Kanal24, Malang – Konflik geopolitik di Timur Tengah mulai memberi tekanan besar terhadap perekonomian global. Sebanyak 27 negara dilaporkan mengajukan akses pendanaan darurat kepada Bank Dunia setelah perang yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat memicu gangguan rantai pasok energi hingga distribusi pangan dunia.
Pengajuan tersebut dilakukan melalui mekanisme pembiayaan cepat yang memungkinkan negara berkembang memperoleh bantuan dana dalam waktu singkat saat menghadapi krisis ekonomi maupun bencana global. Sejumlah negara disebut mulai mengalami lonjakan harga energi, penurunan pendapatan ekspor, hingga ancaman inflasi pangan akibat terganggunya distribusi pupuk internasional.
Bank Dunia juga disebut telah menyetujui sebagian permohonan pembiayaan baru sejak konflik memanas pada awal 2026. Sementara negara lainnya masih menjalani proses administrasi dan verifikasi sebelum pencairan dana dilakukan.
Baca juga:
Hubungan Internasional UB Soroti Dinamika Asia Barat 2026
Beberapa negara di kawasan Afrika dan Timur Tengah menjadi pihak yang paling terdampak. Kenaikan harga bahan bakar domestik, melemahnya nilai tukar mata uang, hingga terganggunya perdagangan minyak menjadi faktor utama yang memicu kebutuhan dana darurat tersebut.
Presiden Bank Dunia, Ajay Banga, sebelumnya menyatakan lembaganya telah menyiapkan skema pembiayaan krisis bernilai puluhan miliar dolar AS untuk membantu negara-negara yang terdampak konflik global. Dukungan itu diproyeksikan terus meningkat apabila situasi geopolitik dunia semakin memburuk dalam beberapa bulan mendatang.
Di sisi lain, lembaga keuangan internasional juga memperkirakan jumlah negara yang mengajukan bantuan darurat masih akan bertambah. Banyak negara berkembang dinilai berada dalam posisi rentan karena tekanan inflasi, ketidakpastian harga energi, dan perlambatan ekonomi global yang terus berlangsung.
Pengamat ekonomi menilai konflik berkepanjangan di Timur Tengah berpotensi memperbesar risiko krisis ekonomi di sejumlah negara berkembang. Selain memicu kenaikan harga minyak dunia, perang juga dikhawatirkan mengganggu stabilitas perdagangan internasional dan memperlambat pemulihan ekonomi pascapandemi.














