Kanal24, Malang – Pertumbuhan startup dan bisnis digital di Kota Malang terus menunjukkan perkembangan positif dalam beberapa tahun terakhir. Didukung keberadaan kampus, komunitas kreatif, hingga talenta muda digital, Malang dinilai memiliki potensi besar menjadi salah satu pusat pengembangan ekosistem bisnis digital di Indonesia. Namun di tengah peluang tersebut, kolaborasi antar stakeholder masih menjadi tantangan penting agar startup lokal mampu berkembang lebih besar dan berkelanjutan.
Menjawab kebutuhan tersebut, kegiatan Taka Connect Malang bertajuk “Naik Kelas Bareng: Growing Malang’s Business Ecosystem” digelar di Aula Gedung A Lantai 4 Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya, Senin (11/5/2026). Kegiatan yang diorganisasi oleh Taka Lab dan didukung oleh Komdigi, Glasida Spark, serta Laboratorium Kewirausahaan dan Inovasi FIA UB ini menjadi ruang kolaborasi antara pemerintah, kampus, komunitas, dan pelaku startup untuk memperkuat ekosistem bisnis digital di Kota Malang.
Baca juga:
Lab Connect, Dorong Aktivasi Laboratorium FIA UB

Taka Connect Bangun Kolaborasi Ekosistem Digital Malang
Adinda Ragilia selaku Partnership Lead Partnership & Investment Ecosystem KOMDIGI mengatakan acara tersebut bertujuan membangun koneksi antar pelaku ekosistem digital agar mampu menciptakan kolaborasi yang lebih luas dan berkelanjutan. Menurutnya, Malang memiliki potensi besar dalam pengembangan startup dan bisnis digital, namun masih banyak founder yang kesulitan membawa bisnis mereka berkembang ke tahap lebih besar.
“Kita ingin menjadi sebuah platform untuk mengoneksikan beberapa pemain ekosistem digital khususnya di Malang mulai dari pemerintah, akademisi, komunitas, dan beberapa ecosystem builder lainnya,” ujarnya.
Adinda menjelaskan Taka Connect hadir sebagai titik temu bagi para pelaku ekosistem bisnis digital untuk saling berbagi pengalaman, memperluas relasi, sekaligus mencari peluang kerja sama. Ia menilai kolaborasi antar stakeholder menjadi kunci penting dalam membangun ekosistem bisnis yang sehat dan kompetitif.
“Kolaborasi penting banget karena kita tidak bisa bergerak sendirian kalau ingin membangun ekosistem yang lebih baik lagi,” katanya.
Menurutnya, setiap pihak memiliki peran berbeda dalam pengembangan bisnis digital di Malang. Kampus berperan menghasilkan talenta digital, komunitas menjadi wadah berbagi pengalaman, sedangkan pemerintah hadir melalui berbagai program akselerasi dan dukungan pengembangan startup.

FIA UB Kembangkan Startup Mahasiswa Sejak 2014
Kepala Laboratorium Kewirausahaan dan Inovasi FIA UB, Ari Irawan menyebut FIA UB telah mengembangkan ekosistem startup mahasiswa sejak 2014. Melalui laboratorium kewirausahaan, mahasiswa didorong membangun usaha digital sejak masih berada di bangku kuliah.
“Laboratorium kewirausahaan dan inovasi ini memang mempunyai program untuk menumbuhkan minat wirausaha terutama usaha digital,” jelasnya.
Ari menambahkan pihak kampus tidak hanya memberikan stimulasi awal bagi startup mahasiswa, tetapi juga menyediakan pendampingan bisnis secara berkelanjutan. Mahasiswa dapat mengakses konsultasi mengenai business model, marketing, financing, hingga design thinking bersama mentor dan praktisi startup di Malang.
Selain itu, FIA UB juga menyiapkan program lanjutan agar startup mahasiswa dapat terhubung dengan venture capital maupun angel investor. Menurut Ari, langkah tersebut penting agar startup yang dibangun mahasiswa tidak berhenti hanya pada tahap ide atau prototipe.
Melalui kegiatan Taka Connect Malang, penyelenggara berharap mahasiswa dan startup lokal semakin aktif membangun relasi, meningkatkan kemampuan bisnis digital, serta menciptakan usaha yang scalable dan sustainable. Adinda juga mengajak peserta terus mengikuti rangkaian kegiatan Taka Connect sepanjang tahun 2026 untuk memperluas wawasan dan peluang kolaborasi bisnis.(cay)














