Kanal24, Malang – Pemerintah menegaskan optimisme terhadap arah pertumbuhan ekonomi nasional di tengah derasnya kritik dan kekhawatiran sejumlah pengamat ekonomi. Purbaya Yudhi Sadewa bahkan melontarkan respons tajam terhadap pihak-pihak yang sebelumnya memprediksi ekonomi Indonesia akan melemah pada 2026.
Pernyataan tersebut muncul setelah ekonomi Indonesia mencatat pertumbuhan sebesar 5,61 persen pada kuartal I 2026. Angka ini dinilai menjadi sinyal kuat bahwa ekonomi domestik masih mampu bertahan di tengah tekanan global, perlambatan perdagangan internasional, hingga ketidakpastian geopolitik dunia.
Dalam konferensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), Purbaya menilai sebagian pengamat terlalu cepat menyimpulkan kondisi ekonomi nasional sedang menuju krisis. Menurutnya, realisasi pertumbuhan ekonomi justru menunjukkan arah yang berbeda dari berbagai prediksi pesimistis sebelumnya.
Baca juga:
Perempuan Jadi Sasaran Empuk Penipuan Digital, OJK Dorong Literasi Keuangan
Sindir Prediksi Pesimistis Pengamat
Purbaya mengatakan banyak prediksi ekonomi yang akhirnya tidak terbukti. Ia menyebut, ketika ekonomi Indonesia mampu tumbuh lebih tinggi, muncul lagi berbagai alasan baru untuk meragukan kondisi nasional.
Menurutnya, indikator pertumbuhan ekonomi saat ini memperlihatkan bahwa aktivitas ekonomi domestik masih bergerak kuat. Pemerintah juga mengklaim terus menjaga likuiditas, konsumsi masyarakat, serta pembiayaan dunia usaha agar momentum pertumbuhan tetap terjaga.
Ia menambahkan, pertumbuhan ekonomi tidak semata ditopang oleh belanja pemerintah. Sektor swasta disebut masih memiliki kontribusi dominan terhadap pergerakan ekonomi nasional.
“Yang dilihat jangan hanya program pemerintah. Sektor swasta juga bergerak dan itu porsinya besar,” ujar Purbaya dalam keterangannya.
Ekonomi 5,61 Persen Dinilai Jadi Titik Balik
Pemerintah memandang capaian pertumbuhan ekonomi kuartal I 2026 sebagai momentum penting untuk keluar dari stagnasi pertumbuhan di kisaran 5 persen yang berlangsung beberapa tahun terakhir.
Purbaya bahkan menyebut Indonesia mulai lepas dari “kutukan pertumbuhan 5 persen” karena mampu mencatat pertumbuhan lebih tinggi dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonomi Indonesia secara tahunan mencapai 5,61 persen. Angka tersebut lebih tinggi dibanding kuartal I 2025 yang berada di level 4,87 persen.
Meski demikian, pemerintah mengakui tantangan global masih cukup berat. Karena itu, penguatan sektor domestik dan dukungan terhadap industri berorientasi ekspor akan terus dilakukan agar pertumbuhan tetap stabil.
Pemerintah Jaga Optimisme Dunia Usaha
Selain menepis kritik pengamat, Purbaya juga meminta pelaku usaha tidak terjebak dalam ketakutan berlebihan terhadap kondisi ekonomi nasional. Pemerintah, kata dia, akan memastikan sistem perbankan memiliki likuiditas cukup agar dunia usaha tetap memperoleh akses pembiayaan.
Ia menilai narasi pesimistis yang terus berkembang justru dapat memengaruhi psikologi pasar dan menghambat ekspansi bisnis. Karena itu, pemerintah ingin menjaga kepercayaan publik sekaligus memastikan iklim usaha tetap kondusif di tengah situasi global yang belum sepenuhnya stabil. (nid)














