Kanal24, Malang – Diskon besar, flash sale, cashback, hingga promo tanggal kembar menjadi strategi yang akrab ditemui masyarakat saat berbelanja di era digital. Beragam penawaran tersebut sering kali menciptakan kesan bahwa membeli produk dengan harga lebih murah selalu berarti lebih hemat. Padahal, tidak semua produk diskon memberikan keuntungan yang sesungguhnya bagi konsumen.
Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Brawijaya, Ivan Bimantoro Wachid, mengingatkan masyarakat agar tidak hanya terpaku pada harga saat mengambil keputusan pembelian. Menurutnya, konsumen perlu melihat manfaat dan nilai yang diperoleh dari suatu produk dalam jangka panjang.
“Harga sering menjadi faktor pertama yang dilihat konsumen. Ketika melihat harga yang murah, muncul kesan bahwa produk tersebut lebih hemat dan lebih menguntungkan,” ujarnya.
Ivan menjelaskan, harga memang menjadi informasi yang paling mudah ditangkap ketika seseorang mempertimbangkan sebuah produk atau jasa. Namun, keputusan pembelian yang hanya didasarkan pada harga berpotensi membuat konsumen mengabaikan faktor lain yang tidak kalah penting, seperti kualitas, daya tahan produk, maupun layanan purna jual.
Akibatnya, banyak orang merasa telah berhemat karena memperoleh harga lebih murah, padahal dalam jangka panjang justru mengeluarkan biaya yang lebih besar. Produk yang cepat rusak, membutuhkan perbaikan berulang, atau harus sering diganti dapat membuat pengeluaran menjadi lebih tinggi dibandingkan membeli produk yang kualitasnya lebih baik sejak awal.
“Produk yang sedikit lebih mahal tetapi lebih tahan lama dan lebih efisien sering kali justru menjadi pilihan yang lebih ekonomis dibandingkan produk murah yang harus berulang kali diganti,” jelasnya.
Fenomena tersebut semakin kompleks di tengah pesatnya perkembangan media sosial dan platform belanja daring. Konsumen kini tidak hanya berhadapan dengan promosi dari perusahaan, tetapi juga pengaruh influencer, algoritma media sosial, hingga tren yang berkembang di ruang digital.
Menurut Ivan, kondisi tersebut membuat keputusan pembelian tidak lagi sepenuhnya didasarkan pada kebutuhan atau fungsi produk. Dalam banyak kasus, konsumen terdorong membeli barang karena mengikuti tren atau ingin memperoleh pengakuan sosial.
Salah satu fenomena yang banyak muncul adalah penggunaan produk HDC (High Detail Copy) atau barang tiruan yang menyerupai merek premium. Bagi sebagian konsumen, simbol dan citra yang melekat pada sebuah merek sering kali menjadi pertimbangan yang lebih dominan dibandingkan manfaat produk itu sendiri.
“Yang sering terlihat sekarang adalah keinginan memiliki simbol atau label tertentu. Fungsi produk kadang justru menjadi pertimbangan kedua,” katanya.
Ivan menilai kondisi tersebut menunjukkan pentingnya memahami perbedaan antara harga dan nilai. Harga hanya menunjukkan jumlah uang yang harus dibayarkan, sedangkan nilai mencerminkan manfaat, kualitas, kenyamanan, serta pengalaman yang diperoleh selama menggunakan produk tersebut.
Karena itu, ia mendorong masyarakat untuk menerapkan prinsip value for money saat berbelanja. Konsumen tidak harus selalu membeli produk yang paling murah ataupun yang paling mahal, melainkan produk yang mampu memberikan manfaat paling sesuai dengan kebutuhan.
“Yang perlu dipahami konsumen adalah perbedaan antara harga dan nilai. Produk yang terlihat lebih mahal belum tentu lebih boros jika manfaat yang diberikan jauh lebih besar dalam jangka panjang,” ujarnya.
Di tengah derasnya promosi digital yang diterima masyarakat setiap hari, Ivan menilai literasi konsumen menjadi semakin penting. Kemampuan menilai informasi secara kritis akan membantu masyarakat terhindar dari keputusan impulsif yang hanya didasarkan pada diskon atau promosi sesaat.
Menurutnya, konsumen yang cerdas adalah mereka yang mampu membedakan antara keinginan dan kebutuhan, serta mempertimbangkan manfaat jangka panjang sebelum memutuskan membeli suatu produk.
“Pada akhirnya, keputusan pembelian yang bijak bukan soal membeli yang paling murah atau yang paling mahal, tetapi memilih produk yang memberikan manfaat paling sesuai dengan kebutuhan,” pungkasnya.(Din
Kontributor: Rosita Alya, announcer UB Radio sekaligus mahasiswi Program Studi Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Brawijaya angkatan 2023.














