Oleh : Dr. Akhmad Muwafik Saleh*
Thawaf wada adalah thawaf perpisahan, yaitu setelah jamaah haji atau umrah melaksanakan serangkaian ibadah di Tanah Suci, semenjak mereka datang, pada saatnya mereka berada di penghujung waktu untuk berpisah dengan Tanah Suci. Thawaf wada adalah bentuk penghormatan tertinggi seorang tamu kepada tuan rumah (Baitullah/Allah SWT). Ketika kita berkunjung ke rumah seseorang, sangat tidak sopan jika kita pergi begitu saja tanpa pamit. Thawaf wada adalah momen “berpamitan” resmi seorang hamba sebelum meninggalkan Tanah Suci. Selayaknya sebagai seorang tamu, saat awal ada sambutan kedatangan dan setelah menikmati hidangan serta jamuan Allah berupa berbagai peristiwa dan kejadian dengan segala suka dukanya, maka saatnya mereka berpamitan untuk kembali ke tanah air. Tempat realitas sesungguhnya yang menanti pemenuhan komitmen dan janji saat di Tanah Suci.
Melakukan thawaf wada ini menyadarkan kita bahwa segala sesuatu di dunia ini bersifat sementara. Pertemuan pasti akan diakhiri dengan perpisahan. Sesi terakhir mengelilingi Ka’bah ini menjadi refleksi kecil tentang kematianābahwa suatu saat nanti, kita akan melakukan “perpisahan besar” dengan dunia ini dan kembali kepada Sang Pencipta.
Sekalipun kita sudah pamitan, tetapi hati tidak benar-benar berpisah. Karena buktinya setiap seseorang yang baru saja pulang dari Tanah Suci masih saja selalu ingin kembali lagi. Sebuah pepatah Arab mengatakan:
ŲØŁŁŁŲÆŁŲ±Ł Ų§ŁŲ“ŁŁŁŁŁŁ ŁŁŁŁŁŁŁ Ų§ŁŁŁŁŁŁŲ§Ų”Ł
“Sesuai dengan besarnya kerinduan, begitulah indahnya perjumpaan.”

Mengapa demikian? Karena yang dihidupkan di Tanah Suci bukan lagi rasionalitas, melainkan hati yang sedang diaktifkan. Seorang teman mengatakan, kalau ingin berwisata bukanlah di Tanah Suci tempatnya karena Anda tidak akan mendapat apa-apa. Tanah Suci bukanlah tempat berwisata, melainkan perjalanan spiritual seseorang, upaya menghidupkan kembali hati dan spiritualitas yang selama ini mungkin terbenam oleh kekuatan rasionalitas kita. Karena rasionalitas yang terus-menerus kita pergunakan dan kita banggakan hanya akan melemahkan sensitivitas hati dalam menangkap isyarat-isyarat lembut petunjuk Allah atas berbagai solusi problematika kehidupan kita.
Tanah Suci Makkah adalah tempat kembalinya hati yang selama ini rindu kembali ataupun hati yang selama ini jauh dari kesejukan dan ketenangan karena kelana hidup rasional-materialistik. Tanah Suci memanggil setiap jiwa untuk kembali merenungi fitrahnya, sebagaimana saat di awal penciptaan:
ŁŁŲ„ŁŲ°Ū” Ų£ŁŲ®ŁŲ°Ł Ų±ŁŲØŁŁŁŁ Ł ŁŁŪ¢ ŲØŁŁŁŁŁ Ų”ŁŲ§ŲÆŁŁ Ł Ł ŁŁ ŲøŁŁŁŁŲ±ŁŁŁŁ Ū” Ų°ŁŲ±ŁŁŁŁŁŲŖŁŁŁŁ Ū” ŁŁŲ£ŁŲ“Ū”ŁŁŲÆŁŁŁŁ Ū” Ų¹ŁŁŁŁŁ°Ł Ų£ŁŁŁŁŲ³ŁŁŁŁ Ū” Ų£ŁŁŁŲ³Ū”ŲŖŁ ŲØŁŲ±ŁŲØŁŁŁŁŁ Ū”Ū ŁŁŲ§ŁŁŁŲ§Ł ŲØŁŁŁŁŁ° Ų“ŁŁŁŲÆŪ”ŁŁŲ¢Ū Ų£ŁŁ ŲŖŁŁŁŁŁŁŁŲ§Ł ŁŁŁŪ”٠٠ٱŁŪ”ŁŁŁŁŁ°Ł ŁŲ©Ł Ų„ŁŁŁŁŲ§ ŁŁŁŁŁŲ§ Ų¹ŁŁŪ” ŁŁŁ°Ų°ŁŲ§ ŲŗŁŁ°ŁŁŁŁŁŁŁ
Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi (tulang belakang) anak cucu Adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap roh mereka (seraya berfirman), āBukankah Aku ini Tuhanmu?ā Mereka menjawab, āBetul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi.ā (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari Kiamat kamu tidak mengatakan, āSesungguhnya ketika itu kami lengah terhadap ini.ā (QS. Al-A’raf: 172)
Di Tanah Suci, jiwa-jiwa itu diajak berintrospeksi kembali menemukan kedirian yang sejati. Tentang apa yang selama ini mungkin jarang dipedulikan. Menemukan kembali sebuah pertanyaan mendasar filosofi hidup: dari mana kita ada, untuk apa kita hidup, dan ke mana kita akan kembali.
Namun kita tetaplah sadar bahwa setiap perjumpaan pasti akan mendapati perpisahan. Inilah fitrah kehidupan, tidak ada satu pun yang abadi. Disaat kita menjejakkan kaki pertama di Tanah Suci, itu adalah panggilan jiwa untuk kembali pada fitrahnya, menuju titik pusat utama setiap jiwa yang beriman, kiblat dari setiap sujud kita.
Dengan adanya thawaf wada, Rasulullah saw seakan ingin mengajarkan kepada kita bahwa titik terakhir setiap aktivitas adalah Ka’bah. Ini adalah simbol bahwa Allah harus tetap menjadi pusat dari segala aktivitas, keputusan, dan tujuan hidup kita. Bahwa setelah kita melakukan banyak perjuangan dan komitmen perubahan yang disampaikan kepada Allah secara jujur, maka kita diingatkan bahwa setelah pulang nanti kita harus tetap menjadikan Allah selalu ada dalam hati, pikiran, tindakan, serta keputusan kita.
Thawaf wada adalah sebuah garis finish sekaligus garis start. Ia adalah akhir dari perjalanan ibadah fisik di Makkah, namun menjadi awal dari perjalanan spiritual yang sesungguhnya dalam mengarungi kehidupan nyata.

Pulang dari Tanah Suci berarti kembali menghadapi realitas kehidupan sehari-hari dengan segala ujian, godaan, dan dinamikanya. Thawaf wada menjadi “perisai spiritual” terakhir. Maknanya adalah membawa atmosfer kesucian, kedamaian, dan ketaatan yang dirasakan di Masjidil Haram ke dalam rumah tangga, tempat kerja, dan masyarakat.
Bawalah kesucian Tanah Suci dengan kenangan terbaik. Terimalah setiap jamuan-Nya dengan hati bersih, prasangka baik (husnudhan), dan rasa syukur yang tinggi kepada Allah swt. Karena setiap kejadian dan peristiwa yang dialami di Tanah Suci adalah jamuan kasih sayang-Nya untuk tetamu-Nya. Ketetapan-Nya adalah wujud kasih sayang-Nya. Ceritakan setiap kebaikan Allah kepada para hamba-Nya saat di tanah air.
ŁŁŲ£ŁŁ ŁŁŲ§ ŲØŁŁŁŲ¹Ū”Ł ŁŲ©Ł Ų±ŁŲØŁŁŁŁ ŁŁŲŁŲÆŁŁŲ«Ū”
Dan terhadap nikmat Tuhanmu hendaklah engkau nyatakan (dengan bersyukur). (QS. Adh-Dhuhaa: 11)
Dr. Akhmad Muwafik Saleh*
Penulis adalah Dosen UB – Pembimbing Ibadah Haji KBIHU UB – Pengasuh Pesantren Mahasiswa Tanwir al Afkar Tlogomas Malang














