Kanal24, Malang – Perubahan iklim kini tidak hanya berdampak pada cuaca ekstrem dan kenaikan suhu bumi, tetapi juga memicu munculnya ancaman kesehatan baru yang semakin mengkhawatirkan. Salah satunya adalah penyebaran Naegleria fowleri, ameba pemakan otak yang mulai ditemukan di lebih banyak wilayah dunia akibat suhu air tawar yang semakin hangat.
Ameba mikroskopis ini dikenal sangat mematikan karena dapat menyebabkan Primary Amoebic Meningoencephalitis (PAM), infeksi otak langka dengan tingkat kematian mencapai lebih dari 90 persen. Organisme tersebut hidup di air tawar hangat seperti danau, sungai, kolam renang yang tidak terawat, hingga mata air panas. Infeksi biasanya terjadi ketika air yang terkontaminasi masuk melalui hidung saat berenang atau menyelam.
Baca juga:
Kenapa Perempuan Sering Merasa Bersalah?
Penyebaran Ameba Kini Semakin Meluas
Selama bertahun-tahun, kasus infeksi Naegleria fowleri banyak ditemukan di wilayah tropis dan subtropis. Namun, pemanasan global membuat habitat ideal ameba ini meluas hingga ke daerah yang sebelumnya dianggap terlalu dingin.
Data penelitian menunjukkan kasus mulai muncul di wilayah yang sebelumnya jarang mengalami infeksi serupa. Kondisi ini menjadi sinyal bahwa perubahan suhu global telah mengubah pola persebaran organisme berbahaya tersebut.
Penelitian lain juga menunjukkan lokasi penyebaran kasus bergerak semakin jauh ke wilayah dengan suhu lebih rendah setiap tahunnya. Dengan suhu air yang terus meningkat akibat krisis iklim, risiko infeksi diperkirakan akan semakin besar secara global.
Gejala Sulit Dibedakan dengan Meningitis
Salah satu tantangan terbesar dari infeksi PAM adalah gejalanya yang sangat mirip dengan meningitis biasa. Penderita umumnya mengalami sakit kepala berat, demam tinggi, mual, muntah, leher kaku, hingga kejang dan halusinasi.
Karena gejalanya sulit dikenali, banyak kasus terlambat ditangani. Padahal, infeksi dapat berkembang sangat cepat hanya dalam hitungan hari setelah paparan.
Ameba ini tidak berbahaya jika tertelan melalui mulut karena dapat dihancurkan asam lambung. Bahaya muncul ketika air yang terkontaminasi masuk melalui rongga hidung, lalu organisme bergerak menuju otak melalui saraf penciuman.
Indonesia Dinilai Memiliki Faktor Risiko Tinggi
Indonesia termasuk negara yang dinilai memiliki kondisi lingkungan yang mendukung pertumbuhan Naegleria fowleri. Suhu air tawar yang hangat, sanitasi yang belum merata, serta penggunaan air sungai atau sumur untuk kebutuhan sehari-hari menjadi faktor risiko yang perlu diwaspadai.
Sejumlah ahli epidemiologi menilai kemungkinan kasus infeksi di Indonesia bisa saja terjadi namun belum terdiagnosis dengan baik. Selain itu, cuaca ekstrem seperti banjir dan kekeringan akibat perubahan iklim juga dinilai memperbesar peluang penyebaran patogen berbahaya di lingkungan air.
Pentingnya Kesadaran dan Pencegahan
Meski tergolong langka, infeksi ameba pemakan otak tetap perlu mendapat perhatian serius karena tingkat fatalitasnya sangat tinggi. Masyarakat disarankan lebih berhati-hati saat berenang di air tawar hangat, terutama di lokasi yang tidak terawat atau memiliki sanitasi buruk.
Penggunaan penjepit hidung saat berenang, menghindari menyelam di air yang kotor, serta memastikan kolam renang memiliki sistem kebersihan yang baik menjadi langkah pencegahan penting untuk mengurangi risiko infeksi.














