Kanal24, Malang – Di tengah derasnya arus informasi digital dan semakin kaburnya batas antara fakta, opini, hingga konten viral, kemampuan jurnalistik kini tidak lagi penting hanya bagi pekerja media. Mahasiswa pun dituntut memiliki kemampuan berpikir kritis, memahami proses verifikasi informasi, serta mampu menyampaikan fakta secara akurat dan bertanggung jawab di ruang publik digital yang bergerak sangat cepat.
Kesadaran itulah yang mendorong Fakultas Hukum Universitas Brawijaya menggelar pelatihan jurnalistik bagi mahasiswa, Kamis (7/5/2026). Kegiatan ini menjadi ruang pembelajaran bagi mahasiswa untuk memahami dasar-dasar peliputan, penulisan berita, hingga etika jurnalistik di era digital, sekaligus memperkuat kemampuan analitis dan literasi informasi di tengah maraknya disinformasi media sosial.
Direktur Disway Malang, Agung Pamujo, menegaskan bahwa tantangan terbesar jurnalisme digital saat ini adalah menjaga keseimbangan antara kecepatan dan kebenaran informasi.

“Jurnalisme digital ini kan kelebihannya adalah cepat. Itu bagus. Tapi sekali lagi jangan lupa sembilan prinsip dasar jurnalistik, salah satunya kebenaran itu yang paling penting,” ujarnya. Ia menambahkan, kecepatan tidak boleh mengorbankan akurasi dan kepentingan publik.
Agung juga menyoroti pentingnya menjunjung tinggi kode etik jurnalistik di tengah derasnya arus informasi digital. Menurutnya, media mainstream memiliki peran penting sebagai verifikator informasi. “Media mainstream itu memang perannya sebagai stempel untuk menyatakan ini benar atau tidak,” katanya. Ia juga menekankan bahwa mahasiswa perlu memiliki kemampuan berpikir kritis dan analitis sebagai bekal utama menjadi jurnalis di masa depan.
Sementara itu, Humas Fakultas Ilmu Budaya, Diah Titisari, menjelaskan bahwa pelatihan ini bertujuan mendorong mahasiswa aktif menulis dan mempublikasikan kegiatan kampus.
“Tujuannya untuk men-support mahasiswa supaya mereka rajin untuk menulis berita, baik kegiatan LKM, UKM, prestasi, maupun program lain,” jelasnya. Ia menyebut, pelatihan difokuskan pada dasar penulisan straight news dengan standar 5W1H serta penggunaan kutipan narasumber.

Diah juga mengapresiasi tingginya antusiasme peserta dalam mengikuti pelatihan. “Alhamdulillah antusiasmenya lumayan tinggi, bahkan melebihi ekspektasi kami. Mereka juga aktif bertanya dan sebagian sudah memiliki pengalaman di bidang jurnalistik,” ungkapnya. Ia berharap mahasiswa mampu menulis berita secara benar sesuai kode etik setelah mengikuti kegiatan ini.
Salah satu peserta, Zacky Firzatullah Nouvisya Bahri, mengaku mendapatkan banyak wawasan baru dari pelatihan tersebut. “Aku jadi tahu tata bahasa untuk bikin berita dan ternyata pengambilan foto itu sepenting itu untuk jadi hook berita,” ujarnya.

Ia menilai kemampuan jurnalistik sangat penting bagi mahasiswa, khususnya dalam melatih pola pikir kritis. “Kalau aku rate, sekitar 8 dari 10, karena bisa membuat pikiran kritis kita bertumbuh,” tambahnya.
Melalui pelatihan ini, mahasiswa diharapkan tidak hanya mampu menghasilkan informasi, tetapi juga memahami tanggung jawab dalam menyajikan berita yang akurat, berimbang, dan bermanfaat bagi publik. (qrn)














