Kanal24, Malang – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali mengalami tekanan pada perdagangan Jumat, 29 Mei 2026. Kurs dolar AS tercatat berada di kisaran Rp17.855 hingga Rp17.857, membuat pasar semakin waspada terhadap potensi pelemahan lanjutan menuju level psikologis Rp18.000.
Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa tekanan terhadap rupiah belum mereda dalam beberapa pekan terakhir. Setelah sebelumnya ditutup di sekitar Rp17.760 per dolar AS, mata uang Garuda kembali melemah di tengah meningkatnya ketidakpastian global dan sentimen pasar internasional.
Sepanjang perdagangan harian, rupiah bergerak dalam rentang Rp17.772 hingga Rp17.868 per dolar AS. Sementara dalam periode 52 minggu terakhir, pergerakan dolar AS terhadap rupiah tercatat berada di level Rp16.085 hingga hampir menyentuh Rp18.000.
Baca juga:
Pensiunan ASN Terima Gaji ke-13 Tanpa Potongan
Kondisi ini sekaligus memperlihatkan besarnya tekanan eksternal yang sedang dihadapi pasar keuangan Indonesia, terutama akibat eskalasi geopolitik dan penguatan permintaan aset safe haven global.
Konflik Timur Tengah Jadi Pemicu Utama
Meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah menjadi salah satu faktor dominan yang mendorong penguatan dolar AS terhadap mayoritas mata uang dunia, termasuk rupiah.
Pasar global menyoroti situasi panas antara Amerika Serikat dan Iran yang memicu kekhawatiran terhadap stabilitas kawasan serta jalur distribusi energi dunia. Ancaman gangguan di Selat Hormuz dan Laut Oman ikut meningkatkan ketidakpastian pasar, terutama karena wilayah tersebut menjadi jalur vital perdagangan minyak internasional.
Kondisi tersebut membuat investor global cenderung mengalihkan dana ke aset yang dianggap lebih aman, termasuk dolar AS. Akibatnya, mata uang negara berkembang mengalami tekanan cukup besar dalam beberapa hari terakhir.
Kenaikan harga minyak dunia juga menjadi faktor tambahan yang memperburuk sentimen terhadap rupiah. Indonesia sebagai negara importir energi dinilai cukup rentan terhadap lonjakan harga komoditas global, sehingga tekanan terhadap nilai tukar semakin terasa.
Dolar AS Masih Perkasa di Tengah Ketidakpastian
Meski secara global indeks dolar AS sempat mengalami koreksi tipis terhadap sejumlah mata uang utama dunia, posisi dolar terhadap rupiah tetap menunjukkan dominasi kuat. Kondisi ini dipengaruhi oleh tingginya permintaan dolar di pasar domestik serta meningkatnya kekhawatiran investor terhadap risiko eksternal.
Sejumlah analis menilai pelemahan rupiah saat ini berbeda dengan krisis moneter 1998. Fundamental ekonomi Indonesia dinilai masih relatif kuat, mulai dari perbankan, cadangan devisa, hingga stabilitas fiskal pemerintah.
Namun demikian, tekanan psikologis pasar tetap menjadi faktor yang tidak bisa diabaikan. Ketika kurs mendekati Rp18.000 per dolar AS, sentimen publik dan dunia usaha berpotensi ikut terpengaruh, terutama pada sektor impor, industri manufaktur, dan harga kebutuhan berbasis dolar.
Pelaku pasar kini menanti langkah lanjutan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, termasuk melalui intervensi pasar maupun kebijakan moneter yang lebih agresif.
Rupiah dan Tantangan Ekonomi Nasional
Melemahnya rupiah bukan hanya persoalan angka di pasar valuta asing. Dampaknya dapat merembet pada berbagai sektor ekonomi nasional, mulai dari kenaikan biaya impor bahan baku, tekanan inflasi, hingga meningkatnya beban utang berbasis dolar.
Di sisi lain, pelemahan rupiah juga dapat memberi keuntungan sementara bagi sektor ekspor karena produk Indonesia menjadi lebih kompetitif di pasar internasional. Meski begitu, manfaat tersebut belum tentu cukup untuk menutupi tekanan yang muncul akibat ketidakstabilan global.
Jika konflik geopolitik terus memanas dan pasar internasional masih dibayangi ketidakpastian, peluang rupiah untuk kembali tertekan tetap terbuka lebar dalam jangka pendek.
Pemerintah dan otoritas moneter kini berada dalam posisi penting untuk menjaga kepercayaan pasar. Sebab di tengah gejolak global, stabilitas psikologis investor sering kali menjadi penentu utama arah pergerakan mata uang suatu negara.














