengelolaan petani yang berbeda-beda.
“Disertasi saya ini akan memberikan kontribusi nyata untuk semua petani di Indonesia khususnya petani kebun kopi rakyat. Karena untuk kebun rakyat itu sangat beragam sekali terkait pengelolaannya,” jelasnya.
Melalui riset tersebut, Dinna mencoba memetakan wilayah dengan tingkat potensi produksi kopi tinggi, sedang, hingga rendah. Hasil pemetaan itu diharapkan dapat membantu pengambilan kebijakan maupun rekomendasi pengelolaan kebun kopi yang lebih tepat sasaran.
“Di disertasi saya sudah ada zonasi atau lokasi-lokasi yang sangat potensial untuk produksi kopi. Yang potensial tinggi cukup dioptimalkan pengelolaannya, sedangkan yang produktivitasnya rendah perlu rekomendasi terkait bagaimana pengelolaan kopi yang baik sesuai kondisi alamnya,” ujarnya.
Pendekatan tersebut dinilai penting karena kopi menjadi salah satu komoditas strategis perkebunan Indonesia yang sebagian besar masih dikelola petani rakyat. Di tengah perubahan iklim dan tekanan produktivitas pertanian, pengelolaan berbasis data mulai dibutuhkan untuk menjaga keberlanjutan produksi.
Dinna juga menegaskan bahwa capaian akademik bukan akhir perjalanan. Ia mengaku ingin terus menekuni bidang pemodelan spasial dan evaluasi lahan dalam pengembangan riset pertanian ke depan.
“Dalam 10 tahun ke depan saya ingin menekuni bidang kepakaran saya yaitu pemodelan spasial dan evaluasi lahan sehingga nanti saya bisa meraih profesor di usia kurang dari 40 tahun,” katanya.
Baginya, ilmu pengetahuan harus mampu memberi dampak nyata bagi masyarakat. Karena itu, riset yang ia kembangkan diharapkan tidak berhenti di ruang akademik, tetapi benar-benar dapat membantu pengembangan sektor pertanian Indonesia, khususnya bagi petani kopi rakyat yang selama ini menjadi tulang punggung produksi nasional.(Din/Yor)














