Kanal24, Malang – Pemulihan pasien penyalahgunaan NAPZA kerap menghadapi tantangan besar ketika pasien kembali berhadapan dengan dorongan impulsif untuk mengonsumsi zat adiktif. Karena itu, proses rehabilitasi membutuhkan dukungan psikologis agar pasien mampu mengontrol diri dan menjaga proses pemulihan tetap berjalan.
Kondisi tersebut yang mendorong mahasiswa Psikologi Universitas Brawijaya (UB) menggelar penyuluhan bertema Peningkatan Kontrol Diri dalam Menghadapi Dorongan Impulsif Mengonsumsi NAPZA di Ruang Walet RS Dr. Radjiman Wediodiningrat Lawang, Jumat (8/5/2026).
Kegiatan ini dibimbing oleh Dr. Sumi Lestari, S.Psi., M.Si dan melibatkan tim mahasiswa yang terdiri dari Clara Florita Insania Samosir, Muthia Fakhira Thirafi, dan Ninda Cattleya. Mereka menghadirkan pendekatan edukatif yang lebih interaktif agar materi lebih mudah dipahami pasien rehabilitasi.
Perwakilan tim mahasiswa, Muthia Fakhira Thirafi, mengatakan penyuluhan tersebut menjadi bagian dari upaya mendukung pemulihan pasien secara menyeluruh.
“Urgensi kegiatan penyuluhan kepada pasien NAPZA adalah sebagai upaya agar mendukung pemulihan pasien NAPZA seutuhnya dan mencegah agar tidak mengonsumsi NAPZA kembali,” ujarnya kepada Kanal24 (24/5/2026).

Menurut Muthia, pasien rehabilitasi sering menghadapi dorongan impulsif yang muncul sewaktu-waktu. Karena itu, kemampuan mengontrol diri menjadi aspek penting dalam menjaga proses pemulihan.
Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa menyampaikan materi mengenai kontrol diri, dorongan impulsif, hingga strategi coping untuk menghadapi keinginan kembali menggunakan NAPZA. Materi disampaikan menggunakan bahasa sederhana dan contoh yang dekat dengan keseharian pasien agar lebih mudah dipahami.
Sebelum sesi utama dimulai, mahasiswa juga mengajak pasien mengikuti ice breaking untuk membangun suasana yang lebih nyaman dan membantu pasien lebih fokus mengikuti kegiatan.
Penyuluhan berlangsung interaktif dengan bantuan media presentasi dan poster edukasi. Selama kegiatan berlangsung, pasien terlihat aktif menjawab pertanyaan dan mengikuti diskusi bersama mahasiswa.
Muthia menjelaskan program tersebut diharapkan dapat membantu pasien lebih siap menghadapi dorongan impulsif setelah menjalani rehabilitasi.
“Target keberlanjutan program diharapkan dapat meningkatkan kontrol diri para pasien NAPZA agar bisa menahan dorongan tidak kembali mengonsumsi NAPZA dan dapat lebih baik dalam mengontrol dorongan-dorongan impulsif yang muncul pada pasien,” katanya.
Kegiatan ini juga menjadi bagian dari kontribusi mahasiswa dalam mendukung isu kesehatan mental dan rehabilitasi sosial di masyarakat. Melalui pendekatan psikologis yang lebih dekat dan komunikatif, mahasiswa mencoba menghadirkan edukasi yang relevan dengan kebutuhan pasien rehabilitasi.
Harapannya, pasien dapat membangun kehidupan yang lebih sehat dan produktif setelah menjalani masa pemulihan serta mampu menghindari penggunaan NAPZA di kemudian hari.(Din)














